
Juna membuka kasar pintu kamar nya, ia rebahkan tubuh nya yang lelah di atas kasur berukuran king size. Ia sangat kecewa terhadap mama dan papa nya. Ia mengira mama dan papa nya akan berubah setelah kepergiannya selama 5 tahun. Selama itu ia tak pernah sekalipun pulang ke mansion sekalipun ke dua orang tua mereka meminta Juna untuk sesekali pulang. Tapi Juna bersikukuh untuk tidak kembali sebelum ia sukses memajukan perusahaan tersebut. Dan juga agar kedua orang tua nya merasakan tersiksa karena rindu terhadap nya. Sehingga dengan kerinduan tersebut mereka lebih mengerti keinginan nya untuk menjadi seorang avocad. Dan tidak hanya mementingkan kejayaan perusahaan ketimbang memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak nya.
"Ku pikir mama dan papa berubah, tapi nyatanya semua harapan ku hanyalah angan ku saja." Ucap Juna tersenyum getir.
Juna melamun teringat kesepian nya di waktu kecil. Hanya mbok Inem dan Paman Joko yang selalu ada untuk nya di kala itu. Juga gadis kecil berwajah bak bidadari yang selalu mampu membuat jantung nya berdebar dan tak merasa kesepian.
"Dimana kamu Arum?"
"Dan siapa gadis di bandara tadi?" Juna teringat dengan gadis yang menabrak nya saat di bandara.
"Sepertinya wajah nya tak asing bagi ku. Dan jantung ku ini sama persis yang kurasakan saat berdekatan dengan Arum. Berdetak cepat melebihi batas normal. Apalagi manik mata teduh itu. Sama persis seperti yang di miliki Arum. Tidak mungkin mereka orang yang sama, tapi sepertinya mereka seumuran?" Banyak tanya di kepala Juna hingga membuat ia kelelahan dan tertidur.
Sedangkan di sisi lain, dengan bantuan sopir taksi yang ia tumpangi dari bandara Roro mendapatkan kontrakan dengan tarif agak murah dekat dengan kampus tempat nya berkuliah tapi cukup nyaman untuk di tinggali. Hanya terdapat satu kamar dan ruang tamu juga dapur lengkap dengan kamar mandi.
"Akhirnya, selesai juga beres-beres."
__ADS_1
"Capek sekali badan ku, lebih baik aku mandi dulu habis itu baru keluar cari makan. " Ujar Roro mengambil handuk hendak mandi.
Sebenarnya Roro bukan tipe anak yang suka makan di luar, ia lebih memilih memasak ketimbang makan di luar. Tapi karena ia warga baru dan belum tau letak pasar, tidak mungkin ia membeli bahan makanan apalagi hari sudah mulai Maghrib.
Selesai mandi Roro segera keluar kontrakan untuk mencari makanan atau warung untuk mencari mie instan pada pukul 17.00. Hingga berjalan 10 menit keluar dari gang tempat ia mengontrak akhirnya Roro menemukan warung nasi SERBU yang cukup ramai di pinggir jalan.
"Buk, saya pesan nasi nya satu." Ucap Roro seraya tersenyum pada pemilik warung nasi.
"Ini mah warung Serbu prasmanan neng, jadi silahkan neng geulis ambil sendiri. Harganya tetap sama 10rb neng!"
"Ooww, neng geulis teh orang baru ya? Nama nya siapa neng? Terus ngapain di kota ini, jakarta itu keras neng kalau mau ngadu nasib teh. Apalagi orang secantik kamu, bahaya neng!" Ucap ibu penjual nasi.
"Nama saya Roro sekar arum. Panggil saja Roro, saya di sini kuliah di universitas dekat sini buk, kebetulan saya mengontrak di gang mawar." Jawab Roro seraya mengambil lauk pauk dan nasi.
"Saya berasal dari Solo. Kalau masalah bahaya, saya serahkan hidup mati saya pada yang maha pencipta buk, saya yakin tuhanku melindungi ku. Ohya buk, saya minta air putih nya segelas!" Pinta Roro.
__ADS_1
"Oh iya neng, sampai lupa nyiapin air putih soalnya neng geulis teh cantik pisan atuh! Suka ibuk lihat nya entek bosan saking cantik nya." Puji ibu penjual nasi.
"Ah ibu bisa saja, saya itu peremepuan buk jadi wajar kalau saya cantik. Kalau ganteng kan aneh jadi nya." Roro dan ibu penjual nasi terkekeh.
"Ngomong-ngmong nama ibu siapa?" Tanya Roro menanyakan nama ibu tersebut.
"Panggil saja buk carsih neng. Ini air nya, selamat makan semoga suka sama masakan ibu ya neng!" Ibu Carsih meletakkan air putih di meja Roro.
"Terimakasih buk carsih dan masakan ibu pasti enak. Sudah terlihat dari bau nya. Jawab Roro memuji.
"Ah, eneng teh jangan terlalu memuji." Ucap Bu Carsih kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah acara berkenalan selesai, salah satu pembeli di warung nasi tersebut segera berdiri dan membayar makanan yang dari tadi telah habis. Ia sejak tadi sebenarnya menguping pembicaraan Roro dan ibu Carsih.
Ya, laki-laki itu salah satu orang suruhan Kevin yang di perintahkan Juna untuk mencari tahu tentang Roro.
__ADS_1