
8 tahun yang lalu ....
"Tuan, sebentar lagi kita akan tiba di indonesia. Apakah bapak langsung ke perusahaan atau ke mansion untuk bertemu nyonya Dania?" Tanya Asisten kepercayaan Juna.
"Mansion!" Jawab tegas padat singkat seorang Arjuna yang terkenal arogan dan irit berbicara.
"Baiklah tuan." Jawab sang asisten kemudian menelfon anak buah nya untuk menyiapkan mobil.
Di sisi lain, seorang gadis baru saja tiba di bandara Soekarno hatta. Dengan harapan tinggi ia datang dari desa terpencil di pinggir kota Solo menuju Jakarta. Dengan menyandang predikat siswi terpintar dan teladan di sekolah, membuat ia berhasil mendapatkan beasiswa di universitas Jakarta jurusan kedokteran.
Roro sekar arum. Ya, itulah nama gadis tersebut. Kulit putih bersih rambut hitam panjang lurus serta wajah nya yang cantik bak bidadari. Alis tebal dengan mata yang terlihat teduh serta bulu mata yang lentik. Dengan bentuk body yang aduhai semampai membuat ia semakin di gilai banyak pria. Tak heran jika ia disebut sebagai bunga desa di daerah nya, karena kecantikan nya yang mendekati kesempurnaan serta pesona nya yang memikat. Roro anak yang cerdas dan pintar, ramah dan suka membantu sesama di daerah nya. Gadis dua bersaudara tersebut lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang mantri desa, yang sepanjang hidup nya hanya ia abdikan untuk kesehatan di desa nya. Sedangkan ibu Roro hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Adik nya bernama Ajeng masih duduk di kelas 10 SMA saat ini.
"Akhirnya, aku tiba di Jakarta. Semoga aku berhasil mengejar impian dan cita-citaku untuk menjadi seorang dokter di sini. Semoga Engkau selalu memudahkan jalan ku." Doa Roro dalam hati.
Perlahan ia menghembuskan nafas nya, dan memantapkan langkah awal nya untuk menggapai cita-cita nya.
Sedangkan Juna juga baru saja tiba di bandara Soekarno hatta. Dengan langkah cepat di iringi 4 bodyguard di sisi kanan dan kiri juga asisten nya menuju di parkiran depan yang sudah standby mobil Lamborghini sejak tadi.
Karena berjalan seraya melihat Hp guna mencari kontrakan yang dekat dengan kampus di situs online, tak sengaja Roro menabrak sang raja bisnis, Juna. Roro hampir terjerembab ke depan sedangkan Juna tak bergeser sedikit pun dari tempat nya berdiri. Melihat perempuan yang menabrak nya hampir terjatuh, ia dengan gerak cepat menangkap tubuh Roro persis seperti adegan pasangan yang sedang berpelukan.
"Aaaaaaa," jerit Roro seketika.
Sejenak mereka saling pandang, menatap manik mata satu sama lainnya.
'mata ini?' Batin Juna serasa dejavu.
Juna tersihir akan ke teduhan mata Roro serta kecantikan wajah nya yang mendekati sempurna. Begitupun Roro, rahang tegas dan mata yang tajam mampu mendebarkan hati Roro.
'Jantungku! Ada apa dengan jantungku?' batin Roro.
"Hei! Kalau berjalan pakai mata, bera_" bodyguard membentak Roro tapi terpotong karena sebelah tangan Juna di angkat nya.
"Ah, maaf tuan. Maaf kan saya, saya tidak sengaja. Tolong maaf kan saya." Roro melepaskan diri dan ketakutan saat ia tersadar.
"Kau tidak apa-apa nona?" Tanya Juna perhatian.
Para bodyguard dan kevin terheran melihat tuan nya yang bertingkah aneh menurut mereka. Karena biasanya dia akan sangat marah bahkan pernah ia menghancurkan karir seseorang hanya karena tak sengaja menabraknya. Tapi kali ini? Tuan mereka berkata lembut bahkan seperti singa yang bertemu sang pawang.
"Ti_tidak apa-apa tuan. Terimakasih. Saya permisi dan maaf sekali lagi." Ucap Roro.
__ADS_1
Roro menundukkan kepala tanda permohonan maaf nya. Ia pun berlalu dengan sedikit berlari ke arah pintu keluar.
Sedangkan Juna masih terdiam memandang kepergian Roro. Ia masih terpaku pada mata yang meneduhkan hati nya yang gersang dan wajah cantik yang mampu membuat nya terpesona serta jantungnya yang berdebar tak karuan. Juna mengangkat dua sudut bibir nya samar dan hal tersebut di tangkap oleh para bodyguard dan asisten nya. Hal itu membuat mereka bergidik ngeri karena hal itu adalah momen langka bagi mereka.
"Tuan, mobil sudah menunggu." Ucap Kevin membuyarkan lamunan nya.
"Eemm." Juna tersadar dan segera ia berjalan menuju mobil yang telah lama menunggu.
Di dalam mobil, Juna tak henti membayangkan wajah cantik Roro. Bahkan ia sesekali mengangkat sudut bibir nya. Kevin yang melihat tuannya sedang dalam mood baik, ia mencoba untuk bertanya.
"Tuan, apakah perlu saya mencari data gadis tersebut?" Tanya Kevin.
"Untuk apa? Itu tidak perlu!" Jawab Juna sekenanya.
