
Tepat pukul 08.00 pagi, dokter memeriksa keadaan istri Juna. Juna yang tertidur segera terbangun mendengar pintu ruangan ICU di buka. Padahal ia baru tertidur pada jam 05.00 pagi. Sedangkan semua anggota keluarga telah kembali ke mansion semalam. Tak lama setelah 30 menit dokter Reihan keluar dari ruangan ICU, di ikuti Juna di belakang pak dokter.
"Bagiamana keadaan istri saya dok?" Tanya Juna tak sabaran.
"Sebaik nya kita bicara di ruangan saya, mari pak Juna!" Jawab dokter Reihan.
Juna berjalan mengikuti dokter Reihan. Sepanjang jalan ia di tatap setiap orang yang di lewati. Mereka tak percaya apakah yang mereka lihat sekarang ini adalah pengusaha kaya dari kerajaan bisnis Wilson Group. Rambut yang acak-acakan serta pakaian yang tak rapi seperti biasanya dan wajah yang nampak kusut. Sangat jauh dari apa yang mereka lihat di media cetak dan elektronik. Tapi Juna tak memperdulikan tatapan aneh semua orang yang melihat nya. Otak nya hanya berpusat pada keadaan sang istri saat ini.
"Kondisi istri bapak sudah lebih baik, alhamdulillah beliau telah melewati masa kritis nya. Tapi kabar buruk nya kami belum bisa memastikan kapan beliau akan sadar dari koma nya. Berdoa saja pak Juna, semoga istri bapak segera sadar. Dan kami akan segera memindahkan istri bapak di ruang rawat inap." Jelas dokter Reihan.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan istri saya dokter." Ucap Juna.
"Sebisa mungkin akan kami usahakan pak Juna. Dan kami ucapkan terimakasih pada pak David, karena kedatangan dokter senior dari luar negeri tersebut dapat membantu kami dalam penyembuhan istri bapak." Jelas dokter Reihan.
"Sama-sama dokter, itu hanya hal kecil. Apapun akan saya lakukan demi kesembuhan istri saya." Jawab Juna yang menampakkan sifat arogan nya telah melekat.
"Saya minta untuk mengosongkan seluruh ruangan VIP kelas atas. Untuk kenyamanan dan keamanan istri dan keluarga saya. Untuk perihal administrasi asisten saya yang akan menyelesaikannya." Pinta Juna.
"Baiklah pak Juna." Jawab dokter Reihan yang menyandang sebagai direktur sekaligus pemilik rumah sakit tersebut.
Juna keluar dari ruangan dokter Reihan menuju ruang rawat inap VIP dimana istri nya berada. Tapi sebelum itu ia menuju ke ruang inkubator, ia sangat merindukan baby El yang sangat menggemaskan. Dan tak lupa ia menelfon papa David jika istri nya telah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Juna melangkah mendekati ranjang dimana istri nya terbaring dengan alat masih menempel di tubuh istri nya. Ia berinisiatif menyisir rambut panjang sang istri yang nampak kusut.
__ADS_1
"Sayang, apa kabar mu hari ini? Apa kau tidak ingin melihat anak kita? Anak kita sangat tampan seperti aku. Kau kalah sayang, semua anak kita sangat mirip dengan ku. Tidak ada satupun anak kita yang mirip dengan mu." Ucap Juna mulai menyisir rambut.
Juna duduk di sisi ranjang setelah selesai dari kegiatannya. Di genggamnya tangan sang istri, mencium dengan penuh cinta dan mengusap punggung tangan sang istri dengan lembut. Ia berusaha menyalurkan seluruh cinta nya berharap agar sang istri merasakan di alam bawah sadar nya
"Sayang, maafkan aku karena aku merasa gagal menjaga mu. Andai aku ikut serta mengantar mu waktu itu, mungkin kau tidak akan mengalami penderitaan ini. Maafkan aku sayang!"
Hhuuu hhuuu hhuu ...
Juna menangis tergugu.
Pintu terbuka dari luar ruangan, terlihat papa David dan mama Diana membawa tas berisi pakaian Juna dan istri nya. Tak sengaja mereka mendengar Juna yang menangis.
"Berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri nak. Semua ini bukan salah mu, semua ini takdir agar kita lebih mengingat sang pencipta. Agar kita lebih sabar dan ikhlas dalam menjalani segala cobaan ini!" Nasehat papa David mengingatkan
"Juna tidak selera ma." Jawab Juna segan.
