
Setelah anaknya keluar dari NICU sang dokter langsung memberikan kedua anaknya kepada Alisa
Terharu ini yang dikirimkan tuhan untuk menggantikan ayah dan pamannya. Alisa terus menggendongnya dan memberikan satu anaknya pada Dini anaknya haus sehingga menangis dan dia Langung memberikan Asinya dengan kasih sayang.
“Oh iya Al nama anak lo apa?” Dini terus menimang bayi Alisa satunya.
“Hm apa ya? Gibran dan Gabriel ya itu namanya?” Alisa mengusap-ngusap lembut bayi yang sedang di susuinya.
“Yang itu Ariel yang ini Ian”
“Iya nak? Kamu akan tumbuh dengan cepat sekarang saja kamu sudah berat” Alisa megoorek-ngorek hidung keccil milik Gibran sang kakak.
“Oh ini Ariel ya, ini aunty sayang panggil Aunty Dini ya” Tak kalah Dini terus mengajak bicara pada bayi yang masih merah.
“Sini Din pasti Ariel juga haus” Alisa meberikan Gibran dan mengambil Gabriel
“Baiklah” Dini memamerkan gigi rapihnya.
“Oh iya Din gue kan sebelumnya belum membeli apap-apa dan gak persiapan sama sekali” Jelas Alisa
“tenanglah setelah kau pulih kita akan berbelanja”
“Makasih ya Din selalu bantu geu” Mata Alisa berkaca-kaca
“Alisa sudahlah anggap saja gue ini adikmu, kita akan berjuang bersama oke jangn simpan masalah kita atau rahasia apapun itu” Jelas Dini
“Baiklah Din” Senyum Alisa mengembang
Tok-tok-tok pintu ruangan Alisa ada yang mengetuk
“Sayang bolehkah aku masuk? Kami mau melihat bayinya” Alex merajuk
“Aish kamu By gimana Al?” Tanya Dini
“Biarkan saja, mereka sepertinya sudah kenyang”
Raka dan Alex memasuki Ruangan dan tidak sabar ingin menggendong bayi-bayi lucu Alisa.
“Jangan ketuker ya, yang dipegang Alex itu Gibran pangggilannya Ian, dan yang dipegang Raka itu Gabriel panggilnya Ariel
Raka dan Alex mendengarkan Alisa dengan seksama dan memang benar tidak kelihatan adanya perbedaan di wajah bayi mungil itu.
“Aduh kalau udah besar pasti ganteng nih, panggil om Raka ya Ariel om akan kasih permen banyak deh” Raka terus bergurau
Alex tidak mau kalah
“Ian ini Om Alex kamu pasti kuat seperti om, nanti om belikan apapun deh yang kamu mau”
“Apa-apan sih mereka berdua” Dini terkekeh begitupun Alisa
__ADS_1
Dini dan Alex melihat kedua laki-laki yang sudah seharusnya mempunyai anak, yaps Alex dan Dini mungkin sebentar lagi tapi Raka boro-boro ada Calon dia terus sibuk di Rumah sakit.
**
“Kakak bagaimana keadaanmu?” Zen memasuki ruang rawat Aditya ya dia juga belum terlalu pulih dari luka tembakan ibunya.
“Kak Zen gak nyangka ibu seperti itu” Zen kembali mengingat masa-masa kemarin yang penuh dengan ketegangan
Aditya langsung memeluk adiknya untuk menenangkannya.
“Kak apa ini?” Zen meraih amplop yang bearada di meja dekat ranjang Aditya
“Itu pemberian tuan Tyo dari Ken”
“Ohhh” Zen mencoba membukanya dan ia melihat beberapa tulisan berjejer rapih disana.
Aditya Om tahu kamu sangat baik dan tentang anak saya Alisa pasti kalian melakukannya dengan tidak sengaja itu semua hanya pasti kecelakaan om sangat percaya sama kamu kamu laki-laki sejati, permintaan om hanya satu temuilah Alisa sebelum terlambat dia pasti sangat membutuhkanmu saat ini apalagi anak-anakmu om Rela memberikan Jantung ini untukmu hanya ingin melihat putri Om bahagia itu saja maaf bila om merepotkan mu dengan permintaan ini
Tyo Adiguna
Zen mendekap mulutnya, Airmatanya meleleh ada rasa bersalah yang dalam dihatinya.
“Zen kamu kenapa?” Aditya heran dan terus menatap Adiknya
“Kakak, om Tyo”
Aditya merebut surat yang berada ditangan Zen dan dia membacanya jajar demi jajar.
