
...—Chapter 15—...
Setelah pergi selama 20 menit, akhirnya Dilan kembali dengan membawa dua buku dan beberapa makanan yang aku suka.
"Apa aku terlalu lama tadi?". ujar Dilan
Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban dirinya tidak terlalu lama, aku mengambil buku berjudul "Black Beauty" dan membacanya sambil memakan snack yang Dilan bawa dari luar.
"Apa kamu suka membaca buku?". tanya Dilan
"Hn, aku biasa menghabiskan hari-hariku dengan membaca buku atau makan". jawab diriku
"Oh ya, jika kamu makan setiap saat... kenapa kamu tidak gendut?". ujar Dilan
"Ini sudah dari gen keluarga kami, walaupun makan sebanyak apapun, pasti tetap kurus". ujar diriku
"Hn, anak dari Melissa sangat cantik dan tinggi, berapa usianya?". tanya Dilan
Aku melihat wajah Dilan yang sangat penasaran mengenai keluargaku.
"Adeline berusia 8 tahun, dia putri dari Melissa dan Damien Li". ujar diriku
"Maksudmu anak kedua dari keluarga Li itu adalah suami Melissa?". ujar Dilan
__ADS_1
"Tidak, mereka sama sekali tidak memiliki hubungan seperti yang kamu pikirkan, mereka hanya tidak sengaja melakukannya, itu saja". ujar diriku
Dilan hanya mengangguku kepalanya dan sesaat kemudian, Dilan merangkulku dan mengusap rambutku dengan lembut.
"Aku berpikir... jika anak kita perempuan, apakah akan secantik Adeline". ujar Dilan
"Lalu aku juga berpikir, bagaimana penamilan anak kita jika ternyata dia terlahir sebagai seorang lelaki?". ujar diriku
"Tentu dia akan mewarisi ketampananku dan kepintaranmu, bagaimanapun dia akan menjadi anak kita". ujar Dilan
Kami hanya termenung sambil memikirkan penampilan anak kami dimasa depan nanti, sampai 15 menit kemudian kami berdua tertidur pulas ditempat itu.
...—Mimpi—...
"Ibu! Kenapa masih disini? Ayo kita main sekarang!". ujar seorang anak kecil
Aku terlihat bingung dengan anak kecil yang memanggilku "Ibu", dia menarik tanganku dan tiba-tiba aku tiba disebuah tempat seperti taman. Mendadak aku berhenti, setelah melihat Dilan yang duduk dikursi taman sambil menggendong seorang anak laki-laki.
"Dilan, kenapa kamu ada disini?". tanya diriku
"Victoria, kamu kemana saja dari tadi? Anak-anak sedang menunggumu". ujar Dilan sambil tersenyum
Jantungku berdetak sangat kencang saat itu, aku sama sekali tidak merasa hal ini adalah sebuah mimpi. Dilan menarik tanganku dan membawaku kearah taman kosong, lalu duduk diatas rerumputan yang hijau.
__ADS_1
"Ibu! Aku mendapatkan bunga disana! Pakailah". ujar anak perempuan itu
"Terimakasih banyak ya!". ujar diriku
Anak itu tersenyum, kemudian kembali berlari kearah pohon yang penuh dengan bunga sakura. Aku hanya terdiam melihat senyumannya yang manis, Dilan menyentuh tanganku dan tersenyum kepadaku.
"Terimakasih sudah mau menjadi ibu mereka". ujar Dilan
"Sama-sama, aku juga–". ujar diriku
Aku berhenti berbicara karena tiba-tiba suasana menjadi gelap dan hening, Dilan yang tadinya tersenyum kepadaku, sekarang menamparku dan tertawa seperti seorang psikopat.
"Haha! Dasar bodoh, kenapa kamu percaya kepadaku selama ini?!". ujar Dilan
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa–". ujar diriku
Dilan berjalan menghampiri kedua anak itu, lalu menarik tangan mereka ke jurang. Aku berlari dengan sangat cepat dan berusaha untuk menggapai mereka agar tidak jatuh.
"Dilan Wei! Apa yang kamu lakukan!". teriak diriku sambil berlari
"Ibu! Tolong kami! Akh!". teriak mereka berdua
BERSAMBUNG...
__ADS_1