
Mobil melaju dengan kecepatan sedang bahkan sedikit pelan. Semua itu di sengaja oleh Kevin agar tuan nya berlama-lama untuk berdekatan dengan Roro.
"Bagaimana rasanya hidup di luar negeri? Pasti menyenangkan hidup di negara bebas." Tanya Kalila pada Juna.
"Kau benar. Tapi perlu kau ingat Lila, aku berasal dari negara timur. Dan aku masih memegang teguh adat budaya ku." Jawab Juna mantap dengan sesekali memandang Roro dari kaca spion.
"Benarkah? Tapi aku meyakini hal itu. Karena pria sedingin dirimu mana ada wanita berani mendekati mu? Mungkin bahkan mereka mengira kau..." Ucap Kalila ambigu dan menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.
Kevin menahan tawa dan Roro hanya diam saja seraya tersenyum tipis pada Kalila, ia tak menyangka jika teman nya berbicara sevulgar itu pada Juna. Sedangkan Juna, jangan tanya lagi seperti apa raut mukanya. Ia ingin marah tapi sebisa mungkin ia tahan karena ada Roro di dalam mobil itu.
"Jaga bicara mu Kalila!" Suara Juna agak meninggi.
"Iya deh, maaf. Jangan marah ya kakak ku sayang, kan aku adik angkat perempuan mu satu-satu nya. Lagipula aku tadi hanya bercanda karena aku sangaaaatttt kangen sama kamu." Kalila mengeluarkan jurus rayuan andalan nya.
"Jangan marah ya, ya, ya." Rengek Kalila dengan mengguncang lengan Juna.
__ADS_1
"Jangan pegang-pegang! Iya aku maafkan. Lain kali jaga bicaramu!" Tegas Juna.
"Iya, tidak aku ulangi, janji." Kalila mengangkat dua jari ke atas dengan cengengesan.
Roro hanya menggeleng kepala pelan melihat tingkah teman nya itu. Sedangkan Kevin sudah sakit perut menahan tawa.
"Kalau boleh tau, apa ada wanita di sana yang membuatmu jatuh cinta?" Tanya Kalila memecah keheningan sesaat yang sempat terjadi.
"Tak perlu ku jawab kau pasti tau jawaban nya." Jawab Juna tegas.
Juna tak menimpali lagi, ia melirik Roro dari kaca spion dan saat itu Roro juga sedang menatap kearah Juna lewat spion. Sesat mereka bertemu pandang hingga Roro memutuskan menghadap jendela melihat ke arah luar.
'Wanita beruntung mana yang mampu mendapatkan hatimu kak Juna?' Ucap Roro dalam hati.
'Wanita itu dirimu Arum,' batin Juna.
__ADS_1
Juna pernah bercerita tentang gadis kecil masa lalu nya pada Kalila. Sebab itulah Kalila tau tentang perasaan Juna pada gadis kecil itu. Hanya saja perasaan yang ia kira hanya cinta monyet, tak menyangka jika perasaan yang dimiliki oleh Juna saat remaja pada waktu itu masih tersimpan hingga sekarang.
"Kau tau Juna, hampir semua orang di kampus membicarakan mu. Terutama para cewek-cewek di kampus."
"Sejak awal aku sudah menyangka jika kakak angkat ku ini akan menjadi topik trending di kampus." Timpal Kalila lagi.
"Ohya, apa kau tau jika Bella juga berkuliah di kampus itu? Apa dia sudah menemui? Karena aku yakin dia pasti sudah mendengar jika kau kuliah satu kampus dengan nya." Tambah nya.
"Ya, aku tau. Dan aku juga tidak suka menjadi topik hangat apalagi tatapan mereka, sungguh membuat ku muak!" Jawab Juna tanpa memberi tau pertemuannya dengan Bella di perpustakaan.
Kalila terkekeh mendengar jawaban Juna, jika pria lain mungkin akan berlomba-lomba untuk menjadi pria idaman kampus, sedangkan Juna malah tidak nyaman dengan gelar pria idaman yang di sematkan pada nya.
"Tinggal di luar negeri ternyata tidak merubah sifat mu."
Juna diam enggan menjawab lagi. Suasana menjadi hening dengan mata Juna yang sesekali masih setia melirik Roro dari kaca spion.
__ADS_1
Sedangkan yang di tatap malah masih menatap keluar ke arah jendela. Tidak tau kenapa, hatinya sedikit sesak mendengar jawaban Juna dan penuturan Kalila tadi.