My Perfect Dad

My Perfect Dad
Ingin keduanya


__ADS_3

Marcel berjalan menyusuri rumah sakit menuju kamar Tania. " Apa yang mas Dio tanya tadi? Pasti dia cemburu padamu ya?" tanya Tania


" Tidak.. mana mungkin dia cemburu" jawab Marcel


" Lalu apa dong yang kalia omongi? Kenapa aku tidak boleh dengar tadi?" tanya Tania


" Dia hanya menyuruhku menjagamu dengan baik" ucap Marcel


" Masa sih cuma itu" guman Tania


Mereka kini telah sampai di kamar Tania. "Aku bisa sendiri. Kau pulang saja sana" ucap Tania

__ADS_1


" Aku akan pulang setelah infusmu di lepas. Itu suster sudah datang. Jika infusmu di lepas. Kau tidak akan kesulitan jika mau ke kamar mandi. Aku jadi merasa lega. " ucap Marcel


Perawat datang dan melepas infus di tangan Tara. Setelah infus itu di buka, Marcel pamit pulang pada Tania. " Jaga dirimu baik-baik. Jika butuh sesuatu nomorku sudah aku save di ponselmu." ucap Marcel sambil mengetikkan nomornya di ponsel Tania.


Waktu cepat sekali berubah menjadi pagi. Kini Tania sudah di ijinkan untuk pulang ke rumah. Ia pulang ke rumah menaiki taxi. Di rumah ia di sambut hangat oleh ibu mertuanya. " Kau sudah baikan sayang. Maaf ibu tidak bisa menjagamu di rumah sakit. Ibu baru pulang dari rumah omamu semalam. ibu harus menjaga omamu yang sedang sakit juga makanya tidak bisa pulang segera" ucap Ibu mertua Tania


" Tidak apa-apa bu, Aku sudah sembuh sekarang" ucap Tania


" Lalu mas Dio di mana? Kenapa dia tidak ikut pulang?" tanya ibu


" Iya juga ya sayang. Mungkin dia hanya merasa iba saja. Melakukan kebaikan kan tidak apa-apa. Bisa mendapat pahala." balas ibu

__ADS_1


Ibu meandang Tania yang saat ini sedang pergi ke kamarnya. " Andai saja kamu tahu kalau anak itu adalah anak kandungnya nak. Tentu saja Dio akan melakukan apapun untuk kesembuhan anaknya. Ini semua salahku. Jika dulu aku setuju Dio menikah dengan Dira. Mungkin Dio tidak bisa punya anak sekarang adalah karma dari perbuatanku dulu." batin Mertua Tania


Sementara di rumah sakit. Dio di pindahkan ke kamar vip. Di sana ia di tempatkan dengan pasien lain. Pasien itu tidak lain adalah Dimas anaknya. Dira tersenyum saat melihat Dio ada di kamar itu. " Kenapa aku di pindahkan ke sini." tanya Dio


" Biar aku bisa merawat kalian berdua. Dimas ingin selalu bisa berada di samping ayahnya katanya." ucap Dira


" Ayah. Bagaimana kabar ayah? Apa luka operasinya masih terasa sakit?" tanya Dimas


" seharusnya ayah yang bertanya padamu nak. Luka yang ayah rasakan tidak seberapa dari yang kamu rasakan. Kamu masih kecil tapi harus merasakan penyakit seperti ini. ucap Dio


"Tapi aku bahagia yah. Setidaknya dengan adanya penyakit ini. Aku jadi bisa bertemu denganmu." jawab Dimas

__ADS_1


Dira sampai meneteskan air mata mendengar percakapan ayah dan anak ini. Senang sekali rasanya bisa melihat senyum terpancar di wajah Dimas. " mas Dio sudah sarapan? Sarapannya sudah di antar. Mari aku suapin mas" ucap Dira sambil meletakkan mangkok bubur di atas meja. Dira menyuapi Dio secara perlahan-lahan hingga buburnya habis.


Saat ini Dio merasa sangat senang karena bisa berkumpul dengan anak dan wanita yang ia cintai dulu. Tapi sekarang apa yang harus Dio lakukan. Karena Tania bilang, Ia akan menjaga Dio hari ini di rumah sakit.


__ADS_2