My Struggle

My Struggle
Tidak Termaafkan


__ADS_3

“Kak maafkan Zen, maafkan Zen” Kalimat itu terus terucap dari bibir adiknya namun Aditya tidak menggubrisnya


“Ka tolong anterin gue ketempat Alisa”


“Baiklah” Raka mendorong kursi roda yang dipakai sepupunya itu.


**


Alisa terus bermain-main dengan kedua putranya yang sangat tampat, dengan bergantian Alisa menyusui kedua jagoannya.


Sementara Dini dan Alex berada di Sofa yang sedang memperhatikan ibu Gibran dan Gabriel.


Tok-tok-tok


Seseorang mengetuk pintu ruangan Alisa dan kali ini Alex yang membukakan pintunya.


“Kalian” Alex sedikit terkejut begitupun Aditya


“Siapa Lex? Alisa sedikit berteriak dan Alex langsung mempersilahkan mereka masuk


Awalnya hati Alisa begitu damai dan sangat tenang untuk waktu sekarang namun seketika dunianya seperti runtuh ia melihat ayah dari kedua putranya yang duduk di kursi roda.


Ia langsung mebawa kedua jagoannya ke dalam pangkuannya anak-anaknya tertidur sangat pulas.


“Lex Din mungkin kita harus keluar sebentar” Ucap Raka


Alex dan Dini langsung mengerti maksud Raka dan langsung meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Aditya sangat teriris melihat ibu dari anak-anaknya dalam keadaan yang sangat-sangat menghawatirkan


Alisa menyadari Aditya sedang menatapnya dan ia langsung membuang mukannya rasanya sakit dan mungkin tidak akan pernah sembuh.


“Maafkan aku” kalimat pertama yang terucap dari bibir pucat Aditya.


Alisa terus membuang mukannya dan semakin erat mendekap bayi kembarnya untuk menghilangkan rasa yang pernah ada terhadap Aditya.


“A-aku harus bagaimana Al? biar kamu bisa memaafkaanku?” Suaranya sedikit bergetar


Alisa terus saja membuang mukanya dia tidak akan pernah memaafkan seseorang yang memang telah menghancurkan hidupnya.


“A-apakah aku boleh melihat anaku Al, kelihatanya bukan satu ya?” Aditya mencoba mencairkan suasana namun tidak bisa meluluhkan Hati Alisa yang sudah sangat-sangat keras pintu maafnya ia tutup serapat mungkin untuk Aditya.


“Keluarlah Adittya aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku tidak akan pernah memberitahu anaku siapa sebenarnya ayahnya” Air matanya seketika berhenti ia terlalu lemah jiga menangis sekarang.

__ADS_1


“Aku hanya ingin melihat anaku Al”


“Anakmu bilang Aditya? Sekali lagi SEKALI LAGI kamu bilang mereka anakmu?”


“Dimana ayah mereka ketika ada seseorang yang menyiksanya dan hampir kehilangan anaknya DIMANA?”


“Alisa tolong maafkan aku Al” Aditya terus memelas pada Alisa


“PERGIII”


Alex Dini dan Raka sangat menghawatirkan mereka dan langsung masuk kedalam.


“Alisa jangan seperti itu” Dini terkejut dan langsung menggendong kedua anaknya.


“PERGIII” Alisa melemparkan sesuatu yang ada di mejanya bahkan bantalnyapun tidak ketinggalaan ia lempar juga.


“Mungkin lain waktu Dit” Raka membawa Aditya ke luar dan kembali keruangan VVIP nya


“Tenanglah Al tenang” Dini telah membaringkan kembali Anak Alisa dan langsung mendekap Alisa


“Jangan pernah izinkan dia kembali lagi Din” Alisa menangis sejadinya


“Baiklah-baiklah” Alisa menepuk-nepuk punggung ibu Gibran Dan Gabriel itu


**


Hari ini Alisa dan kedua anaknya diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit ia memutuskan untuk mengurus pemakaman ayahnya terlebih dahulu dan ia memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya terlebih dahulu sebelum kembali ke Inggris.


Sementara Dini dan Alex bersiap-siap dahulu di hotelnya dan setelahnya mereka akan menjemput Alisa di rumah sakit.


