
Tania perlahan membuka mata. Ia kaget saat tahu kalau ia sedang berada di rumah sakit. Tania menatap seseorang yang sedang tertidur di samping ranjangnya. Marcel tertidur dengan tangan yang menopang kepalanya. Marcel tiba-tiba bergerak dan terbangun. Melihat Marcel terbangun, Tania pura-pura tertidur kembali.
" Ah dia belum bangun juga"
Tapi Marcel memperhatikan mata Tania yang berkedip-kedip. Marcel tersenyum karena tahu kalau Tania pura-pura tertidur.
"Bangunlah.. Jangan berpura-pura lagi."
"Kau tahu kalau aku pura-pura" tanya Tara
" Jelas sekali terlihat tahu. Ini makanlah dulu"
" Aku tidak selera makan. Rasanya perutku mual. Mungkin maghku kambuh karena terlalu stres .."
"Terlalu Stress? Kenapa"
"Ah sudahlah. Aku meras sudah baikan. Lebih baik aku pulang saja. Jika terlalu lama di sini. Aku tidak akan sanggup membayar rumah sakitnya"
" Tenang saja aku yang akan bayar. Kau hutuh istirahat. Kau sedang hamil."
" Hamil.. A.. aku?" UcapTara dengan heran
" Iya hamil.. Mana nomor suamimu. Aku akan beritahu dia kalau kau di sini."
" Suami?"
" Iya suami. Apa kalian bertengkar? Aku melihat kau menangis di jalanan semalam"
"Aku baru saja bercerai semalam. Kenapa harus hamil setelah bercerai?"
" Kau cerai? Kenapa"
__ADS_1
" Buat apa aku cerita padamu. Terima kasih sudah mau membayar biaya rumah sakit. Tapi setelah aku keluar aku akan menggantinya. Aku serius."
" Aku tanya kenapa kau bercerai dengannya. Jadi bagaimana ini. Kau sedang hamil. Dia perlu tahu hal ini"
Tania hanya tertunduk saja merenungi nasib. ia merasa sedih. Tidak mungkin ia kembali ke Dio. Jelas-jelas Dio sudah mengabaikan dia begitu saja kemarin. Apa mungkin Dio menerima anak yang di kandungnya. Lalu apa Dira tidak akan menyakiti anak ini. Itulah pikiran yang terlintas di kepala Tania.
Ia mengelus perutnya yang kini masih rata.
" Anakku, Walaupun ayah tidak menginginkanmu. Ada ibu yang akan selalu menyayangimu. Sehat-sehat di dalam rahim ibu nak. Ibu sangat menantikanmu selam ini" bati Tania
Marcel menyadari ada yang tidak beres terjadi dengan Tania. Walaupun Marcel memaksanya. Tania tidak akan mengatakan masalah pribadinya dengan orang lain .
Marcel keluar dari kamar. Ia menelpon seseorang untuk menyelidiki Tania.
" Hallo Burhan. Selidiki wanita yang aku kirim fotonya tadi. Apa yang terjadi padanya kemarin. Kenapa dia sampai bercerai."
" Baik tuan"
Selesai menelpon Marcel kembali masuk ke dalam kamar. Ia masih melihat Tania yang termenung.
" Siapa yang sedih."
" Itu wajahmu terlihat sedih. Aku akan kembali ke kantor. Nanti aku akan menyuruh Aicel ke sini"
" Benarkah"
"Benar.. Makanlah yang banyak demi bayimu."
********
Marcel duduk di atas kurai kebesarannya. Tiba-tiba orang yang Marcel suruh untuk menyelidiki Tania masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
" Tuan saya telah mendapatkan informasinya"
" Apa itu."
"Wanita itu telah bercerai dan di usir dari rumah. Suaminya telah menikah lagi dan saat ini istrinya sedang hamil."
" Siapa nama istrinya"
"Dira"
Marcel memijat dahinya. Mencoba mengingat nama yang tidak asing di dengarnya.
" Jadi dia menikah dengan wanita itu. Tania telah mengetahui semuanya. Kasihan sekali Tania." batin Marcel.
*******
Selesai bekerja, Marcel datang ke rumah sakit. Ia membawa baju ganti untuk Tania. Hari ini dokter bilang Tania boleh pulang.
" Hai Aicel.. Kau masih di sini"
" Masih kak. Kau bawa apa itu"
" Ini aku bawa makanan dan baju ganti untuk Tania"
" Baju ganti? Untuk apa? Aku bisa pakai baju ini saja" ucap Tania
" Kau mau kemana? Suamimu sudah mengusirmu. Lalu kau tidak punya keluarga. Di kampung, Ayah kandungmu sedang sakit jantung. Jika ia tahu kau bercerai itu akan memperparah kondisinya bukan?"
"Kenapa kau tahu semuanya"
"Aku itu Marcel. Semua informasi bisa aku dapat. Ini gantilah bajumu dengan ini. Kita akan pulang ke rumahku"
__ADS_1
" Pulang kerumahmu?"
" Iya kau bilang akan mengganti biaya rumah sakit. Jadi kau akan pulang ke rumahku. Di sana kau bisa menjadi asisten rumah tangga untuk mengganti biayanya"