My Perfect Dad

My Perfect Dad
Apartemen Marcel


__ADS_3

Hari telah berganti, Kondisi Tania sudah semakin membaik dan boleh di ijinkan pulang oleh dokter. Tania duduk di atas kasur rumah sakit sambil memperhatikan punggung belakang seorang pria bertubuh tinggi dan kekar. Pria itu adalah Marcel yang sedang membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.


Pikiran Tania seakan melayang. " Andai saja pria itu adalah Mas Dio. Pasti aku sangat bahagia. Apalagi saat ini aku sedang mengandung anak yang sudah lama kami nantikan. Aku tidak menyangka sama sekali. Kehidupan yang begitu sempurna yang aku miliki dulu sekarang hanya tinggal kenangan" batin Tania


Lamunan Tania terhenti ketika mendengar suara Marcel yang begitu keras. Marcel merasa kesal karena sejak tadi ia sudah memanggil Tania. Namun Tania hanya diam saja tidak menjawab. " Ah iya ada apa mas?" Tanya Tania pada Marcel


Marcel meletakkan tangannya di pinggang. Matanya menatap Tania dengan sorot mata yang begitu tajam. Membuat Tania bergidik ngeri melihatnya. Tania sadar jika ia sudah melakukan sebuah kesalahan. " What? Apa kau katakan barusan? Sadarlah aku ini bukan suamimu?" ucap Marcel dengan nada ketusnya


Tania turun dari atas ranjang. Dia mengambil handuk lalu melangkah menuju kamar mandi. Ia ingin bersiap-siap untuk pulang dari rumah sakit. " Apa kau masih memikirkan pria brengsek itu?" tanya Marcel sebelum Tania masuk ke dalam kamar mandi.


" Seharusnya sudah tidak. Tapi kenapa aku masih belum bisa melupakannya." Sahut Tania

__ADS_1


" Apa mau ku antar menemuinya. Mungkin saja jika ia tahu kau hamil, Ia akan memilihmu." ucap Marcel


" Jika dia memilihku, Perasaanku seakan sudah mati untuk kembali bersamanya. Rasanya begitu sakit jika mengingat hinaan yang ia lontarkan kepadaku" ucap Tania sambil menahan air mata yang mau jatuh.


"Lalu kau mau pulang kemana?" ucap Marcel


"Aku yatim piatu. Aku hanya punya orang tua angkat di cianjur. Tapi sampai saat ini mereka tidak tahu kalau aku sudah bercerai." ucap Tania


Tania melupakan hal ini. Sebenarnya ia tidak mau tinggal dengan seorang pria yang bukan muhrim dalam satu rumah. Namun mau bagaimana lagi. Saat ini Tania tidak punya pilihan lain. Lagi pula rumah Marcel mungkin bisa jadi tempat bersembunyi yang paling baik bagi Tania. Tania tidak mau Dio mengetahui kalau ia sedang hamil anaknya. Tania takut jika jika bayinya lahir, Dio akan mengambilnya. Kembali ke rumah orang tua angkatnya juga bulanlah pilihan yang baik. Ayah angkatnya menderita penyakit jantung. Jika ayah sampai tahu Tania bercerai. Penyakit jantung ayah akan kambuh kembali. " Baiklah aku akan menjadi asisten rumah tanggamu" ucap Tania dengan nada lemah.


" Bagus.. itu memang pilihan yang benar" Ucap Marcel

__ADS_1


************


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya mereka tiba di apartemen milik Marcel. Apartemen yang cukup sederhana untuk seorang CEO perusahaan besar. Tania memperhatikan seluruh ruangan.


Marcel membawa koper Tania menuju sebuah kamar. " Di sinilah kamarmu? Aku jarang pulang ke sini. Mungkin seminggu 2 kali. Kau bisa tinggal di sini. Pekerjaanmu sangat mudah. Cukup bersihkan semua ruangan rumah ini saja. Kau cukup menyediakan makanan hanya ketika aku di sini. " jelas Marcel


" Hanya itu. Tapi bisakah aku memasak untuk aku makan sehari-hari. Kau tidak perlu memberi uang. Aku masih punya uang untuk membeli bahan-bahannya." tanya Tania


"Kau tidak perlu memakai uangmu itu. Aku akan menyuruh Bi Inah untuk tinggal bersamamu selama aku tidak ada. Dia yang akan belanja dan masak untukmu. Kau sedang hamil dan kondisimu lemah. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu di rumahku ini. " Ucap Marcel


" Tapi aku ini adalah asisten rumah tanggamu kan? Kenapa memperkerjakan orang lain lagi" ucap Tania.

__ADS_1


Marcel hanya diam saja tanpa menjawab. Dia pergi meninggalkan apartemennya. Di luar apartemen Marcel terdiam dan berpikir di depan pintu. "Aku tidak tahu ini perasaan apa? Kasihan atau apalah itu. Aku tidak tega melihat penderitaan wanita ini" batin Marcel


__ADS_2