
...—Chapter 2—...
Saat kami berdua sedang mengecek telpon genggam masing-masing, aku mendengar suara keributan dicafeteria. Namun, aku tidak peduli akan hal itu dan tetap fokus melihat berita.
"Astaga, aku dangat iri dengan wanita-wanita ini. Mereka menjadi pasangan Tuan Muda Wei pada pesta judi kemarin malam". ujar Cassy
"Lalu, kamu mau menjadi pasangan berikutnya?". tanya diriku
"Mana ada, aku hanya iri... bukan berarti aku mau seperti mereka". jawab Cassy
Suasana diantara kami berdua kembali sunyi. Sesaat kemudian, laki-laki itu mendekati meja kami dan berhenti tepat diantara Cassy dan diriku. Melihat hal itu, Cassy langsung membuka matanya dan terkejut.
"Victoria, apa kamu membuat masalah kepada seseorang belakangan ini?". tanya Cassy
"Tidak, memangnya kenapa? Tuduhanmu sangat mengerikan". jawab diriku
"Bukan begitu... sepertinya seseorang sedang menatapimu dari tadi". ujar Cassy
Aku merasa aneh dengan perkataan Cassy dan langsung menghadap kearah kiri.
"Victoria Wu, senang bertemu denganmu". ujar seorang laki-laki
Aku hanya terdiam mendengar perkataannya dan kembali fokus kepada berita yang sedang aku baca.
__ADS_1
"Tuan muda Wei, senang bertemu dengan anda!". ujar Cassy dengan semangat
Aku berdiri dari kursi dan mengambil dompetku, lalu hendak pergi dari sana dan kembali ke ruang periksa.
"Nyonya muda Wu, aku kemari untuk melamar dirimu". ujar Dilan
Aku berhenti saat mendengar perkataannya, lalu berbalik dan melihatnya.
"Kau, melamar diriku? Tapi, aku tidak mengenal siapa dirimu dan apa hubunganku denganmu". ujar diriku
"Aku tahu, alasanku melamar dirimu adalah demi anak kita berdua". ujar Dilan
Semua orang yang berada di cafeteria terkejut mendengar perkataan dari Dilan.
Dilan terus berjalan mendekati diriku, aku tidak bergerak sama sekali dan tetap menatap wajahnya yang dingin itu.
"Nyonya muda Wu, dirimu sudah hamil satu bulan dan itu adalah anakku, apa kamu tidak sadar?". ujar Dilan
"Apa kamu sudah gila? Bagaimana aku bisa hamil anakmu?". ujar diriku
Dilan tiba-tiba menyentuh pipiku dan merangkul pinggangku. Aku memberontak agar dia mejauh dariku.
"Kejadian sebulan lalu itu juga alasan kedua kenapa aku ingin menikahi dirimu". ujar Dilan
__ADS_1
"Sebentar! Tuan muda, Victoria tidak mungkin hamil... dia baik-baik saja dan terus bekerja, mana mungkin dia bisa bekerja dengan mulus kalau sedang tahap awal kehamilan!". ujar Cassy
Aku melihat Cassy yang terus membelaku dihadapan Dilan Wei, tapi aku tetap merasa apa yang Dilan katakan mengenai diriku ini sedang hamil tidak sepenuhnya salah.
"Nona, anda tidak bisa berkata seperti itu kepada tuan muda". ujar Andy
"Memangnya kenapa?! Aku sedang membela sahabat baikku yang sedang dituduh hamil oleh bosmu, apa kamu mencari masalah denganku?!". ujar Cassy dengan galak
Dilan mendorong Cassy dan menyentuh tanganku, aku merasa sentuhannya sangat hangat dan menenangkan. Dia merangkulku dan menepuk pundakku.
"Tenang saja, jika kamu belum siap menjadi istriku, aku bisa menunggu dirimu lebih lama lagi". ujar Dilan
Aku tersadar dan langsung mendorongnya, sampai aku terpeleset dan hampir terjatuh. Dilan dengan cepat memeluk diriku agar tidak jatuh.
"Apa kau baik-baik saja? Lain kali kamu harus berhati-hati". ujar Dilan
"Kenapa aku merasa mereka berdua serasi ya?". bisik Cassy
"Sudah kukatakan, kamu tidak perlu khawatri jika Nyonya muda Wu menikah dengan Tuan Muda". ujar Andy
"Grrr... diam!". teriak Cassy
Aku berdiri tegak dan langsung menjauh dari Dilan. Tiba-tiba Andrea datang dan berlari kearah kami berempat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...