My Struggle

My Struggle
Menemuimu


__ADS_3

“Alisa-Alisa” Dini menghubungi Alisa dengan sangat terburu-buru dan suaarnya sedikit khawatir


“Ada apa Din, coba tenang dulu”


“Itu Al ada seseorang yang mencarimu ke rumahku”


“Siapa?” Tanya Alisa Heran siapa yang sebegitu niatnya untuk mencarinya.


“Sepertinya Adiknya Aditya Al, dia mencarimu bagaimana ini?”


“Jangan kasih tahu saja Din, biarkan saja”


**


“Terima kasih ya kak Alex telah memberitahu alamat Alisa, Zen pamit”


Zenia meninggalkan kediaman Alex yang sebenarnya bukan kediaman Alisa.


“By kamu kok memberi tahunya sih”


“Gakpapa Sayang kasian lagian dia kan cuman mau kasih surat dari Tuan Tyo untuk Alisa” Jelas Alex


“Masa sih, padahal Alisa sudah mewanti-wantinya agar kita tidak memberi tahunya iish” Dini merajuk dan meninggalkan Alex untuk menemui anaknya Jasmin ya 2 bulan yang lalu Dini melahirkan putri kecil yang bernama Jasmin.


**


Tok-tok-tok


“Sayang Mommy akan membuka pintu dulu sebentar nanti Mommy akan kembali kesini”


Alisa meninggalkan Gibran dan Gibrael untuk membukakakn pintu mungkin seseorang yang ada penting dengannya.


“Iya” Alisa sudah melihat siapa yang berada di luar sana namun ia langsung menutupkan kembali pintu ruamahnya namun Zen langsung menghadang namun telat pintu itu sudah tertutup dengan rapat.


“Alisa maafin aku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meminta maaf pada kamu, kakaku koma tolonglah dia untuk sekali ini aku yakin kamu gak bakalan maafin kami berdua, tapi Al tolong kakaku tolong setelah kakaku sembuh aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi” Tutur Zen sedikit berteriak karena Alisa enggan membukakakn pintu untuk Zen


“Baiklah kalau kamu memang gak bisa maafin kami, ada surat untukmu dari ayah mu”


Zen meletakan surat itu dengan sembarang dan langsung pergi meninggalkan kediaman Alisa, dengan spontan Alisa membukakan pintunya namun tidak ada seorangpun disana hanya ada sepucuk surat yang tergeletak di lantainya.


“Berbahagialah nak ayah tidak ingin kamu menderita berjanjilah” Baru satu kalimat Alisa membacanya air matanya sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


“Jangan bersedih ayah akan selalu disisimu sayang, kamu harus melanjutkan perjuangan ibu dan ayahmu membesarkan anak-anakmu berasama Aditya”


“Aditya?” Alisa sedikit heran dan melanjutkankembali membaca surat dari ayahnya


“Aditya sudah menyelamatkan ayah nak, tanpanya ayah akan mati sia-sia dan mungkin Aditya juga tidak akan tertolong jika ayah mati, namun ayah tidak mau kamu bersedih apalagi melihat cucu-cucu ayah tidak memiliki ayah berjanjilah untuk selalu menolongnya kembali lah padanya ayah tau dia laki-laki yang baik”


Salam hangat


Alisa menangis sejadinya dia kembali merindukan sang ayah, ayah yang baru ia temui setelah sekian lama namun harus dengan cepat meninggalkannya dengan kedua cucunya.


**


“Jangan dokter saya mohon” Zen terus memelas karena dokter menyarankan untuk melepas alat bantu yang menempel pada Aditya


“Tenang nona, mungkin ini untuk kebaikan tuan muda” Jelas Ken dia terus menahan tubuh Zen


Satu-persatu alatpun akan di dilepaskan namun tanpa angin tanpa ada apapun Alisa dan si kembar sudah berdiri di depan pintu kamar yang digunakan Aditya


“Jangan dilepaskan” Semua orang bahkan dokterpun terkejut akan kehadiran Alisa suaranya yang lantang bergema di ruangan itu.


“Baiklah” Sang dokter memasangkan kembali alat-alat yang menopang hidup Aditya


Alisa menidurkan Gibran dan Gibrael di kedua sisi Aditya untung saja anjang yang digunakan Aditya sangat lebar.


