My Perfect Dad

My Perfect Dad
resmi bercerai


__ADS_3

Pada hari itu juga Tania di bawa oleh Dira ke pengadilan. Di sana Tania dan Dio akan bercerai secara sah.


Raut wajah kesedihan begitu terlihat di mata Tania. Biar bagaimanapun Tania sadar kalau dia bukan wanita yang istimewa. Setelah kehilangan anak, Tania tidak tahu apakah dia bisa hamil kembali. Dia gagal memberikan keturunan yang sangat di harapkan oleh Dio. Kini Dio telah memiliki 2 anak dari wanita lain. Tania rela mengalah demi kebahagiaan Dio.


Ketukan palu terdengar di dalam pengadilan. Menandakan resminya perceraian Tania. Kini Tania resmi menyandang status janda. Tania keluar dari pintu pengadilan. Ia berusaha menahan air mata selama sidang berlangsung. Namun Dira malah terus mengolok-ngolok dirinya.


" Kau jangan kembali lagi ke rumah Dio" ucap Dira


" Lalu di mana dia harus pergi sayang. Dia sebatang kara. Aku sudah membuat rumah itu atas nama Tania" Ucap Dio


" Enak saja. Rumah itu hasil dari kamu kerja sama papa aku. Itu rumah milik aku mana bisa itu atas nama Tania. Aku gak setuju mas. Aku gak perduli dia mau tinggal di mana. Asal jangan di rumah itu. " ucap Dira


Tania bingung harus kembali ke mana. Di kampung, Ia hanya punya orang tua angkat yang salah satunya menderita penyakit jantng. Jika dia kembali, Tania takut jika penyakit jantung ayahnya kembali kumat karena tahu dia sudah bercerai.


Tania pergi meninggalkan Dio dan Dira tanpa sepatah katapun. Ia menyusuri sepanjang jalan dengan berjalan kaki untuk menghilangkan segala kegundahan hatinya. Walaupun orang lain memperhatikannya sedang menangis. Tania sama sekali tidak memperdulikannya. Ia meluapkan segala emosinya sepanjang jalan.

__ADS_1


Sampai suatu ketika Tania khalaf. Ia berjalan di jalan raya, Berharap ada mobil yang menabraknya. Tania begitu putus asa dengan hudupnya. Tania menutup mata sambil menyeberangi jalan yang begitu banyak di lalui mobil. Ia berjalan lambat sampai ada sebuah mobil yang mau menabraknya.


Tapi Tania beruntung. Di saat dia hampir tertabrak mobil. Marcel datang menyelamatkannya.


" Apa kau sudah gila? Kau bisa mati kalau tidak aku tolong"


" Aku memang ingin mati. Kenapa kau menolongku" ucap Tania tanpa mengetahu kalau Marcel yang telah menolongnya.


Marcel mengangkat dagu Tania yang sejak tadi hanya tertunduk tanpa semangat hidup.


" Apa yang terjadi bukanlah urusanmu." Tania kembali berjalan meninggalkan Marcel.


Marcel merasa ada yang aneh pada Tania saat itu. Dia menelpon sekretarisnya untuk membatalkan meeting. Ia membatalkan meeting untuk mengikuti Tania.


Marcel mengikuti kemana Tania pergi dengan mobilnya. Tania terlihat berjalan tanpa arah dengan tatapan kosong. Sampai suatu ketika Tania kelelahan dan jatuh pingsan.

__ADS_1


Marcel keluar dari mobil begitu melihat Tania pingsan. Ia menggendong tubuh Tania dan membawanya kerumah sakit.


"Apa yang terjadi dengannya dok? Saya melihat wajahnya sangat pucat"


" Apakah bapak suaminya?"


" Bukan dok. Saya temannya"


" Oh begitu. Tidak ada yang serius dengan kondisi bu Tania. Tensinya rendah saat ini. Hal ini biasa di alami oleh ibu hamil. Oleh karena itu saya ingin bertemu dengan suaminya. Ibu Tania saya lihat mengalami banyak tekanan. Saya takut itu akan mengganggu janin di dalam rahimnya. Tolong beritahukan hal ini pada suaminya ya pak"


" Baik dok"


Marcel berjalan ke ruang tempat dimana Tania di rawat. Ia melihat tubuh Tania yang terbaring lemah.


" Sebenarnya apa yang terjadi padamu" ucap Marcel

__ADS_1


"


__ADS_2