
...—Chapter 16—...
Karena terkejut, aku bangun dan meneriaki nama Dilan. Saat itu aku tidak melihat seorang pun didalam ruangan, dan aku memutuskan keluar untuk mencari Dilan.
"Dilan, kemana kamu pergi?!". teriak diriku
"Nyonya, apa anda memiliki keluhan?". tanya seorang pelayan
"Kemana dia! Jawab aku sekarang!". teriak diriku
"Dia siapa? Nyonya apakah anda mencari seseorang disini? Tolong beritahu saya siapa namanya". ujar pelayan itu
Aku mendorong pelayan itu karena panik, lalu Dilan memelukku dari belakang dan membisikkan sesuatu.
"Tenanglah, aku disini... apa kamu mimpi buruk?". bisik Dilan
Aku mendorongnya dan menangis seperti anak kecil, orang-orang disana hanya melihat dan beberapa dari mereka merekam kejadian itu.
"Kenapa kamu membunuh mereka berdua?!". teriak diriku
"Membunuh? Aku tidak membunuh siapapun, Victoria". jawab Dilan
"Jangan bohong kepadaku! Kau membunuh anak-anak itu!". teriak diriku
Dilan berusaha memelukku, namun aku tetap berontak dan pada akhirnya menampar dirinya. Aku sangat terkejut dan ingin meminta maaf, tapi Dilan kembali memelukku dengan erat dan berkata.
"Tenangkan dirimu, itu hanya mimpi... jangan menganggapnya sungguhan". ujar Dilan
"Itu semua hanya mimpi?". ujar diriku
__ADS_1
"Iya, apa kamu lelah? Haruskah kita pulang atau kesuatu tempat?". tanya Dilan
"Dilan... ayo kembali kerumahku". jawab diriku
Dilan yang melihatku lalu menatap kebawah, dia menggendongku dan memasukkan diriku kedalam mobil, lalu kami pun pulang kerumahku.
...—Rumah Victoria—...
Setelah sampai, aku turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, Dilan mengikutiku dari belakang. Aku menaruh jaketku dan duduk di sofa.
"Apa kamu mau air?". tanya Dilan
"Ah, tidak... terimakasih banyak". jawab diriku
Dilan duduk disampingku dan memelukku dengan erat. Aku melihat wajahnya yang masih terlihat merah akibat tamparan tadi.
"Apa pipi mu masih sakit?". tanya diriku
Aku tertawa mendengar jawaban darinya, lalu menyentuh wajahnya dengan lembut. Aku kembali teringat akan mimpi sebelumnya.
"Victoria? Sepertinya kamu kelelahan, ayo pergi kekamar". ujar Dilan
"Tidak perlu, aku mau makan sesuatu saja". ujar diriku
"Lagi?! Apa kamu tidak takut gendut?". tanya Dilan
Aku berbalik dan menatapnya dengan geram, Dilan berkeringat setelah aku menatapnya seperti itu. Saat sedang makan camilan, Dilan datang dan mencium leherku seperti biasanya.
"Lehermu sangat indah, aku menyukainya". ujar Dilan
__ADS_1
"Dilan, apa kamu memiliki kekasih sebelum melamarku?". tanya diriku
"Hm, kenapa kamu bertanya seperti itu?". ujar Dilan
"Apa aku harus memberitahu dirimu, alasan kenapa aku bertanya seperti ini?!". ujar diriku
Dilan terkejut mendengar perkataanku, aku hanya menatapnya dan menunggu jawaban darinya. Karena lama menunggu, aku memutuskan pergi kekamar dan mengunci pintu kamar.
...—Kamar Victoria—...
Dilan terus menggedor pintu dan memanggil namaku, namun semua itu sia-sia saja. Aku tetap tidak merespon dan tidak memperdulikannya. Keesokan paginya, aku turun dengan pakaian rapi dan hendak berangkat kerja, tiba-tiba Dilan muncul dan memberikanku roti.
"Selamat pagi, ini sarapan untukmu". ujar Dilan
"Aku tidak butuh, terimakasih dan sampai jumpa". ujar diriku
Aku kembali berjalan kearah pintu dan Dilan meneriaki namaku, lalu aku berhenti dan berbalik.
"Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu marah?". tanya Dilan
"Coba kamu ingat, apa kesalahan yang kamu lakukan dan temui aku setelah kamu sadar". ujar diriku
Setelah mengatakan semua itu, aku kembali berjalan dan masuk kedalam mobil, lalu pergi bekerja seorang diri.
BERSAMBUNG...
Hai!~
Maaf karena hampir 2 minggu enggak update, yah kalian tau lah aku ngapain...
__ADS_1
Iya... sibuk sekolah, tugas numpuk! plus lagi males aja.. hehe, mulai besok aku bakal update lagi dan ya udah... itu aja deh...