Nine Sexy Dangerous Blackvelvet

Nine Sexy Dangerous Blackvelvet
37.


__ADS_3

Baku tembak yang terjadi membuat Rose dan Suga terjebak, belum lagi mereka memikirkan nasib Sean bagaimana, saat ini Suga hanya dapat membawa Rose bersembunyi untuk sementara, mereka berdua terkepung dengan banyaknya polisi yang lalu lalang di Koridor lantai 2 ,


"Aku mencintaimu Rose, apapun yang akan terjadi aku mencintaimu, tolong jangan marah pada Sean, dia tidak bersalah ini salahku" Rose segera memeluk Suga dengan erat, ia tidak menyukai Suga berbicara begitu di saat seperti ini, ia teringat saat-saat tertangkap Sehun di penjara pusat dulu, dimana kejadian itu ia hampir meregang nyawa, trauma itu tercipta dan sulit di hilangkan,


"Jangan katakan itu, kumohon" bisik Rose di telinga suaminya,


mereka bertahan di bawah bad seorang pasien yang mengalami koma di ICU,


Mereka berdua hanya dapat memeluk satu sama lain, pistol yang mereka bawa kehabisan amunisi, Rose sudah tidak se berbahaya dulu,


Julukan si gadis beracun tidak lagi melekat padanya, tidak ada bagian tubuhnya yang sengaja di olesi racun seperti dulu, itu karena dia telah memiliki Sean dan Suga sebagai suaminya, dia tidak ingin melukai kedua orang yang selalu memeluknya kapanpun itu,


"Bagaimana dengan Sean?" bisiknya lagi,


"Sehun akan melindunginya,,, dia pasti berjuang untuk anaknya, anak kita" memikirkan Sean membuat air mata Rose tak terbendung, entah bagaimana nasibnya di luar sana,


Apakah Sean telah berhasil selamat?


Apa Sehun benar-benar melindunginya?


"Sepertinya sudah aman Rose,,, aku akan melihatnya terlebih dahulu" Suga keluar lebih dulu untuk memastikan keadaan,


Setelahnya ia meminta Rose untuk keluar dari tempat persembunyian mereka,


'Titt,, titt,,, tittt' bunyi alat alat penopang kehidupan orang yang berbaring di brankar sempat membuat mereka terkejut, atensi berpindah pada seseorang yang tertidur brankar,


Seorang laki-laki muda, wajah bersih dan tampan mungkin saja dia seumuran dengan Jimin,


"Kita perlu sesuatu untuk pertahanan diri" ucap Suga membuat Rose kembali fokus,


Suaminya benar, setidaknya mereka perlu sesuatu sebagai alat pertahanan diri,


"Apa yang bisa kita gunakan disini? " tanya Suga kebingungan ia menatap tajam ke sekeliling, terkadang menatap pintu dengan waspada barang kali seseorang yang akan menyakiti mereka datang,


"Tidak ada hal lain selain jarum suntik"


Rose berjalan mengikuti telunjuk suaminya, beberapa alat medis seperti jarum suntik, dan tabung tabung berisi cairan berbagai warna tersedia disana,


Suga bergerak secepatnya mengambil beberapa ml cairan yang ia ketahui menggunakan jarum suntik, terdapat berbagai macam obat obatan anti depresan yg mungkin saja dapat mereka gunakan untuk mempertahankan diri,


Sebuah map berwarna coklat membuat Rose penasaran, ia membukanya dengan secepat kilat, sedikit mengerti tentang catatan medis dari pria yang terbaring di brankar,


'Kehilangan kendali fungsi motorik? Kesulitan bernafas,,,, '


"Sayang, tidak ada waktu, oke, kita perlu menyelamatkan diri dari sini, pria itu aman, dia di rawat dengan baik, ayo kita pergi" ajak Suga setelah membawa banyak jarum suntik yang sudah terisi ke dalam saku jaketnya,


"Suga,,, sepertinya dia terkena racun bunga mawar yang ku buat, kondisinya sama persis seperti Jimin" bisik Rose pada telinga Suga, jelas Suga tahu maksud istrinya, berarti pria yang berbaring di sana adalah anggota kepolisian,


"Lalu? Aku tidak mengenalnya meskipun aku anggota polisi,,, "