Aditya sedikit tidak percaya ia memang tidak terlalu ingat akan kejadian kemarin malam yang menimpa dirinya seketika dadanya sesak Aditya terus memegangi dada kirinya.
“Kak, kakak kenapa?” Zen panik dan langsung meminta tolong pada siapapun yang berada diluar akhirnya Raka mendengar teriakan Zen ia langsung memasuki ruangan Aditya.
“Ada apa ini Zen?” Raka langsung menangani Aditya
Zen hanya menangis didekat pintu ia melihat Raka dengan telaten memeriksa kakaknya.
**
“Zen kakak kamu janga terlalu memikirkan sesuatu yang sedikit berat jantungnya masih lemah” Terang Raka
“Aku gak ngapa-ngapain kok Ka, tapi kakak tadi membaca surat ini dan langsung dadanya sesak” Dia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada kakaknya.
Raka membaca sekilas surat dari Tyo dan langsung memahami permintaan ayah dari gadis yang ia sayangi itu.
“Zen kakak lo emang gak bisa dibilangin dan dikasih tahu, lo tahu Alisa sekarang ngelahirin kedua bayi laki-laki yang sangat lucu dan tampan tanpa ada yang mendampinginya”
Zen semakin tidak percaya hatinya begitu teriris sahabatnya berjuang sendiri dan itu semua karenanya.
“Raka itu semua bukan salah kakak gue, itu salah gue”
__ADS_1
“Maksud lo apa Zenia kenapa lo bicara seperti ini?” Tanya Raka
“Iya peristiwa itu karena ulahku dan ulah Bela, itu di luar rencana kami Ka?”
“Rencana lo bilang?” Raka menyeret Zenia untuk ke luar ruangan
“Apa maksud lo katakana Zen” Raka sedikit memelototi Zen dan Zen mundur beberapa langkah.
Zen menjelaskan semuanya bahwa dirinya menjebak kakaknya sendiri dan berakhir dengan peristiwa yang tidak diharapkan.
Raka sudah tidak mengerti lagi ia duduk dibangku tuggu pasien dia menjambak rambutnya dengan sedikit prustasi ia juga pernah salah paham pada Alisa dan mengutuki kesalahannya sendiri.
“Dan lo juga gak membantu Alisa ketika dia disiksa sama kakak lo bahkan dia hampir gila, bayinya hampir tidak tertolong itu semua karena kakak LO” Raka memberikan penekanan
“Dan satu lagi Zen waktu dia ke Indonesia dia ingin membantu Kakak lo dari ibu jahat lo, dan kakak lo malah menyiksa Alisa, dia mengalami Depresi parah dan kalau Alisa berhasil memberitahu kakak lo pasti paman Parjo dan Tuan Tyo masih hidup Zenia”
Zen merasakan pusing dikepalanya setelah mengetahui semuanya pandangannya kabur dan dia sudah tidak ingat apapun.
**
“Raka kenapa adik gue hah?” Aditya sudah sadar dan memaksa untuk melihat Adiknya di ruangan yang berbeda dengannya.
Raka hanya bungkam ia juga sedikit terkejut akan kelakukan Zenia yang menjadikan permasalahan ini menjadi rumit.
“RAKA” Aditya bangun dari kursi Rodanya dan menarik kerah Jas yang dipakai Raka
“Kakak jangan” Zen bangun dan langsung melihat kakak sekaligus sepupunya yang hampir saja berkelahi.
“Zenia kamu kenapa? mana yang sakit?”
“Temui Alisa kak temui dia, Zen rasa ini belm terlambat” Suaranya terdengar lemah
“Apa maksudmu Zen kita akan pulang kakak juga sudah sembuh”
“Jangan kak tolong Raka kasih tahu kak Adit dimana Alisa di Rawat” Titah Zen
“Zenia kakak gak akan keluar dari sini sebelum kamu sembuh”
“Alisa dan anakmu sudah menunggumu cepat kak cepat” Zen sedikit memelas pada kakaknya
“Maksud mu Zen” Aditya melepaskan genggaman tangannya.
Zenia menjelaskan semuanya sehingga dalam waktu singkatpun Aditya memahami semuanya.
“Tanyakan pada Asistenmu itu dia pasti memiliki video CCTV waktu itu”
Sekelebat bayangan Alisa yang ia siksa berkeliaran di pikirannya, matanya sedikit berair mendengar cerita Adiknya itu, Aditya baru paham akan maksud dari surat Tyo ayahnya Alisa, badannya menegang dia terus berfikir bagaimana dan dari mana ia terlebih dahulu untuk meminta maaf pada orang yang pernah ia cintai dulu.
Salam Manis❤
__ADS_1