Nine Sexy Dangerous Blackvelvet

Nine Sexy Dangerous Blackvelvet
34.


__ADS_3

"eungh,, Sean jangan suka mencium leher daddy" bukannya berhenti, ciuman di perpotongan leher Suga dirasa semakin gencar, jika sudah begini mau tak mau ia harus bangun, sebelum Sean menggigit kupingnya,


"eungh, Rose apa yang kau lakukan hm? Jangan sembarangan nanti Sean bangun dan melihatnya" Suga membuka mata dengan di suguhi pemandangan rambut panjang istrinya yang sudah menempel dia area dada,


Rose tersenyum mendapatkan teguran, tapi bukan berarti dia berhenti, dia malah semakin gencar mencari kehangatan di perpotongan leher suaminya membuat Suga terkekeh geli,


"Iya, aku tampan makanya kau melihatku seperti itu,, aww jangan menjilat Rose, kau ingin ada yang bangun? "


Plak


"Sean yang bangun sayang, kau mesum rupanya"


"Sudah lama tidak bermanja kau jadi seperti ini? " Suga memeluknya dengan erat, menenggelamkan wajah berseri istrinya yang terlihat sudah segar dalam pelukan nya, Rose pasti sudah mandi duluan sebelum ia bangun,


Ia melirik ke sekitar tempat tidur, tidak ada siapapun disini, hanya dia dan Rose yang masih betah bersembunyi di lehernya,


"Dimana Sean? " Rose bangun, Netranya bergerak memandang ke arah luar, Suga mengerti dan langsung mengikuti arah pandangnya, Sean sedang duduk memancing bersama Sehun pagi-pagi seperti ini,


"Hah, Sean semakin dekat dengan papanya ya? " entah bagaimana Rose memahami perasaan Suga, rasa cemburu pasti ada,


Suga sangat menyayangi Sean, melihat Sean bertemu Ayah kandungnya pasti ketakutan akan rasa sayang yang terbagi pasti muncul, belum lagi ketakutan jika Sean akan melupakannya, tapi itu tidaklah mungkin, sejak kecil Sean juga menyayangi Suga,


Suga yang merawat sejak bayi, bahkan Rose dulu sempat iri karena nyatanya Sean lebih dekat dengan Suga,


"Rose, kau tidak akan meninggalkanku meski Sehun sudah bertekad untuk bertanggungjawab kan? " Rose tersenyum dengan anggunnya, mana mungkin seperti itu dalam pikiran nya pun tidak akan pernah terjadi, ia suka dengan cara Suga yang begitu lembut terhadapnya, perasaan nya dan juga Sean, laki-laki itu tidak egois dan memaksakan kehendaknya, Suga selalu meminta apapun dan berbicara padanya dengan sopan,


Akhir akhir ini waktu Sean memang lebih banyak dihabiskan dengan ayah kandungnya, sehingga Suga merasa ada sesuatu yang kosong di hatinya,


Tapi Rose percaya anaknya pintar dan cepat memahami situasi dan kondisi, jika Daddy dan anak sambung itu berbicara empat mata pasti semua akan baik-baik saja,


"Maksudnya aku harus mengatakan itu pada Sean? Mengatakan padanya agar tidak terlalu dekat dengan ayah kandungnya?" Suga bertanya setelah Rose berbisik di telinganya,


"Kau tidak salah kan? Aku tidak bisa membayangkan wajah kecewanya sayang" menghadapi rengekan Suga seperti ini hanya Rose yang bisa, anehnya itu di luar kebiasaan, sikap dingin suaminya pada orang lain membuat Suga terlihat begitu aneh sekarang,


Suga hanya manja pada Rose dan begitupun sebaliknya, mengenal dekat dan menjadi sepasang selama bertahun-tahun membuat mereka saling terbuka satu sama lain,


"Satu hal yang aku sadari laki-laki itu memonopoli anak kita, dia ingin menjauhkan aku dari Sean, bahkan,,, kau bisa lihat caranya mendekati mu?"