"Aku akan memaafkannya" Suga melotot sontak menarik diri dari Rose, dia paham benar bahwa maaf yang di maksud Rose adalah penawar racun bunga mawar ciptaan nya, penawar adalah simbol memaafkan darinya,


"Jangan sayang, kita tidak punya banyak waktu" tidak peduli meskipun wajah suaminya tampak memohon Rose tetap bersikeras menulis begitu banyak simbol simbol farmasi dalam catatan medis pasien,


"Jangan kau tanda tangani sayang,,, mereka mungkin bisa mengcopy tanda tangan mu, tulis saja Flower Black velvet"


Rose menurut, hampir saja ia menuliskan namanya sendiri dan juga membubuhkan tanda tangan selayaknya dia adalah seorang juru farmasi,


"Ayo kita tidak punya banyak waktu"


...🌾🌾🌾🌾🌾...

__ADS_1


Irene berlari menghindar setelah terpisah dengan teman-teman nya, saat ini dia masih terus di berondongi dengan tembakan yang tidak berhenti,


Ia perlu senjata laras panjang untuk bertahan diri, tidak mungkin hanya menggunakan Colt M1911,


yang ada ia hanya akan kehilangan begitu banyak tenaga,


Seorang anggota polisi berlari menuju tempatnya bersembunyi, Tangan Irene reflek menghadangnya degan Overbed table , bukan hanya untuk menghalangi pergerakan lawan,


Irene menggunakan benda ber roda itu untuk menghajar tempurung lutut lawan agar tak bisa bangkit lagi,


Benar saja, Queen Blackvelvet memiliki reflek tubuh yang bagus, ia bergegas memungut senjata laras panjang yang di bawa lawan, mengabaikan lawannya yang masih berteriak kesakitan,


Tidak perlu menunggu waktu lama, sesegera mungkin Irene membalas tembakan mereka degan begitu baik,


Brakkk


Lalisa bergerak menendang lawan yang sedang mengarahkan senjatanya pada Jungkook, ia bahkan tak segan menginjak perpotongan leher musuh detik itu juga,


"Waahhh aku tidak pernah merasa se bergairah ini" dia tersenyum nakal, menarik pelatuk menembaki para musuh dengan brutalnya, tidak ada satupun yang ia sisakan, semuanya tumbang,


Bahkan dia tertawa girang saat wajahnya terkena muncratan darah dari para musuh,


"Bear,,, lubangi jantung mereka! "


"Diam poni! Jangan coba memerintah ku! " Teriak Seulgi kesal, hanya dia disini yang bisa menghentikan arogansi Lalisa, Irene mana peduli dengan itu,


Irene berteriak memberikan komando agar mereka kembali ke mobil segera,


"Hubungi Rose, dan siapapun yang belum terlihat! " perintah Irene di angguki seluruh anggota yang ada disana,


Di sisi lain, Sehun mati-matian mempertahankan diri dari banyaknya tembakan yang mengarah padanya,


"Papa,, bagaimana jika aku tertembak? " tanya Sean yang bersembunyi pada ceruk leher Sehun,


"Itu tidak akan mungkin terjadi, selama Papa disini, Sean akan baik-baik saja" sebagai seorang Ayah, keselamatan anaknya adalah nomor satu, ia bahkan bersumpah akan menghabisi semuanya jika anaknya terluka,


"Papa, mommy bagaimana? "


"Daddy Suga akan menjaganya " ucap Sehun sedikit ragu, namun tetap saja dalam pikir nya, Rose adalah istri Suga, sudah pasti mereka akan saling melindungi,


Suara tembakan berangsur-angsur reda, mungkinkah mereka kehabisan amunisi?


"Daddy,,, "


"Daddy juga akan baik baik saja,, "


"Daddy,, daddy" Sean berlari melepaskan diri dari Sehun, ia berbalik mendapati Rose dan Suga yang berdiri di belakangnya dengan beberapa musuh yang telah terkapar,


"Anak daddy, kau sudah bertahan sangat kuat, kau hebat! " Sehun berdiri mengamati interaksi keduanya, tak lama sebuah tembakan melesat melewati pelipis Suga, beruntung dia bisa menghindar, hanya luka gores kecil yang membuatnya sedikit terluka,


"Kita harus segera pergi! " ucap Sehun, dia bergerak mencari jalan, yang aman,


Hingga di ujung tangga menuju parkir basement, Sean menyadari seseorang yang ia kenali tergeletak di sana,


