
Di sana, Sean berjalan sendirian di sekitar koridor rumah sakit, dia lepas pengawasan karena setelah Jennie di bawa keluar dari mobil semua orang merasa panik,
dia berteriak memanggil mommy nya, papa nya, daddy , uncle dan bibi Nae nya,
Namun tidak ada satupun tanda tanda seseorang yang ia kenal di sekitarnya, Sean hanya berjalan berkeliling di lantai 1 rumah sakit karena dia tidak tahu bagaimana caranya menggunakan lift,
Di sepanjang perjalanan terlihat sepi, ruangan ruangan tertutup hanya beberapa yang terbuka, beberapa orang asing juga ada disana namun orang-orang yang ia temui bersembunyi di dalam ruangan, dan menjaga jarak darinya, beberapa bahkan menatap ke arah Sean dengan takut,
"Mommy, Papa " panggil Sean lagi,
'Dia anak mafia itu?'
'Mungkinkah bocah itu juga memiliki pistol di balik punggungnya?'
'Tentu saja mereka semua penjahat'
'Tuan Song adalah orang yang baik, begitupun dokter Minhyun mereka berubah setelah dekat dengan perempuan perempuan mafia itu, mereka penjahat yang kejam! '
'Aku melihat anak tadi, ia memanggil flower sebagai ibunya?'
'Jika benar dia anak Flower Blackvelvet berarti dia adalah anak haramnya bersama mantan panglima jendral Oh Sehun'
Bruk,,,,
Sean terjatuh saat ia berlari, bisikan orang orang yang mengganggu nya membuat ia ketakutan,
"Sean,,, "
"Mark Uncle,, hiks takut " Mark segera berlari menghampiri dan memeluknya dengan hangat, beberapa waktu yang lalu, Nayeon membuka pintu ruang operasi padahal operasi masih berjalan,
Ia hanya berteriak memberitahu jika ia lalai meninggalkan Sean di Koridor sendirian, setelahnya Nayeon kembali masuk ke ruang operasi,
Rose panik bukan main, rumah sakit ini besar, dan Suga berjaga di gerbang depan bersama Jungkook, ia tidak bisa meminta bantuan padanya, mana mungkin ia meninggalkan tugas penting ini,
"Biar aku saja, kau tetap disini" Sehun berujar sembari menarik Mark pergi dari sana,
Dan disinilah Mark, menggendong Sean yang sedang menahan tangis, wajah yang bersembunyi di ceruk leher Mark melirik keadaan sekitar dimana banyak orang orang ketakutan saat uncle Mark berjalan,
Rose tersenyum penuh kelegaan meminta Sean turun dari gendongan mark,
"No! Tidak ingin di gendong mommy" ujar Sean yang tetap kekeh mempertahankan pelukan nya pada leher Mark,
__ADS_1
"Sayang aunty Yeri, kenapa menangis?bibi Nae tidak bermaksud meninggalkan mu sendirian sayang" Yeri pikir Sean marah pada Nayeon,
"Iya aku tau, tapi aku tidak mau di gendong mommy, aku ingin bersama uncle" namun nyatanya tidak,
Sehun mendengarnya sendiri, ada yang aneh dengan sikap anaknya,
"Sean, ayo ikut Papa" Sean menggeleng, dan mempertahankan pelukannya pada leher Mark,
Mau tak mau Sehun harus sedikit memaksanya, bukan hal yang sulit untuk itu, ia segera membawa si kecil Sean pergi sementara Rose mengikutinya,
Dia membawa Sean ke tempat yang lebih privasi,
"Jagoan Papa sakit? " Sean menggeleng ia di dudukan di suatu kursi dengan Rose dan Sehun di hadapannya,
"Sean, kau kenapa sayang? Mau membuat Papa dan Mommy khawatir? " tidak ada jawaban dari Sean, bocah itu malah membuang muka, tidak berniat melihat kedua orang tuanya,
"Apakah Papa dan Mommy menikah?, bukankah harus menikah sebelum memiliki anak? "
"Apakah mommy mafia, mafia adalah orang jahat, iya kan papa? "
Sehun terdiam, sementara Rose sedang menahan dirinya agar tidak terkejut,
Semakin lama Sean semakin tumbuh besar, pemikirannya juga mulai berkembang secara luas, mereka belum siap untuk itu, untuk menceritakan kejadian sebenarnya mengapa malaikat kecil itu bisa hadir di dunia ini,
"Itu tidak cukup!, aku anak haram kan? Kalau tidak kenapa mommy menikah dengan daddy, bukan dengan Papa? Kenapa bukan Papa yang menjadi daddy? Kenapa orang lain? " Jawab Sean sembari menangis sesenggukan, Sehun memeluknya mebuat anak itu segera bersembunyi di bahu ayah kandungnya,
"Mommy menikahlah dengan Papa,, hiks, menikahlah dengan Papa agar aku tidak jadi anak haram,,,papa orang baik" ucap Sean, suaranya tenggelam dalam pelukan Sehun tapi dua orang dewasa disana tetap dapat mendengarnya,
Rose hanya melihat ayah dan anak itu dengan tatapan kosong, dan raut tak terbaca, dari arah belakang, Suga berdiri mendengarkan semuanya, bahkan ia menyadari keterdiaman Rose yang bisa di bilang mendadak itu,
Rose memang tidak bisa berbicara, namun ekspresi dan gesture nya dapat membuat Suga mengerti segala maksud dari istrinya itu,
Sesuatu yang berat sedang mengguncang nya saat ini, dengan perlahan Suga berjalan ke samping Rose yang masih duduk bersimpuh di hadapan Sehun dan Sean yang masih berpelukan,
Merasakan sentuhan kecil di pundaknya Rose berpaling mendapati suaminya dengan senyum yang teramat manis,
Manis sekali hingga membuat sesuatu berdenyut nyeri dalam hati Rose, tidak tahan, Rose memilih pergi dengan di ikuti Suga yang masih mencoba mengejarnya.
