My One Night Stand Wife

My One Night Stand Wife
First Date #2


__ADS_3

...—Chapter 12—...


Aku tertidur selama dua jam dan pada akhirnya bangun dalam keadaan rambut berantakan, aku menoleh kesamping dan tidak melihat Dilan. Sesaat kemudian, Dilan keluar dengan pakaian yang kasual dan rapi.


"Kamu mau kemana? Rapi sekali". tanya diriku


"Astaga, kita kan akan kencan sayang". jawab Dilan


"Oh begitu ya, kalau begitu aku mandi dulu". ujar diriku


"Baiklah, aku tunggu dibawah". ujar Dilan


Aku masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri, lalu mengganti bajuku dengan baju yang dipilih oleh Dilan. 1 jam kemudian aku keluar dari kamar dan turun kebawah.


...—Ruang tamu—...


Saat turun, aku melihat Dilan tertidur dan aku membangunkannya. Dia terbangun dan melihat jam lalu melihatku.


"Ah, akhirnya kamu selesai". ujar Dilan


"Maksudmu, akhirnya aku selesai?". tanya diriku


"Tidak ada, ayo berangkat". ujar Dilan


Kami berdua berjalan keluar dan naik mobil, lalu pergi menuju pemeran. 20 menit kemudian, kami sampai dan berjalan masuk kedalam pameran. Aku sangat terkejut saat melihat pameran itu tidak ada orang sama sekali.


"Kenapa sepi? Kamu nyewa semua tempat ini?". tanya diriku


"Iya, aku tidak terlalu suka diganggu saat sedang kencan dan memutuskan untuk menyewa pameran ini dalam waktu sehari". jawab Dilan

__ADS_1


"Menarik, kamu ternyata kaya raya juga ya". ujar diriku


"Aku tahu, ini tidak sehebat dirimu yang memiliki harta lebih besar dariku". ujar Dilan


Aku berlari kearah rumah hantu dan masuk kedalam, Dilan mengejarku dan langsung menggenggam tangaku dengan erat.


"Jangan berpisah dariku, nanti kamu hilang". ujar Dilan


"Ayo masuk! Aku sangat ingin masuk kedalam rumah ini!". ujar diriku


"Baiklah, diam dibelakangku". ujar Dilan


Dilan berdiri didepanku dan terus menggenggam tangaku dengan erat, lalu aku melihat hantu dari samping kiri dan menatapi mereka dengan senyuman. Hantu itu tiba-tiba mundur dan seketika hantu laki-laki muncul dari arah kiri, dengan gesit aku memukulnya sampai berdarah.


"Victoria, apa kamu baik-baik saja?". tanya Dilan


"Hn, aku baik-baik saja". jawab diriku


Aku tidak menghiraukannya dan lanjut berjalan sesuai arah, lelaki itu terus mengikutiku dan menarik tanganku dengan paksa.


"Menyebalkan! Pergi dari hadapanku atau kamu mati". ujar diriku


Lelaki itu mundur beberapa langkah dan berlari jauh dari hadapanku, Dilan yang melihat diriku seperti ini memelukku dan menenangkan diriku.


"Sudah, ayo kita pergi ke restoran di pameran ini untuk makan malam". ujar Dilan


"Hn, aku juga sangat lapar". ujar diriku


Kami berdua keluar dari rumah hantu dan berjalan kearah restoran yang ada diujung pameran, setelah sampai kami berdua masuk dan duduk dimeja. Seorang waiter datang dan bertanya pesanan kami.

__ADS_1


"Tuan dan Nyonya, apa saja yang kalian pesan?". tanya waiter itu


"Bawakan semua makanan dari menu spesial". ujar Dilan


"Baik Tuan, kami akan memberikan anda makanan pembuka terenak dari restoran kami". ujar waiter itu


Waiter itu mengundurkan diri dari hadapan kami, dan Dilan menyentuh tanganku. Aku hanya tersenyum dan menyentuh tangannya balik.


"Apa ada yang kamu inginkan, selain ini?". tanya Dilan


"Tidak ada, aku sudah cukup menikmatinya". ujar diriku sambil tersenyum


Beberapa menit kemudian, makanan pembuka yang dikatakan waiter tadi datang dan kami berdua memakannya. Setelah beberapa menit lagi, semua makanan yang kami pesan akhirnya datang dan aku mulai memakan mereka semua.


Beberapa menit kemudian semua makanan dimeja habis dan aku merasa kenyang, Dilan memberikanku tisu untuk mengelap mulut.


"Apa kamu tidak takut menjadi gendut?". tanya Dilan


"Tidak, aku sudah memiliki pasangan yang akan mencintaiku apa adanya, kenapa harus takut". jawab diriku


"Hm, sepertinya kamu mulai menerimaku sebagai pasanganmu?". ujar Dilan


"Uhuk, kamu ayah dari anak didalam perutku, mau tidak mau aku harus menerima dirimu kan?". ujar diriku


Dilan hanya tertawa mendengar perkataanku, dia berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku hanya terdiam, tidak merespon apapun sampai dia mengatakan sesuatu.


"Ehem, maukah kamu berdansa denganku?". tanya Dilan


"Tentu, kenapa tidak bilang dari tadi". ujar diriku

__ADS_1


Aku menyentuh tangannya dan kami berdua berdansa. Saat itu, aku hanya menatap matanya yang hitam bagaikan bulan, dan menyentuh pipinya yang lembut. Sesaat kemudian, dia menciumku bersamaan dengan hidupnya kembang api yang sangat besar.


BERSAMBUNG...


__ADS_2