Kedua anaknya terus tertidur dengan pulas Alisa mebiarkan mereka bertiga dan langsung menuju jendela besar yang ada di ruangan itu yang langsung menghadap pemandangan kota Jakarta yang sangat ramai


Alisa sepenuhnya belum ikhlas ia hanya akan menolong Aditya untuk kali ini dan itupun berdasarkan surat dari ayahnya Tyo


Zen dan Ken memutuskan untuk keluar dari ruangan itu memberikan waktu untuk mereka berdua.


Alisa melamun cukup lama ia tersadar Gibrael menangis dan Rewel, namun suara itu seperti maghnet bagi Aditya walaupun ia sedang dalam keadaan koma namun pendengarannya berfungsi dengan baik ia mendengar suara bayi yang menangis kencang disamingnya matanya sangat susah untuk dibuka tubuhnya memberika isyarat dengan mengalami kejang-kejang dengan segra Alisa menggendong kedua putranya dan memanggil Zen untuk kemudian memanggi dokter.


“Bagimana keadaan kakak saya dok?” Tanya Zen Ken hanya berada di pojok ia hanya akan bergerak jika dibutuhkan


Alisa sedang menidurkan kedua anaknya kembali ia seperti kurang peduli pada Aditya.


“Keajaiban Tuhan Nona, tuan Aditya mengalami perubahan yang signifikan mungkin beberapa jam kedepan tuan akan siuman” Sang dokter memamerkan gigi rapihnya


“ternya kamu memang peka sama perasaan ayahmu nak” Alisa mengepok-ngepok punggung Gibrael anaknya sedikit tenang.


**

__ADS_1


“Al Alisa mau kemana?”Tanya Zen


“Kami akan ke Inggri kembali, kami sudah tidak dibutuhkan lagi” Alisa tidak menatap Zen pandangannya hanya lurus kedepan


“Nona jangan terburu-buru bayi anda bisa kelelahan diperjalanan” Tutur Ken


“Saya bisa mengurusnya” Pandangannya masih lurus dan ia bergegas meninggalkan rumah sakit untuk menuju Bandara


Tidak lama Alisa meninggalkan RS Permata tangan Aditya sudah bergerak pertanda sebentar lagi ia akan siuaman.


“Zen” Kalimat utama yang ia suarakan suaranya sangat pelan namun mampu terdengar oleh Zen dan Ken.


“Kakak” Zen memeluk sang kakak sudah hamper 6 bulan Zenia tidak mendengar kakaknya dan membuat hatinya teriris samun sekarang ia merasa bahagia karena kakaknya sudah sadar


“Zen bayi siapa tadi yang nangis? Kakak mendengar suara bayi tadi” Tutur Aditya


“Hm anu kak, itu suara bayinya Alisa”


“Apa” Aditya lagsung melepas selang oksigen yang terpasang di hidungnya dan ia juga melepas infusan yang melekat pada tangannya ya lumayan pelan juga, karena ia juga seoarng dokter Aditya tidak gegabah dengan melepas Infusan dengan cara kasar


Ia kemudian berlari namun ia terjatuh Zen dan Ken terus menolongnya.


“Kakak tenanglah mereka sudah kembali”


“Tidak Zen kakak harus menyusulnya anak-anak kakak membutuhkan seorang ayah”


Aditya sudah sampai di lantai bawah Rumah sakit itu dan langsung memberhentikan taxsi ia tahu harus kemana mengejar Alisa dan anaknya.


**


Alisa mendengar bahwa pesawat yang akan ditumpanginya sebentar lagi akan lepas landas Alisa cepat-cepat melangkahkan kakinya bersama kedua putranya namun langkahnya terhenti ketika seseorang menarik tangannya dan langsung jatuh dipelukan seseorang.


Dalam beberapa menit mereka saling diam Alisa merasakan detak jatung ayahnya bekerja dengan normal di tubuh seseorang ya yang memeluknya tadi adalah Aditya dengan susah payah Aditya memasuki Bandara itu karena banyak penjaga yang menjaga di luar untunya Ken dan Zen siap siaga.


Air mata Alisa kembali meleleh, dia sangat merindukan ayahnya


“Maafkan Aku, maafkan aku” kalimat itu terus terlontar dari bibir Aditya


Namun Alisa tidak bergeming ia juga tidak melepaskan pelukan Aditya, Alisa masih menikmati suara detak jantung ayahnya.


Salam manis❤

__ADS_1


__ADS_2