Tapi dalam hati nya ia bersorak untuk mengatakan iya. Juna hanya gengsi saja pada asisten nya.
"Baiklah!" Jawab Kevin tersenyum.
Kevin asisten yang sangat peka, dia tahu jika tuan nya sangat berharap agar ia mencari tahu. Hanya saja tuan nya tak ingin mengakui nya. Sangat tampak dari sorot mata nya yang tak menatap asisten nya dan cara ia berbicara yang bergerak gelisah. Berbeda ketika ia berbicara serius maka sorot mata tajam nya akan mengintimidasi lawan serta ketegasan dan gaya bicara nya yang tenang namun mampu membuat lawan kalah mental terlebih dahulu.
1 jam perjalanan akhirnya mobil tiba di sebuah mansion mewah gaya perpaduan Eropa dan Jawa. Pak satpam membuka pintu gerbang dengan tergesa, ia tau jika yang datang adalah ahli waris dari sebuah perusahaan Wilson Group.
"Selamat datang tuan Juna." Ucap kepala pelayan dan koki utama di rumah tersebut, Pak Joko dan mbok Inem. Mereka berasal dari suku jawa, jawa tengah.
"Terimakasih paman dan mbok Inem." Ucap Juna berhenti sejenak.
Di ujung barisan menghadap pintu berjarak sekitar 2 meter dari paman Joko, berdiri seorang wanita paru baya tapi masih terlihat cantik dan manis serta modis. Make up dan gaya pakaian yang di gunakan nya menunjukkan jika ia seorang wanita bukan kalangan biasa. Ya, Nyonya Diana atau mama Juna istri seorang presdir Wilson Group saat ini sebelum Juna menduduki tahta kerajaan bisnis.
"Selamat datang anak mama yang paling tampan, sudah lama kita tidak bertemu!" Ucap mama Dania merentangkan tangan memeluk sang anak.
"Hai mam, apa mama sehat?" Jawab Juna dan membalas pelukan mama Dania.
"Seperti yang kau lihat sayang!" Timpal mama Dania.
"Kevin, kau beristirahat lah! Ku tunggu besok pagi." Perintah Juan.
"Baik tuan!" Jawab Kevin.
Kevin berlalu menuju apartemen nya untuk segera beristirahat, dan ia tau jika yang di tunggu besok pagi adalah berkas tentang gadis yang mereka temui di bandara. Dan Kevin sudah memerintahkan anak buah nya untuk mengikuti dan mencari data tentang gadis tersebut.
__ADS_1
"Ma, Juna ke kamar dulu. Juna gerah!" Ucap Juna.
"Baiklah sayang beristirahat lah. Nanti mama akan telfon papa jika kamu sudah datang." Jawab mama Dania.
"Eemm," jawab Juna.
"Kau memang tak pernah berubah anak ku!" Ucap mama Dania mengomentari perangai Juna yang terlalu dingin.
"Aku tetap anak mama." Jawab Juna tersenyum dan berlalu menuju kamar nya.
Mama Dania dan Juna berada di ruang keluarga setelah acara ritual mandi selesai. Senja di ufuk timur melengkapi kebahagiaan keluarga tersebut. Di temani dengan secangkir teh lemon kesukaan Juna dan berbagai cemilan di meja yang sengaja mama Dania siapkan untuk menyambut putra mahkota nya. Mereka mengobrol hingga tak menyadari jika kedatangan sang papa, David Wilson.
"Apa kalian melupakan ku?" Tanya papa.
"Papa!" Juna berdiri dan memeluk erat sang papa.
"Kau semakin tampan seperti papa, apa kabar anak papa?" Tanya papa David ketika mereka telah duduk santai.
Juna hanya tersenyum begitu juga mama Dania.
"Juna baik." Jawab nya singkat.
"Berhubung papa sudah tiba, jadi kita malam ini akan makan malam bersama. Ohya sayang, kau ingin makan malam di rumah atau kita ke restoran mewah?" Tanya mama Dania pada Juna.
"Aku kangen masakan mbok inem." Jawab Juna merindukan masakan koki utama mereka.
Sejak kecil Juna memanggil Inem dengan sebutan mbok Inem. Karena pada waktu kecil, mbok Inem sering menghibur Juna kecil dengan masakan yang memanjakan lidah. Kadang mbok Inem juga mengasuh nya, meski ada pengasuh khusus untuk nya. Begitupun pak Joko kepala pelayan mereka, selalu berusaha menemani mengerjakan tugas meski ia tak memgerti. Hal itu karena Juna yang tak mudah akrab dengan orang lain. Kesibukan mama Dania dalam aksi sosial nya juga papa David dalam bisnis nya membuat Juna kurang akan kasih sayang.
"Di rumah juga tidak terlalu buruk." Jawab papa David mengerti yang di inginkan anak nya.
"Baiklah jika kalian ingin makan di rumah saja." Ucap mama Dania kecewa karena ia mengira anaknya akan memilih makan di restoran mewah.
"Pak joko!" Panggil mama Dania.
"Ya nyonya!" Jawab pak Joko kepala pelayan.
"Malam ini kami akan makan malam di rumah, jadi perintahkan para koki untuk memasak makanan lezat terutama masakan kesukaan Juna. Mbok Inem pasti tau." Perintah nyonya besar.
"Baik nyonya."
__ADS_1
Pak Joko berlalu menuju dapur. Ia segera memberitahu perintah yang di berikan nyonya besar mereka.