
Haiii balik lagi bareng Ryntimtam disiniiii. Oh ya-oh ya, ini adalah kumpulan kamus bahasa milik Adit.
1.Shha-hang\=Sayang.
2.Anhh-yaa\=Anya.
3.Agh-ya\=Ayah.
4.Khuu-ha, khaa-hu, khee-han\=Suka, malu, senang.
5.shaa-hat, khee-hek, khee-hi\=cacat, jelek, benci.
6.Hun-da, i-bhu, agh-bah, hin-ha\=Bunda, ibu, abang, cinta.
7.khaa-han, khii-hum, ann-hi, khaa-her\=makan, minum, mandi, laper.
8.khi-hur, ghin-hu, kha-han, khe-hua\=tidur, rindu, jangan, keluar.
9.Ah-hi, khii-ha-hin, Khaa-khit \=Mati, tinggalin, Adit.
10.Heuks, Khe-hap\=Hiks, gelap.
Sekian kamus bahasa Adit.
Oh dan jangan lupa vote dan komen yaπ.
...Enjoy the readingπ...
.......
.......
.......
.......
Authur Povπ
Anya merapikan kembali baju yang Adit pakai, mereka sudah duduk rapi didalam mobil Calya milik Anya. Sebelum berangkat Anya kembali memeriksa sabuk pengaman Adit.
"Adit siap?" tanya Anya lembut, Adit mengangguk pelan.
Dan kemudian mobil bergerak keluar dari halaman rumah minamlis mereka.
Pepohonan rindang menjadi pemandangan yang Adit suka, jendela mobil yang sengaja dibuka lebar agar Adit bisa melihat pemandangan dan merasakan udara sejuk dari luar.
Anya meraih tangan kanan Adit, kemudian mengelusnya.
"Nanti Adit harus dengerin apa kata Dokter. Dari yang Anya dengar, kamu selalu melawan saat Terapi. Gak mau mengikuti intruksi dari Dokter." celetuk Anya.
Adit meringis pelan, kemudian tertawa pelan. "A-af.." ujar Adit pelan.
Anya mendengus pelan "Kalau mau sehat, Adit gaboleh nakal. Harus nurut, saatnya minum obat minum, saatnya terapi ya terapi, saatnya latihan jalan ya latihan." Adit menunduk sedikit.
Sedih dia diceramahi Anya, apa Anya marah padanya? "Denger gak Dit?" tanya Anya.
Adit mengangguk "Heer-hi.." lirihnya.
Bukan niat Anya untuk berlaku keras, hanya saja Adit harus diberi motivasi dan dorongan agar pria itu mau berusaha untuk sehat.
Anya mengelus pipi Adit "Maaf, aku cuma mau kamu sehat Dit. Maaf kalau aku terlalu keras." bisik Anya bersalah.
__ADS_1
Adit melirik Anya sendu, kemudian mengangguk "Kha-ha-pa.." cicitnya.
Adit tau Anya berlaku seperti itu demi dirinya, Adit juga mulai terbuka pikirannya untuk sehat. Dia tak akan menyia-nyiakan keberadaan Anya disebelahnya.
Anya semakin bersalah, dia menepikan mobilnya dipinggir jalan. Kemudian menangkup wajah Adit, sebelumnya dia menyeka liur Adit dengan handuk super.
"Maafin Anya, Adit jangan nangis." bisik Anya.
Adit mengerjab pelab, dia nangis? Kok dia gak sadar. Benar saja air mata mengalir pelan dipipinya "Anhh-ya.." panggilnya.
"Kenapa sayang?"
"Khaa-han, khii-ha-hin..Khaa-khit.."
Anya terpaku, kemudian tersenyum lembut "Aku gak akan ninggalin Adit, gak akan pernah." ujar Anya halus.
Adit bergerak untuk mencium pipi Anya, tapi raut wajahnya menjadi muram saat melihat liurnya menempel di pipi Anya.
Perlahan tangannya meraih tisu dan hendak menyekanya. "Gak papa, biar Anya seka sendiri." tahan Anya.
Adit mengerjab pelan "A-af.." cicitnya.
Anya tertawa pelan "Gak papa sayang."
Harmonis sekali mereka.
...ππππ...
Anya terus menyemangati Adit yang saat ini tengah berdiri dengan alat bantu ditubuhnya. Semacam alat walker yang terpasang ditubuh dan kakinya.
Kepala Adit yang diberi penyanggah agar kepalanya tak terkulai, Adit tengah berusaha menahan kepalanya untuk tegak.
"Kaki kamu udah gak terlalu kaku, tapi kaki kamu terlalu lemas. Jadi sekarang coba berjalan satu atau dua langkah." intruksi Dokter Dion.
"Ayo sayaaaang. Semangaaat!" seru Anya dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
Adit tersenyum sedikit, untung saja dia pakai handuk super, jadi liurnya tak menetes kemana-mana. "Dia cantik ya Dit." Adit menatap Dion yang baru saja berceletuk.
Adit mengangguk pelan, raut wajah Dion berubah. "Dia cantik. Benar, Anya sangat cantik Dit." guman Dion.
Baru kali ini, Dion memuji seseorang. Sejak pertama kali Adit dibawa ke Rumah sakit dan terapi bersama Dion, pria itu terkenal dingin dan tak terlalu ramah.
Tapi kini, dia memuji Istri Adit.
...Heuum, Adit have bad feeling guys....
..........
Anya kembali mengangguk ketika mendengar penjelasan dari Dion, dengan Adit yang terus menggenggam tangannya erat.
