My Perfect Dad

My Perfect Dad
Teringat dirimu


__ADS_3

Tania begitu senang ketika melihat Dio sudah pulang. Dia memasak makanan kesukaan Dio. Di sana tersedia ayam goreng kalasan, Sambal belacan dan tumis kangkung. "Mas mau makan apa? Ini semua makanan kesukaan mas" ucap Tania sambil tersenyum.


Tania mengambilkan lauk dan memasukkannya ke dalam piring Dio. Dio memakan masakan Tania dengan lahap. " Enak sekali sayang. Mas merasa bosan setiap hari harus makan masakan rumah sakit." ucap Dio sambil memakan makanannya dengan lahap. " Kalau gitu tambah lagi dong mas. Ini ayam gorengnya" ucap Tara


Tibalah saatnya tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Dio berbaring di atas ranjang. Sementara Tania sedang membersihkan diri di kamar mandi. Pikiran Dio tidak berada di rumah. Ia memikirkan Dimas. Beberapa hari ini Dimas selalu berada di sampingnya. Rasanya seperti ada yang kurang saat Dimas tidak ada.


Dio mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja. Ia mengirim pesan untuk Dira. "Apa kau sudah tidur?" pesan Dio


Dira ternyata belum tidur. Ia juga sedang memikirkan Dio. Ia merasa merindukan Dio. Padahal belum sampai satu hari mereka tidak bertemu. "*Belum.. aku memikirkanmu. Aku rindu mas. " balas Dira

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Dimas. Apa dia sudah tidur. Bisakah kau mengirimkan foto kegiatan Dimas sekarang?" pesan Dio


"Dia sudah tidur. Apakah kau tidak ingin melihat fotoku juga." balas Dira*


Dio tersenyum saat melihat wajah Dimas yang begitu manis saat tertidur. "Baiklah kirimkan juga fotomu" balas Dio


Dira tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat bahagia karena kini Dio akan kembali padanya. Walaupun belum seutuhnya. Dira yakin suatu saat Dio akan memilih dirinya di bandingkan Tania. Dira mengirimkan foto dirinya sedang memakai lingerine yang begitu tipis. Membuat Dio menelan saliva saat melihat fotonya. Namun Tania telah selesai dari kamar mandi. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Dio. Untung saja Dio sempat meletakkan ponselnya di meja. Kalau tidak Tania akan curiga.


" Ya begitulah. Aku harap aku dapat melihat dia bisa bermain seperti anak seumurannya. Aku ingin melihat dia bisa sekolah. Kau tahu sayang ternyata dia cucu presdir di perusahaan tempat mas kerja. Mas akan di promosikan naik jabatan ke posisi direktur." ucap Dio

__ADS_1


" Kalau gitu aku turut bahagia mas. Ini kebetulan sekali ya. Mas sangat beruntug. Akhirnya jabatan yang dulu pernah hilang akan mas miliki kembali." ucap Tania


" Iya.. Kau tidak akan bisa tersenyum lagi jika kau sampai tahu keberuntungan lain apa yanh terjadi." batin Dio


Tania mendekatkan wajah ke Dio. Ia ingin mencium bibir Dio. Dio juga mendekatkan bibirnya ke bibir Tania. Namun entah kenapa Dio malah terbayang wajah Dira. " Aduh.." ucap Dio


Tania membuka matanya. " Ada apa mas? Apa yang sakit." tanya Tania


" Tidak ada. Maaf mas belum bisa memberi nafkah batin saat ini. Lebih baik sekarang kuta tidur saja ya sayang." ucap Dio sambil menutupi tubuh Tania dengan selimut.

__ADS_1


Tania hanya bisa memandang tubuh Dio yang saat ini sedang membelakangknya. Ingin rasanya batin Tania menangis. Tapi Tania memilih untuk positif tinking dan mencoba mengerti posisi Dio saat ini.


Dio terus terbayang wajah Dira. Dua hari lagi adalah hari pernikahan dirinya dan Dira. Mungkin Dio akan sering membohongi Tania. Ia pasti lebih banyak meluangkan waktu untuk Dira dan Dimas. Sebab Dimas memang lebih membutuhan ayahnya saat ini. " Maafkan Mas Tania sayang." Ucap Dio sambil mencium kening Tania yang sedang pura-pura terpejam


__ADS_2