
"Jangan mengangkat nya sendiri Jisoo, itu cukup berat" Seulgi bergegas mengambil alih koper peralatan medis milik Jisoo dang memanggul nya dengan sendiri, semua tahu Seulgi yang paling kuat di antara mereka semua,
Hari ini captain sudah memerintahkan mereka untuk segera mengemasi barang-barang, mereka akan melakukan misi penting yang belum di ketahui apa itu,
Jisoo melangkah kembali ke dalam tenda masih harus mengorganisir seluruh barang barang nya dan suami, entah Minhyun dimana dia seperti tidak peduli,
Semenjak pembicaraan mereka di panti kala itu, mereka tidak berbicara jika tidak ada sesuatu yang penting dan mendesak, Minhyun sendiri juga tidak bertanya apa gerangan yang membuat Jisoo diam, jangankan bertanya, merasa juga mungkin tidak,
Seingat Jisoo selama mengenal Minhyun dia adalah laki-laki yang begitu peka, dia diam saja karena ngantuk pun Minhyun mengetahui nya, namun tidak lagi sekarang, seperti badai salju membekukan suasana dalam rumah tangga nya,
Grepp
Minhyun terkekeh ketika tangan Jisoo spontan memukul kepalanya, ia pikir itu Lisa karena akhir-akhir ini dia selalu mengganggu nya, dan tidak pernah berhenti bertanya,
'Bagaimana rasanya hamil? '
Seperti nya dia mulai menyukai anak anak,
"Calon mamaku"
"Minhyun lepas, aku masih banyak urusan!" entah apa yang membuat Minhyun tiba-tiba bersikap manja seperti ini, bergelayut di punggung Jisoo, mengusap usap perutnya yang mulai berubah,
"Apa? Aku merindukan bayi ku apa tidak boleh? "
"Ya tapi tidak sekarang, aku sibuk kau tidak melihatnya? " Jisoo kesal mendorong Minhyun agar menjauh darinya namun karena Minhyun memeluk perutnya hal itu membuat Jisoo berbaring di atas dada suami,
"Sudahlah, kita harus cepat sebelum captain memang,,,"
"Aku mencintaimu Jisoo" Jisoo mendongak melihat Minhyun yang kini juga menatapnya dari atas,
Tampan, satu kata untuk suaminya hari ini, meskipun mereka semua belum punya kesempatan untuk mandi,
"Kenapa diam saja hm? Kau tidak mencintai suamimu ya? " Jisoo terdiam dengan kabut kemarahan kembali menyelimuti kedua matanya,
Benarkah itu ungkapan cinta? Atau hanya omong kosong saja? Jisoo berontak dan kembali menata barang-barang setelah terlepas dari pelukan,
Sementara Minhyun hanya tersenyum dia kembali memeluk sang istri dari belakang, menghirup harum lavender dari baju yang di pakai Jisoo,
"Aku suka melihatmu cemburu, semakin cantik dan gemas,, kau berpikir aku tidak peka lagi ya? " Jisoo melotot, tangannya berhenti aktivitas menata nya tertunda,
'Apakah Minhyun bisa membaca pikiran orang? '
__ADS_1
"Bukan karena aku bisa membaca pikiran mu sayang, itu karena kau istriku "
Darimana datangnya kata-kata mendebarkan itu, ia harus berpegang teguh pada hatinya, tidak boleh mudah percaya lagi,
"Jisoo, kau salah paham"
"Apanya Minhyun? Bukankah Wendy cinta pertama mu? " Minhyun tersenyum, mengecup sekilas bibir Jisoo sembari menatap nya dalam,
"Jisoo, lebih dari cinta pertama aku menganggap nya seperti saudara, jika kau bertanya apa perbedaan kau dan Saunghwan aku akan menjawab, aku menyayangi Wendy seperti saudara yang harus ku jaga, sedangkan aku menyayangimu seperti seorang gadis yang ingin aku miliki, dan ku pilih sebagai tempat berbagi cinta untuk selamanya" Jisoo menatap mata Minhyun dengan sendu,
Tidak ada kebohongan di mata Minhyun, dan itu membuat Jisoo sendiri merasa bersalah,
"Aku minta maaf Minhyun, aku sangat sensitif" Jisoo menangis sesenggukan di dada suaminya,
"baru pertama kali ini kau cemburu kan sayang, Wendy bilang padaku tadi, aku malah bahagia kau cemburu, sebenarnya aku tau kau menjauhi ku, tapi aku tidak tau apa alasannya"
"Kau menyebalkan"
...π³π³π³π³...
"Aku tidak mengerti kenapa baru sekarang Queen membuat keputusan ini" Lisa tersenyum senang , bersemangat melihat jalan-jalan di depannya, hari ini poninya ia sibak ke atas dengan rapi tujuan nya adalah agar dia lebih fokus,
"ewhh kalian tidak cocok! " Lisa melotot tajam ke arah kantung laundry besar di bawahnya, menatap tajam wajah sinis anak pertama Blackvelvet,
Kenapa ia harus di berikan tugas untuk membawa anak ini? Sudah tahukan jika Lisa tidak pernah bisa akur dengan nya!