Tok-tok-tok


Ada yang mengetuk kembali pintu ruangannya Alisa pikir itu suster yang akan membantunya beres-beres namun dugaannya salah orang itu akan membuat Alisa naik darah lagi iya itu Zenia ia ingin meminta maaf atas kelakuannya dan kakaknya.


“Al” Zen langsung tertunduk dia takut melihat reaksi Alisa


Alisa menoleh ia sedang menimang Gibran dan Gibrael di sofa ada cahaya masuk ke sela-sela jendela disana dan sangat bagus untuk kesehatan anaknya


“Eh Zen ada apa?” Tanya Alisa seakan tidak ada masalah diantara mereka namun Alisa langsung focus kembali kepada kedua bayinya.


“Maafin gue Al, gue yang salah gue yang menjebak kakak gue untuk bisa melihat lo waktu itu”


“Maksudnya?” Alisa terus meninmang Gibran dan Gibrael

__ADS_1


“Iya malam itu aku yang menjebak kakakku Aditya supaya bisa melihat lo bahwa lo memang wanita murahan tapi gue yang salah Al maaf”


Deg


“Wanita murahan-Wanita murahan” Kalimat itu terus terngiang dipikiran Alisa takut emosinya tidak tertahan lagi Alisa meletakan kedua anaknya di ranjang khsusus bayi dan dia cepat-cepat membereskan pakaiannya.


“Al-Alisa lo denger gue gak sih?” Tanya Zen dia menggenggam pergelangan tangan Alisa namun Alisa langsung menepisnya dengan kasar.


“Aw Alisa?” Zen dikit meringis karena tangannya memang belum sembuh total


“Terus lo kesini mau apa Zenia?” Tegas Alisa


“Gue gak ada waktu untuk ngeladenin kalian”


“Gue hanya mau minta maaf Al, terutama kakak gue tolong lah al dia sedang sekarat” Air matanya meleleh meningat kakaknya yang memang sedang kritis


Namun Alisa tidak luluh dengan ucapan Zen.


“Jadi lo hanya minta maaf karena kak lo?”


“Mestinya lo mikir Zenia, gue begini karena siapa? Ayah gue meninggal ? Keluarga gue hancur? Itu hanya kebetulan menurut lo?” Alisa tidak tahan emosinya sudah tidak terkontol lagi air matanya perlahan menetes namun buru-buru ia mengusapnya


“Bukan gitu Al, kami memang salah untuk itu aku meminta maaf atas keluargaku” Zen menangis sesenggukan


“Minta maaf segampang itu Zenia?”


“Lo gak liat perjuangan gue dan keluarga gue, bukan 1 atau 2 tahun Zen tapi belasan mungkin puluhan tahun dan itu gak gampang dan hari ini lo minta maaf dengan mudah dan gampangnya”


“Gak semudah itu, aku akan pergi sejauh mungkin dari kalian dan aku tidak akan pernah membiarkan anaku menderita” Alisa berjalan menuju Jendela yang menyuguhkan pemandangan kota dia butuh sedikit udara karena diruangan itu serasa panas dan keadp udara padahal disana ada dua AC sekaligus.


“A-aku mengerti Al, gue terima kalau lo gak maafin keluarga gue tapi tolong maafin ayah dari anak-anak lo”


“Apa ayah maksud lo? Ha” Alisa tersenyum sinis


“Ayah yang menyikasa anak dan ibunya hingga hampir meninggal itu yang dinamakan ayah iya Zen”


Alisa mengatakan dengan lantang di dekat telinga Zen sehingga membuat Zenia sangat merinding dan ketakutan.


“Gue gak akan pernah membiarkan Si Aditya itu menyentuh anakku mereka hanya memiliki orang tua tunggal, dan aku akan memberitahunya kelak bahwa ayahnya sudah MENINGGAL” Alisa seperti kesetanan


“PERGI dari sini sebelum aku melakukan seseuatu yang tidak diinginkan padamu Zenia”


“PERGII” Teriak Alisa yang menggema diseluruh ruangan

__ADS_1


Zen langsung pergi meninggalkan Alisa dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Alisa terduduk di Sofa ia tidak percaya dengan tindakannya yang barusan air matanya meleh kembali namun ia harus lebih kuat untuk anak-anaknya Gibran dan Gibrael


salam manis❤


__ADS_2