Noda Bunga Desa

Noda Bunga Desa
Part 11 Kulkas pintu 36


__ADS_3

Di kantin...


Kelas berakhir, terlihat Roro dan Kalila tengah duduk menikmati semangkuk bakso. Tak lupa pula mereka memesan secangkir es teh manis.


"Tadi di kelas heboh katanya ada mahasiswa baru yang sangat tajir dan tampan." Cerita Kalila.


"Eemm, lalu?" Jawab Roro


"Kok lalu sih? Emang nya kamu enggak penasaran siapa dia?"


"Emang siapa?"


"Ar-ju-na! Aku sih sudah menyangka jika akan jadi bakalan seheboh ini kalau dia resmi masuk kampus sini." Ujar Kalila heboh.


"Ooww, pria yang kemarin itu ya? Kirain ada yang baru lagi. Apa kau suka pada nya?" Jawab Roro santai mengunyah bakso.


"Ck, kau ini. Dia itu temanku sejak kecil, bahkan dia menganggap ku adik perempuannya. Mana mungkin kami bisa saling jatuh cinta!" Jawab Kalila cemberut.


"Hanya adik angkat kan? Masih bisa untuk di nikahkan bukan?" Jawab Roro enteng.


"Ngomong apaan sih, ngaco deh!" Kalila mengibaskan tangan nya.


"Emang kamu enggak tertarik sama Juna?" Tanya Kalila ambigu.


"Siapa sih yang bisa menolak pesona nya? Seperti katamu dia tampan dan kaya. Tapi tujuan ku di sini untuk belajar dengan sungguh-sungguh supaya aku bisa menjadi dokter hebat." Jawab Roro menyeruput teh nya.

__ADS_1


"Tapi kalau dia suka sama kamu apa salah nya kan kalian menjalin hubungan?"


"Sayang ku Kalila, sudah ya jangan di bahas lagi. Makan bakso mu nanti keburu dingin." Jawab Roro mengalihkan pembicaraan.


"Aku jadi ragu jika kau itu perempuan normal. Karena jika normal lihat yang bening gitu pasti heboh kayak yang lain. Tapi kamu malah biasa saja." Gerutu Kalila.


Roro melotot ke arah Kalila tapi yang di pelototi hanya tersenyum jahil.


"Hai, boleh duduk di sini?" Tanya seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Roro dan Kalila mendongak siapa yang bersuara.


"Boleh, silahkan saja kak." Roro yang menjawab.


"Terimakasih."


"Oke, nama ku Kalila dan ini temanku Roro." Kalila yang menerima uluran tangan Bisma.


"Ya aku sudah tau jika nama teman mu Roro. Semua teman seangkatan ku membicarakan kecantikan kalian apalagi Roro. Bahkan mungkin semua para cowok di sini juga membicarakan kalian." Ucap nya lada Kalila tapi malah menatap Roro.


Bisma benar, hampir semua pria di kampus tersebut membicarakan Roro dan Kalila. Mereka membicarakan ada mahasiswi baru yang menyerupai bidadari terutama Roro. Kalila dan Roro memang sangat cantik dan berkulit putih. Tapi jika di bandingkan masih cantik Roro. Karena ia memiliki wajah yang imut dan manis di tambah otak nya yang cerdas.


"Benarkah? Lalu apa yang mereka bicarakan?" Tanya Roro penasaran.


"Mereka bilang kalian cantik seperti bidadari, apalagi dirimu." Puji Bisma tersenyum pada Roro.

__ADS_1


"Terimakasih, tapi saya cantik karena saya perempuan. Dan jika tampan bukan kah itu aneh?" Ucap Roro menunjukkan deretan gigi putih nya.


Kalila dan Bisma tertawa mendengar candaan Roro.


"Selain cantik kau juga lucu rupanya." Jawab Bisma.


"Kalila, boleh aku meminta nomor WA kalian?" Timpal nya lagi.


"Boleh, ini nomor WA ku." Kalila menyodorkan Hp nya.


"Nomormu?" Bisma meminta pada Roro setelah selesai mencatat nomor Kalila.


"Maaf kak Bisma, aku tidak punya Hp. Hp ku sedang rusak." Jawab Roro tak malu-malu.


"Baiklah, jika sudah jadi aku minta nomor mu?" Pinta Bisma.


"Insyaallah kak Bisma." Jawab Roro.


Setelah itu mereka bercanda dan tertawa selayak nya teman lama. Sifat Roro dan Kalila yang ramah sangat mudah bagi mereka menerima teman dan bergaul.


Mereka tak menyadari jika sepasang mata sejak tadi memperhatikan mereka di kursi paling pojok dengan tatapan tak suka pada Bisma. Sorot matanya yang tajam dan pembawaan nya yang kaku dan dingin mampu membuat semua orang tak berani mendekatinya. Siapa lagi jika bukan Juna, Arjuna wilson.


"Ganteng tapi sayang dingin."


"Pria itu seperti kulkas pintu 36."

__ADS_1


Itulah yang di bicarakan para wanita di kantin tersebut tentang Juna.


__ADS_2