"Jadi Anya, Hipersalivasi Adit sudah mulai berkurang dan itu adalah kemajuan yang besar. Kamu juga harus rajin melatih Adit berbicara, agar lidahnya tak kaku begitu juga dengan rahangnya,"
Anya mengangguk. "Kakinya juga sudah mulai bisa dilatih berjalan, namun jangan dipaksa. Dan latih pijakannya di bebatuan kecil khusu akupuntur kaki." jelas Dion.
Anya mengangguk, senyum bahagia terpancar diwajahnya. Itu adalah kabar baik bagi Anya, dia menatap Adit yang sedari tadi hanya diam saja.
Tapi tatapan mata Adit terhadap Dion sedikit berbeda. "Kamu dengar Dit? Kamu udah mulai sehat." ujar Anya semangat.
Adit melirik Anya, kemudian senyum tipis diberikannya. "Hi-ha..Anhh-ya.." jawab Adit lembut.
Dion hanya tersenyum sopan, walau tak elak tatapan matanya terlihat tak bersahabat terhadap Adit.
__ADS_1
"Terima kasih Kak Dion. Kami akan datang lagi 3 hari lagi." pamit Anya sembari berdiri dari duduknya. Dan menarik kursi roda Adit.
Dion juga ikut berdiri "Dan untukmu Anya."
"Heum?"
Dion tersenyum kecil "Usahakan istirahat yang cukup, jika kamu sakit maka siapa lagi yang akan menjaga Adit. Sekarang kalian sudah menikah dan kesehatan bersama itu penting." ujar Dion sembari menepuk bahu Anya pelan.
Anya terdiam, kemudian mengangguk patuh "Oke, Anya bakalan terus jaga kesehatan biar bisa jaga Adit." ujar Anya semangat.
Dion tertawa pelan dan mengangguk, setelahnya pasutri baru itu keluar dari ruangan milik Dion. Sesaat pintu tertutup, raut wajah Dion berubah drastis.
Dia tertawa pelan "Haha, Hahahaha Anya-Anya. Kamu bakalan jadi milik aku, hahaha yahh..benar sekali. Laki-laki cacat itu tak pantas bersanding disebelahmu." bisiknya senang.
Seringai keji terbentuk, benar, Anya akan menjadi miliknya. Dalam waktu dekat maupun tidak, yang pasti Anya akan jatuh ke pelukannya.
...πππππ...
Anya memasangkan seatbelt ditubuh kurus Adit, kemudian mengecup pelan pipi Adit. "Aku seneng banget, kamu udah mulai ada kemajuan." ujarnya senang.
Adit hanya diam, tatapan matanya kosong. Masih teringat tepukan yang Dion berikan dibahu Istrinya, membuat Adit sedikit terguncang.
Kepalanya mendadak pusing, seakan semuanya tercampur jadi satu. "Adit? Kamu kok diam aja?" heran Anya sembari menepuk pipi Adit pelan.
Adit tersentak, dia nampak linglung sejenak. Kemudian menoleh kearah Anya "Anhh-ya.."
"Iya Adit?"
Adit menatap getir Anya, tak lama air mata meluruh turun dari kedua matanya. "Loh-loh!? Kok nangis!?" Anya panik tentu saja.
"Kenapa!? Ada yang sakit!?"
Adit menggeleng pelan, dia masih menangis. Bahkan semakin kuat dan sesenggukan, bibir mungilnya terbuka semakin lebar karena menangis.
"Anhh-ya..aaaaa..heuks..Anhh-ya..heuks.."
Anya menggigit bibirnya guna menahan air matanya sendiri, dia tak bisa mendengar tangisan pilu milik Adit. Sangat menyayat hati Anya "Kamu kenapa Adit?" tanya nya parau.
Adit terus menangis, dia sampai tersedak ludahnya sendiri. "Anhh-ya..heuks..uhuk..heuks..Anhh-ya..." racaunya.
Anya tak tahan, dia melepas seatbeltnya kemudian memeluk Adit erat "Adit kenapa? Adit kenapa nangis? Adit jangan nangis.." bisik Anya dengan suara serak menahan tangis.
Adit menyenderkan kepalanya dibahu Anya, dan terus menangis.
Anya hanya tidak tau, hati Adit sakit sekali saat melihat Anya tersenyum pada pria lain. Senyum yang biasa Anya berikan untuk Adit kini terbagi untuk pria lain.
Mengingatnya kembali membuat Adit menangis. "Heuks..Anhh-yaa..heuks..khaa-han..heuks..khhi-ha-hin..Kha-khit.." tangisnya pilu.
Anya memejamkan matanya erat "Anya gabakal ninggalin Adit..hiks..Adit gausah takut soal itu..pegang janji Anya, Anya gabakal berpaling dari Adit..hiks..Anya cinta sama Adit.." bisik Anya.
Adit semakin menangis, tak menyangka Anya akan berkata semanis ini.
Tapi, kepercayaan diri Adit hilang entah kemana. Ucapan Anya seakan bagai penghibur baginya. Adit tak mempercayai hal itu.
Sudah 2 orang, 2 orang yang mengincar Anya. Dan mereka sempurna, tampan, mapan. Sedangkan Adit?
Hanya pria lumpuh yang masih mengenakan popok. Makan menggunakan selang dihidung, mandi masih dimandiin.
Berbicara tak lancar, ileran, cacat, jelek.
...Adit tak yakin jika Anya akan bertahan disebelahnya selamanya....
__ADS_1
...Bersambungπ...
...Duh, kampret!...