"Bibi Nae!!!!! " ia berteriak keras membuat ketiga orang tua anak itu mengikuti arah telunjuknya,


"Nayeon!!!! " Sehun dan Rose berlari menghampiri Nayeon yang terkapar lemah, Sean dalam gendongan Suga menggeliat berniat melepaskan diri,


"Denyut nadi nya masih berdetak,,, " mereka bergegas membawa Nayeon pergi menyelamatkan diri,


Di parkir basement, semua orang telah menunggu mereka, belum lagi Bobby yang panik bukan main mengetahui jika Nayeon memisahkan diri dari rombongan,

__ADS_1


"Nayeon!!! " Bobby berteriak panik melihat istrinya datang dalam gendongan Sehun,


Sebuah peluru menghantam bahunya,


"Aku mendapatkan ini" Mino memamerkan sebuah kunci yang menggantung di jemarinya,


"Seulgi akan menyetir dan aku yang akan membawanya, Jisoo dampingi Nayeon, hentikan pendarahan nya! " Mino memberikan kunci mobil pribadinya pada Seulgi, sekarang dia harus tega membiarkan gadis itu bergerak seorang diri,


Sementara Mino mengemudikan ambulance yang di curi nya agar Jisoo dapat menangani kondisi Nayeon dengan nyaman,


Mobil mereka bergerak membelah padatnya kota, dengan di ikuti banyaknya mobil polisi yang terus membombardir dengan peluru,


"Kita tidak bisa bergerak bersama, harus berpisah agar fokus mereka terpecah" Crishtian berbicara melalui Earphones yang terhubung di antara mereka, merasa setuju dengan Captain,


Ke duabelas mobil itu berpisah satu persatu,


Hal sial di alami Seulgi, dia mengemudi dengan kencang tanpa perhitungan berbelok ke arah jalanan yang penuh lubang, belum lagi tembakan yang tidak berhenti mengarah pada kendaraan Mino, beruntung kaca jendela mereka semua memiliki fitur anti peluru,


Dorrr


Mobil yang di kendarai Seulgi oleng ke bahu jalan, sebab peluru menembus roda belakangnya, dia tidak mungkin berhenti, ia terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi, semakin jauh ia berkendara jalanan semakin sepi, pohon pohon menjulang tinggi membuatnya sedikit panik, jaringan dari earphones nya pun mulai terputus,


Seulgi menyerah dengan mobilnya, memarkirnya secara horizontal, lebih memilih membuka sunroof mobilnya


...οΏΌ


...


dan mempersiapkan senapan mesin yang ia simpan di kursi belakang


...οΏΌ


...


Naluri bertahan diri membuatnya berani, melupakan trauma besar yaitu kehilangan ayahnya,


Dalam hati dia berteriak, dia adalah Sniper yang hebat, darah pemberani dari sang ayah mengalir di tubuhnya, keluarga Kang yang terkenal tangguh, dia bersumpah akan bertahan sampai dendam ini berakhir,,,,


"Ahhhhhhhhh" dia berteriak kencang di iringi tembakan beruntun yang ia lontarkan membabibuta,


Memasang tameng besi di hadapan wajahnya agar keamanan semakin baik,


"Bear disini!!! Blackvelvet disini!! "


Merasa kurang puas dengan hasilnya, Seulgi bergerak menarik selongsong Misil dengan kakinya, sebelum akhirnya tangan kokoh itu meraih dan mengarahkan moncongnya pada puluhan orang di depannya,


Sebelum melakukan ini, Seulgi yang cerdik lebih dulu memfokuskan diri agar dapat melihat ke arah salah satu mobil polisi yang berada kurang lebih 200 meter dari hadapannya , dia mengincar tangki bahan bakar pada salah satu mobil disana,


"Rasakan ini banjingan! "


Boooommmm


Ledakan luar biasa membuatnya sedikit terpental masuk kedalam mobil, ia menyembunyikan wajahnya karena nyeri akibat benturan dari sandaran duduk,


Sebentar hingga dia bangkit melihat kondisi di belakangnya,


Asap tebal memenuhi udara persekitaran, api merembet membakar habis banyaknya mobil di belakang,


Seulgi tersenyum puas, menikmati hasil dari keberanian yang ia dapatkan,


Sekarang ia harus mengganti roda dengan cepat agar bisa pergi dari tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2