'Aku tidak mencintainya! ' bisik Rose tepat di telinga Suga, hal itu menjadi sebuah kelegaan tersendiri, meskipun ketakutan akan hal lain juga selalu muncul, Sehun adalah orang yang tidak akan melepaskan sesuatu dengan mudah,


'Aku akan membujuk Sean agar banyak menghabiskan waktu denganmu lagi'


Suga menggeleng dan menahan pergerakan Rose saat dirasa wanitanya itu akan pergi, pergi untuk membujuk Sean,


"Sayang, dengar baik-baik, aku tidak suka kau mengatakan hal apapun yang akan menyakiti hati putra kita, aku akan mengalah, kau di sampingku itu cukup untuk meluruhkan ego ku, aku tidak apa-apa, Sean akan datang dan meminta aku menceritakan dongeng untuknya lagi, ini hanya soal waktu"

__ADS_1


'Ah, gimana kalau kita punya anak lagi? '


bisa bayangkan wajah Suga yang memerah, Rose benar-benar menghancurkan kepribadian dingin tak tersentuh miliknya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Jadi kemana tujuan kita setelah ini?, kita buronan sekarang, apa kita akan dapat tinggal di kota lagi? " Yerim, menggigit bibirnya setelah Jisoo bertanya, bukan dirinya sendiri yang ia khawatirkan melainkan kondisi sang ayah yang masih tinggal di desa,


"Bagaimana dengan ayah? "


"Captain Kwon Jiyong telah memindahkan mereka ke Thailand, bersama ibu Lisa" entah Irene harus membalas budi dengan cara apa pada Crishtian, laki-laki itu selalu bergerak dengan cepat, bahkan tak terduga,


"Kau punya banyak koneksi, terimakasih,,, "


Mereka terdiam sembari memikirkan langkah kemana mereka harus pergi, dan strategi apa yang kiranya akan membuat rezim Perdana Menteri terpukul mundur,


"Wendy, ada apa dengan bibirmu? " tanya Seulgi yang baru menyadari sesuatu, bibir bengkak yang sengaja di tutupi dengan liptint,


"Digigit semut! "


"Ouw semut yang nakal ya" sindir joy dengan tawa mengejek, sejujurnya Joy melihat semuanya siapa yang tak kesal jika di bangunkan tengah malam, hingga membuatnya tak bisa tidur lagi,


"ekhm,, aku punya informasi penting" seluruh atensi beralih kepada NamJoon, pria itu sok sibuk dengan laptop di depannya,


"Wow aku suka informasi ini,,, "


"Apa yang kau katakan? Jika sudah begitu nilai mata uang kita akan semakin jatuh, aku setuju jika kau berniat menghancurkan perdana menteri, tapi bukan berarti negara kita hancur juga, memang kau dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan? tidakkah kau punya empati? Pengusaha pengusaha kecil tidak bersalah akan cepat terkena imbas jika krisis semakin parah, kau keterlaluan Joy, kau semakin tidak punya hati! Dendam memang menutup seluruh mata hatimu! " HoSeok berseru keras sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan lingkaran meeting di antara mereka,


"Perusahaan HoSeok pasti terkena imbasnya, begitupun agensi ku, jika kepolisian menetapkan aku sebagai tersangka, image dari agensi ku juga sudah di pastikan hancur "


"Belum lagi karirku, fans pasti kecewa karena aku jadi buronan sekarang" tidak ada dari mereka yang baik-baik saja, masalah terus datang seolah mendesak mereka untuk kalah,


"Kalau begitu kalian tidak usah ikut kami, biar kami berjalan sendiri seperti dulu,, " kesal Seulgi yang begitu ketara, Mino sendiri yang membujuknya untuk terus maju menyelesaikan misi ini, tapi dia sendiri malah mengeluhkan agensi dan nama baiknya yang hancur,


"Benar, lagi pula Jungkook,, tidak ada yang menawari mu untuk bergabung dengan kami kan, jika hanya karena kau takut pada captain mu, aku yakin Captain mu tidak akan menghukum dirimu walaupun kau tidak sejalan dengannya, terus kenapa kau ada disini? Pulanglah sana, hus,, hus"


Jungkook mendelik tajam


"Hey sinis sekali kau mengatakannya, aku kan hanya,,, "


"Hanya apa? Kau seharusnya mengerti, kita semua seharusnya mengerti, jika misi ini membuat kita harus mengorbankan sesuatu, citra, harta, bahkan cinta, untuk apa kita hidup bergelimang citra, harta bahkan cinta, tapi jika kehormatan dan harga diri orang terkasih kita tidak di kembalikan di hancurkan! " Jisoo berujar kesal dan sedikit berteriak, perbedaan pendapat ini benar-benar membuatnya kesal, ia bahkan tak segan segan menendang sisa tumpukan api unggun yang telah padam semalam, sehingga debu nya berhamburan kemana-mana,


"Maaf, Jisoo sensitif dia sedang hamil,,"


"Tidak, jangan meminta maaf Minhyun! Kalian! Jungkook dan Mino, Lisa benar! Kalian pulanglah sana, menjauh, selamatkan harta dan image kalian!, dan Joy, Wendy, kalian harus bertanggungjawab dengan semua ini, HoSeok benar, kalian keterlaluan! Blackvelvet tidak pernah mengorbankan orang tak bersalah untuk dendam ini"

__ADS_1


"Siapa kau memerintah?" Joy berseru tidak terima, bahkan dia berdiri menantang Jisoo dengan tajamnya,


"Siapa kau mengatur ku? Kalian tidak tahu aku dan Wendy berusaha menggagalkan sesuatu hal yang berhak untuk di selamatkan! "


"Papa, kenapa bibi Joy marah-marah?"


