My Lumpuh Husband

My Lumpuh Husband
19


__ADS_3

Haiii semuanyaaa, jangan lupa vote dan komen ya. Unch-unch aku sayang kaliaaaaan💃✨


...Enjoy the reading🍃...


.......


.......


.......


.......


Author Pov🍃.


Malam tiba dirumah Jihan dan Kardi, mereka tengah melaksanakan makan malam bersama, Jihan yang asik menyuapi Adit sedangkan Kardi sibuk makan sendiri.


Adit menatap datar kosong Bundanya, entah kenapa dia merasa rindu pada seseorang. Tapi dia gatau sama siapa dia rindu gituloh.


"Bund, kata Anya dia mau mampir bentar lagi." celetuk Kardi seraya menyuap nasi kemulutnya. Jihan menoleh senang "Beneran!? Yes. Dit nanti Anya datang loh." ujarnya ssmangat.


Adit menatap kosong bundanya, raut mukanya masih saja datar dan dia juga mengunyah makannya pelan, tak memperdulikan ucapan Bundanya.


"Anya belum berangkat ya?" tanya Jihan kepo.


"Belum, katanya dia nginap disini terus besok pagi mau berangkat ke Bandara. Minta kita yang anterin."


"Loh? Kenapa gak minta sama orang tuanya?"


Kardi tersenyum "Aulia dan Azran sedang sibuk dengan persiapan pernikahan Fian. Jadi mereka tak bisa mengurusi Anya, lagipula Anya sudah menjadi tanggung jawab kita." jelas Kardi.


Jihan mengangguk "Benar juga." gumamnya.


Tok tok.

__ADS_1


Mereka menoleh, Kardi langsung berjalan menuju pintu guna melihat siapa yang bertamu. Dia sampai dan hendak membuka kunci pintu rumahnya.


"Assalamualaikum." ternyata Anya sudah sampai.


"Waalaikum sallam. Masuk yuk Nak, koper kamu cuma 1 aja ni?" tanya Kardi langsung mengambil alih koper Anya. Anya mengangguk pelan "Iya Yah." jawabnya sopan.


Anya menyalim Kardi kemudian berjalan mendekati Jihan, dia langsung menyalami bundanya itu "Bund, Adit nya nakal gak?" tanya Anya sembari menciumi pipi Adit.


Jihan tertawa pelan "Enggak lah, Adit mah gak nakal ya." jawabnya lembut.


Anya tersenyum senang, dia mengelus rambut Adit dengan penuh kasih sayang, Adit sendiri kini menatap sepenuhnya pada Anya. "Hai suami, udah makan malam toh ternyata." ujarnya sembari menyeka bubur disudut bibir Adit.


Adit hanya diam saja, tapi matanya tak lagi terlihat kosong, malahan sedikit berbinar "He..he.." bahkan dia tertawa pelan dengan ekpresi muka datarnya.


"Wih, Adit ketawa bund. Ya ampun menggemaskan!" Anya memeluk kepala Adit dan mengusap-usap pipinya gemas, sesekali dia akan menciumi kepala Adit.


"Udah Nya, kamu istirahat aja dikamar Adit, sekalian bawa Aditnya tuh. Dia udah ngantuk banget kayaknya." ujar Jihan lembut.


Anya mengangguk semangat, dia mendorong kursi roda Adit menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang makan. "Adit, besok Anya pergi, sedih deh harus ninggalin Adit disini." cerocosnya memecah keheningan.


"Kita bobok ya, besok Anya mau pergi. Adit jangan nakal." bisik Anya lagi. Dan disanalah Adit mulai bereaksi, dadanya sesak dengan mata yang memanas.


Dia kembali mendengar kalimat perpisahan lagi dari gadis ah ralat, dari wanita ini. "Heuks.." kan, dia nangis lagi jadinya.


"Maaf ya, kamunya nangis lagi aku buat." Anya berhenti dan langsung berjongkok didepan Adit, dia menyeka air mata Adit dan menciumuli pipinya.


"Sekarang jangan nangis, ntar aku kepikiran kamu terus." bisik Anya lemah.


Adit diam saja, tapi air mata tak kunjung berhenti mengalir.


...🍃🍃🍃🍃...


Waktu terus bergulir dan pagi kini menyapa, mereka sudah sampai dibandara jam 4:45 pagi. Anya sudah check in dan tinggal menunggu keberangkatan jam 5.

__ADS_1


Adit nampaknya masih mengantuk, tapi dia berusaha membuka matanya dan menatap terus pada Anya. "Adit, jaga diri ya." ujarnya lembut sembari mencium pipi Adit.


Tangannya mengelus punggung tangan Adit dan seperti kemarin pria itu kini menahan tangannya, air mata kembali turun. "Nya..." bisiknya lemah.


Sedikit demi sedikit memorinya mulai terkumpul, itu sudah dimulai sejak dia bangun tidur tadi. Anya tersenyum haru mendengar Adit memanggilnya "Iya sayang." jawabnya gemetar.


Adit masih menahan tangan Anya, dia seolah enggan melepaskannya.


"Pesawat menuju Kalimantan akan segera berangkat. Harap para calon penumpang memasuki area."


Anya tersenyum lirih, dia berdiri tapi tangannya masih Adit tahan "Ngan..per-gi.." lirihnya memelas, air mata mulai menupuk lagi, begitu juga dengan Anya.


"Maaf sayang, Anya harus pergi." ucapan itu membuat Adit kecewa, dia menunduk tapi tak melepaskan tangan Anya.


"Yah, Bunda. Anya berangkat ya. Jaga kesehatan dan jangan sakit-sakit."


"Iya Nak. Kamu hati-hati ya, dan cepatlah pulang." ujar Jihan.


"Bener, kasihan ada yang galau." celetuk Kardi.


Anya tertawa pelan sembari mengangguk, kemudian dia menyalim Adit dan mencium kening serta punggung tangan Adit. "Anya berangkat ya Suami. Assalamualaikum." pamitnya sembari melepas paksa genggaman Adit.


Anya mengikuti rombongan lainnya sembari mengeret kopernya. Adit menangis, dia bena-benar menangis melihat punggung sempit Anya yang menjauh.


"Hiks..huhuuuu..hiks..A-nya..hiks...ngan..per-gi..hiks..huhuuuuu..A-nya..hiks..A-nya..hiks..huhuuuuu"


Kasihan sekali, semangat buat Adit yang akan mulai Ldr sama Anya. Semoga tak ada kendala maupun rintangan selama tak ada Anya disebelahnya.


...Tamat✨...


...Beneran tamat kok hehehhehehehehehhehehhehe....


...Tapi boong😎 ...

__ADS_1


...Bersambung🍃...


__ADS_2