"Sean diam! Jika tidak ingat kau ini anak Hyung ku sudah ku pastikan kau ku lempar ke kandang buaya! " kesal Jungkook luar biasa, kenapa momen romantis nya ada saja yang menganggu?
"Bawa saja, aku sudah lama tidak makan daging buaya! Buaya Jungkook! "
"Astaga! Bersabarlah Jungkook, dia kesayangan captain! " bisik Lisa mencoba menasehati Jungkook yang sudah bersiap membuang tas laundry berisi Sean ke tempat sampah,
Jungkook kembali menghela nafas sabar, menatap sekeliling guna fokus pada kode dari teman satu grupnya,
Hari ini mereka memerlukan bantuan Sean untuk masuk ke brangkas uang, mereka perlu jutaan won untuk membeli senjata baru, jadi mereka harus ekstra sabar untuk membujuk anak itu
"Paman Jungkook aku belum bisa berhitung bagaimana aku mengambil uangnya? "
"Kau hanya perlu mendorong uang keluar nak, bibi yang akan memasukkan uangnya ke dalam tas dan menghitungnya"
"Bibi Lisa apa yang kita lakukan ini disebut mencuri? "
__ADS_1
"Oh tentu tidak sayang, kita hanya berhutang saja, lain kali uang ini kita kembalikan, kalau ingat hehehe, aku benar kan Jungkook? " Jungkook mengangguk, sementara mereka bersiap karena captain sudah memberikan kode pada mereka lewat sinaran laser,
"Bersiap Sean kau sembunyi dulu " Lisa dan Jungkook berjalan degan penyamaran yang baik, topi bulu, jaket tebal dan tas laundry yang tertera nama sebuah jasa laundry yang mereka ambil dari tempatnya tak jauh dari sana, dengan begitu orang luar tidak akan curiga,
Memasuki dalam bank, semua pengunjung merunduk takut di bawah meja, bahkan bagian resepsionis berdiri mematung tak bergerak setelah sinaran laser dari Sniper Seulgi dan Mino yang siap menembus jantung mereka kapan saja,
Mereka berdua sedang menjadi pengintai dari atas gedung seberang,
Wendy dan NamJoon bagian it, memblokir sarana komunikasi bank ini pada dunia luar baik itu polisi atau angkatan Darat, dan juga memblokir CCTV
Sementara yang lain bertugas mengancam dengan menodongkan pistol dan sajam pada orang orang,
"Bibi, aku melihat mommy menodongkan pisau pada seorang ahjussi" panik Sean seketika mengagetkan Lisa dan Jungkook, padahal mereka sudah menutup tas agar Sean tidak melihat kekejaman mereka,
"Ah itu, ibu mu hanya mengajari mereka cara memotong buah dengan baik "
"Aku takut, bisakah kita keluar sekarang, aku ingin mommy! "
"Kita akan segera keluar sayang, semakin kau cepat semakin baik" Lisa mendudukkan Sean pada meja stainless sebelum akhirnya membantu Sean masuk ke dalam pintu brangkas yang kecil seukuran tubuh Sean, beruntung Sehun dan Bobby dapat membuka nya tepat waktu, sehingga mereka tidak perlu menunggu waktu lama lagi,
"Sekarang dorong uang uang itu keluar Sayang" ucap Sehun, Sean melongok kan kepalanya agar dapat melihat sang ayah yang masih menunggunya,
Sean memang tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tapi dia cukup baik dalam menjalankan perintah, meskipun dalam hati Sehun begitu menyesal anaknya harus melakukan pekerjaan kotor di usia dini demi menyelesaikan misi ini,
Bagaimana pun ini adalah PR bagi Sehun dan Rose untuk menghadapi memori anaknya kelak, semoga anaknya dapat mengerti saat dewasa nanti,
"Sudah tidak ada uang lagi bibi, tapi ada batu bersinar banyak sekali"
"Tinggalkan itu Sean, kita hanya akan meminjam sedikit" ucap Bobby,
sedikit apanya 2 kantong besar penuh? Bahkan Sehun bingung nanti anaknya sembunyi dimana sedangkan kantung laundry super besar itu telah penuh terisi uang,
"Papa gendong"
"Baik tapi ada satu syarat, tutup matamu jangan buka kecuali Papa meminta nya"
"Kenapa? "
"Kau mau mainan kan? Papa kasih surprise untuk Sean" Sean melompat degan senang dalam gendongan Sehun, mereka keluar degan hati-hati,
Satu persatu anggota keluar dengan tetap memberikan ancaman pada mereka, selama laser yang menyinari dada para petinggi bank belum hilang maka ancaman belum berakhir.
__ADS_1