...πΎπΎπΎπΎ ...
Raut bahagia terpancar dari Wajah Seulgi, Lisa, Wendy, Joy dan Yerim, melihat bayi mungil yang saat ini berada di gendongan Irene, bayi Jennie dan Vernon berjenis kelamin perempuan, berwajah bule seperti ayahnya, bermata tajam seperti ibunya,
__ADS_1
Saat ini Jennie belum sadarkan diri, ia kelelahan dan pingsan saat sangat anak telah di angkat dari rahimnya, beruntunglah kondisi Jennie tidak mengkhawatirkan, hanya perlu waktu untuknya sadar,
"Cantik sekali,,, mirip kucingku di Thailand"
"Jika Jennie sudah bangun dia pasti akan menjambak rambu ombre mu itu" sinis Seulgi sembari menyikut perut Lisa,
Sebuah kehidupan baru telah lahir ke dunia ini, membuat semua orang bahagia, kebahagiaan yang telah di tunggu-tunggu,
Hingga kebahagiaan membuat mereka lalai,
Jungkook berlari terengah-engah membawa kabar,
"Kita di kepung! "
keberadaan mereka disini telah terendus polisi, belum lagi fakta bahwa mereka membajak rumah sakit terbesar di kota, membuat media dan pasukan dari pemerintahan dengan cepat mengepung mereka,
"Para pria siapkan mobil, kami akan menghadang mereka untuk mengukur waktu, para dokter bantu Vernon memindahkan Jennie! " perintah Irene membuat semuanya bersiap, mereka hanya memiliki sedikit waktu,
"Kita tidak bisa memindahkan Jennie sebelum dia bangun, bayi Jennie juga memerlukan observasi untuk memastikan kondisinya baik baik saja! " sergah Nayeon menolak gagasan Captain,
seorang wanita baru saja melahirkan, apakah tidak ada kesempatan untuknya beristirahat, fisik seorang wanita yang baru melahirkan sangatlah lemah, belum lagi fakta jika Jennie melahirkan dengan metode operasi Caesar, salah pergerakan saja bisa membuat tubuh pasien memburuk,
"Nayeon,,, kita tidak punya banyak waktu, tolong usahakan yang terbaik ya, aku tau kau marah dengan keadaan ini, tapi kita tidak punya pilihan, aku percaya padamu, aku mencintaimu" ucap Bobby mencium kening Nayeon dan meninggalkannya pergi di susul anggota yang lain,
Baku tembak terjadi, semua anggota bergerak sekuat tenaga agar bisa lolos dari peperangan ini, bukan karena Blackvelvet atau Bthirteen tidak mampu, melainkan karena tempat ini terdapat begitu banyak orang orang tak bersalah, membuat pergerakan mereka terbatas,
Memperhitungkan agar pistolnya tidak menyakiti orang orang tak bersalah,
"Tidak Joy, jangan melempar gerakan!" pergerakan Joy terhenti, dia kembali menyimpan nya,
"Polisi semakin banyak"
'MENYERAH LAH BLACKVELVET DAN JUGA BTHIRTEEN, KALIAN SUDAH TERKEPUNG! '
Suara peringatan terdengar keras menggunakan Megaphone dari arah luar,
Nayeon gugup luar biasa, kakinya bergetar mencoba melihat keadaan luar melewati jendela,
Puluhan mobil polisi menutup jalan keluar rumah sakit, belum lagi jumlah polisi yang tak terhitung jumlahnya mulai memasuki gedung rumah sakit,
Kaki Nayeon melemas , suara tangisan bayi Jennie terdengar dari dalam ruang operasi, di lihatnya Jennie sudah berpindah dari brankar ke kursi roda, Vernon mendorongnya perlahan dengan Dokter Minhyun yang memimpin jalan mereka,
__ADS_1
"Nayeon ayo!! " Teriak Jisoo sembari menggendong bayi Jennie berjalan mengikuti suaminya,
"Aku akan menyusul! " jawab Nayeon meyakinkan mereka, ada suatu hal yang perlu ia lakukan sebelum pergi,