Noda Bunga Desa

Noda Bunga Desa
part 8 Hari pertama


__ADS_3

Masa ospek telah usai, Roro telah resmi menjadi mahasiswa kedokteran di fakultas tersebut. Begitupun Juna ia berencana akan mendatangi pak rektor sebelum ia masuk ke kampus.


Juna sangat enggan memasuki ruangan rektor di universitas tersebut. jika bukan karena seorang gadis bernama Roro, maka ia tak perlu repot melanjutkan kuliah tingkat master jurusan hukum yang sempat tertunda karena keinginan kedua orang tuanya yang mengharuskan ia fokus pada jurusan bisnis dengan alasan sebagai ahli waris Wilson Group.


Dengan setelan yang ia pakai, tak menampakkan jika ia juga akan menjadi mahasiswa di universitas tersebut. Tubuh tegap tinggi dan wajah yang sempurna, terbalut jas semi formal di padupadan kan dengan celana jeans. Semua pakaian Juna langsung di rancang oleh desainer terkenal langganan juna.


Sepanjang jalan saat di parkiran hingga menuju ruang rektor, Juna sukses menjadi pusat perhatian semua para wanita di kampus tersebut. Banyak wanita menatap penuh minat, mereka bertanya-tanya pangeran manakah yang sedang berada di universitas mereka saat ini? Apalagi Juna menggunakan mobil mewah lamborgini yang cukup menampakkan kekayaaan seorang Arjuna.


Saat ia berjalan di koridor menuju ruang rektor, Juna di kaget kan oleh suara cempreng seorang wanita yang sangat ia kenali.


"Junaaa...!" Teriak perempuan yang sering di sapa Kalila tersebut.


Juna menoleh ke sumber suara dan tercengang ketika ia tahu siapa yang memanggil namanya. Lebih tepatnya pada gadis yang bersama Kalila.


Kalila dan Juna sebenarnya berteman semenjak kecil, mereka dahulu bertetangga sebelum Juna pindah ke mansion mewah yang di tempati nya saat ini. Kalila sangat dekat dengan kedua orang tua Juna, karena mereka tidak mempunyai anak perempuan. Dan Juna sudah menganggap Kalila sebagai adik perempuannya.


'mata itu?'

__ADS_1


"Hei, kapan kau datang dari luar negeri?" Sapa Kalila ketika telah di hadapan Juna. Tapi yang di tanya tak menjawab hanya menatap orang yang bersama perempuan tersebut, begitupun gadis tersebut memandang Juna secara seksama.


"Bukankah kau orang yang ada di bandara kemarin?" Tanya gadis itu.


"Kalian sudah kenal?" Tanya Kalila penasaran pada gadis tersebut.


"Tidak, cuma kemarin aku tidak sengaja menabraknya." Jelas gadis itu.


"Ooww begitu. Perkenalkan Ini teman ku sejak kecil namanya Arjuna Wilson!" Ucap Kalila memperkenalkan Juna pada gadis itu.


"Dan Juna, perkenalkan ini temanku Roro sekar arum." Kalila menjelaskan.


"Senang berkenalan dengan mu." Ucap Roro mengulurkan tangan dengan tersenyum yang terlihat sangat menawan di mata Juna.


"Eemm..." Hanya itu jawaban yang terucap dari mulut Juna seraya membalas uluran tangan Roro dengan mata tak sedikitpun berpaling dari Roro.


"Kau tau Roro, Juna ini teman ku sejak kecil. Dan jangan heran jika muka nya datar seperti tembok. Tapi aslinya dia sangat baik." Kalila menjelaskan seraya tertawa karena berhasil membuat seorang Juna melotot pada nya.

__ADS_1


"Kau sedang apa di depan ruang rektor?" Tanya Kalila penasaran.


"Hem, aku ingin berkuliah di sini. Aku ingin melanjutkan kuliah ku di jurusan hukum yang sempat tertunda dulu." Jelas Juna.


"Ooww, begitu. Aku senang kau kembali dan bisa satu kampus dengan mu." Jawab Kalila.


"Kalila, aku masuk dulu ya. Kalian mengobrol lah, aku hanya sebentar mengantarkan persyaratan beasiswa ku." Roro bersuara.


"Ah tidak, aku temani kau. Ayo Juna kita masuk sama-sama. Apakah kau tidak rindu dengan pamanku yang sering mengajak mu bermain catur?" Ajak kalila.


Juna tak menjawab, tetapi ia mengikuti langkah Kalila dan Roro. Setelah urusan Roro selesai, mereka pun undur diri. Sedangkan Juna masih banyak hal yang harus di bicarakan termasuk sumbangan yang akan Juna berikan pada universitas tersebut.


"Aku senang kau kembali Juna, akhirnya aku mendapatkan rival yang sepadan. Hahahaha," canda pak rektor.


Ya benar, rektor universitas tersebut merupakan paman Kalila dari sebelah ibu nya. Rektor yang sering di sebut pak Reihan tersebut masih terbilang muda. Ia sering sekali bermain catur bersama Juna saat di waktu senggang sebelum Juna keluar negeri. Dan hanya Juna lah selama ini yang dapat mengalahkannya.


"Paman, kedatanganku kemari hanya ingin agar paman merahasiakan tentang identitas ku. Perlakukan aku selayaknya mahasiswa pada umum nya. Aku hanya ingin menjalani kuliahku dengan tenang tanpa gangguan dari paparazi," ucap Juna saat Roro dan Kalila telah keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Itu hal gampang. Asal kau mau menemaniku bermain catur di lain waktu. Bagaimana?" Tawar pak Reihan.


"Baiklah!" Jawab Juna.


__ADS_2