Juna mengambil handuk dan pakaian yang di bawakan oleh mama nya menuju kamar mandi. Tak lama ritual mandi selesai, ia takut di saat mandi ia melewatkan momen jika istri nya tersadar. Tidak seperti biasanya bahkan ia memerlukan waktu 1 jam hanya untuk ritual mandi.
"Mama mohon kamu makan Juna meski sedikit saja. Tubuh mu butuh asupan gizi. Kalau kamu sakit lalu siapa yang akan menjaga istri dan anak mu?" Ucap mama Dania membujuk saat juna duduk di sofa bersama kedua orang tua nya.
"Baiklah!"
Juna dengan malas membuka paper bag berisi makanan yang di bawa oleh mama Dania. Dengan perlahan ia makan, bahkan nasi dan lauk yang sangat terlihat menggoda seperti jarum yang menusuk tenggorokan bagi Juna. Juna menyudahi makan nya yang hanya 5 sendok saja. Mama Dania menghela nafas melihat anak nya, tapi setidak nya ada makanan yang masuk ke dalam perut Juna meski sedikit. Selesai makan Juna kembali duduk di sisi ranjang istri nya dengan menggenggam tangan sang istri.
__ADS_1
"Ini mama bawakan kue buatan istri mu yang sempat ia buat untuk mu sebelum ia berangkat ke sekolah Zahra." Ucap mama Dania berharap Juna akan memakan nya.
"Eemm, taruh di meja saja!" Jawab Juna.
"Juna, mama dan papa pergi dulu untuk membeli keperluan Baby El. Tadi papa sempat menanyakan kapan baby El di keluarkan dari ruang inkubator dan dokter Reihan mengatakan besok siang." Papa David menjelaskan.
"Benarkah?" Tanya Juna sedikit semangat.
"Iya nak, kalau tidak percaya kau tanyakan saja pada dokter Reihan. Kau tidak apa kami tinggal sendiri?" Papa David merasa tak tega meninggalkan Juna sendiri.
"Eemm, dan jangan lupa tolong jemput Zahra pa! Juna tidak percaya pada siapa pun saat ini." Pinta Juna.
"Kebetulan mama memang berencana untuk menjemput Zahra sekalian." Jawab mama Dania.
"Baiklah kami pergi dulu. Jangan lupa kue itu di makan karena istri mu sudah capek membuatnya apalagi tengah hamil tua." Ujar mama Dania.
Juna tak menanggapi perkataan mama Dania, ia hanya fokus memandangi wajah dan menggenggam tangan istri nya.
"Sayang, apa kau mendengar ucapan papa? Anak kita akan segera ada di antara kita, apa kau tidak ingin menggendong nya?" Juna mengajak istri nya berbicara.
"Sayang, anak kita Zahra memberi nama adik nya Elvano Wilson. Zahtmra memanggilnya dengan sebutan baby El. Apa kau suka? Zahra memgatakan ia mendapatkan nama itu dari sebuah mimpi. Aku sempat berfikir apakah itu aneh?" Imbuhnya lagi.
"Sayang ku mohon bangunlah, aku sangat mencintaimu dari sejak pertama kita bertemu. Apa kau masih ingat? Kau wanita tercantik yang pernah ku temui. Bahkan aku mencintaimu dalam diam tanpa berani mengungkapkan perasaanku selama 2 tahun lama nya. Hal itu sangat bukan sifat ku. Hingga insiden malam itu, yang membuatku memiliki mu seutuh nya. Entah aku merasa sedih atau bahagia saat itu. Yang jelas dengan insiden itu aku berani mengatakan perasaan ku padamu meski di waktu yang salah. Sayang, jangan tinggalkan aku untuk yang ke dua kali nya. Karena kali ini aku tidak akan sanggup bertahan lagi." Juna mencium tangan istri nya dan merebahkan kepalanya di sisi brankar.
__ADS_1
Ia mengingat semua kenangan indah saat pertama kali mereka bertemu hingga mereka bersatu. Banyak lika liku yang telah mereka lewati, banyak ujian dan halangan untuk mereka dapat bersatu. Tak terasa Juna tertidur dengan tangan masih menggenggam.