Sehun bergerak secepat kilat membawa anaknya menjauh, walau bagaimanapun pertengkaran tidaklah pantas untuk anak anak,


Dari kejauhan HoSeok melihat dan mendengar semua itu, sebenarnya sejak tadi ia pergi ke tenda hanya sekedar duduk menghindar saja, tapi perdebatan itu tetap masih dapat ia pantau dari tempat dia berada,


"Maksudmu apa Joy? Katakan dengan jelas" Suga berujar dingin ketika emosi dari kedua wanita bersahabat itu mulai memuncak,


"Salah satu dari banyaknya kapal itu mengangkut orang-orang tak berdosa,,, mereka akan dijual, kau tau? Perdagangan manusia renta! Bagaimana bisa aku membiarkan itu semua terjadi? Kau masih memikirkan aku melakukan kesalahan sekarang? Aku dan Wendy tidak tau kapal mana yang mengangkut mereka, itu karena kalian semua mengacaukan rencana kami! Bertindak sebagai pahlawan untuk melindungi para pembunuh itu! "


"Park Sooyoung kendalikan dirimu! " peringat Seulgi,


"Apa? Menjijikkan! Seharusnya aku tau kalian tidak benar-benar membara seperti dulu, seharusnya aku dan Wendy tidak mengikuti kalian! Dan kau menyebut dirimu adalah Captain? Kau bertindak sesuka hati mu, menyebabkan semua ini terjadi! Kau gagal melindungi kami! "


Plak,,,


Habis sudah kesabaran Jennie, satu hal yang perlu diketahui ia menyesali keputusannya memukul wajah Joy, ia menatap tangannya dengan sendu, beralih menatap Joy yang masih terpaku dengan tindakannya,


"Jennie, kau tidak seharusnya memukul Joy, sekarang kau membuat situasi semakin kacau " Vernon berbisik di telinganya sembari menahan Jennie yang hendak ambruk,


"Maaf,, aku sedikit memperingatkan"


"Nayeon kita hanya perlu diam saja,, "


"Tidak Bobby, aku disini untuk kau dan mereka kan? Untuk kedua pihak, Blackvelvet untuk orangtua mereka, dan Bthirteen untuk Mendiang Captain Daesung, faktanya adalah semua ini berkaitan, lalu kenapa kita harus terpecah belah seperti ini? Setiap manusia memiliki ego, tapi tidak untuk di lihat siapa yang paling tinggi ego nya, kita disini untuk meraih kemenangan sama-sama, aku membenarkan Joy tapi aku juga membenarkan Jisoo, kita! bukan hanya Joy harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada kehidupan negara kita, ini hanyalah kelalaian bersama, dan kita bisa memperbaiki ini bersama-sama, kita hanya kurang terbuka antara satu sama lain, dan itu adalah penyebab utama perpecahan terjadi, percayalah padaku amarah hanya akan membuat kita semua hancur"


Nasihat Nayeon berhasil masuk kedalam hati mereka yang berkonflik, bahkan JHope saja yang semula menghindar lekas bergabung kembali ke dalam lingkaran pembicaraan,


Jennie menangis tersedu-sedu sembari memeluk Joy, begitupun dengan Jisoo, efek hormon kehamilan membuatnya memiliki suasana hati yang mudah berubah-ubah,


"Queen, aku... "


"Ayolah, kita bersaudara kau adikku tidak perlu meminta maaf" ujar Queen bergabung memeluk Joy dan Wendy,


"Seulgi aku,,, "


"Asal kau ingat ya Mino, selagi para Fans mu itu masih menuduhku sebagai benalu di agensi mu, aku tidak sudi menerima hadiah apapun jika kau membelinya dengan uang dari agensi mu itu! " Mino mengangguk takut, ancaman Seulgi benar-benar serius sejak dulu,


"Yahh, aku pikir Jungkook akan benar-benar di usir dari sini aku kan sudah berperan menjadi provokator yang baik!"


"Aku tau kau memang licik Lalisa! " sungut Jungkook tidak terima.

__ADS_1


__ADS_2