
"Apa kau hari ini akan langsung masuk Juna? Jika iya, aku akan memanggil asisten ku untuk mengantarmu ke kelas." Tanya pak Rektor.
"Aku masih ada banyak pekerjaan hari ini di kantor. Mungkin besok saja paman."
"Baiklah, sesuka mu saja kapan kau mau masuk kelas. Itu tidak penting, karena aku yakin tanpa kau masuk kelas pun hasil ujian semester mu pasti bagus karena otak mu yang di atas rata-rata. Yang penting kau jangan lupa pada janji mu." Ucap paman Reyhan.
"Dan satu hal paman. Aku ingin identitas gadis yang masuk bersama Kalila tadi. Aku ingin segera paman kirim lewat email ku." Pinta Juna.
Paman Reyhan terheran karena selama ia mengenal Juna tak pernah ia sekalipun membicarakan seorang wanita. Meski banyak wanita yang mengejar nya.
"Ada apa dengan gadis itu? Selama mengenal mu, aku kira tidak ada wanita yang berani mendekatimu kecuali Kalila karena kalian sudah berteman sejak kecil. Apa kau tertarik pada nya?" Tanya paman Reyhan penasaran.
"Itu hal pribadi paman. Ku rasa tidak ada peraturan untuk bercerita masalah pribadi pada paman." Jawab Juna angkuh.
"Hahahaha, sifat mu tak pernah berubah Juna. Baiklah segera aku kirim."
"Asal kau tau Juna, selain cantik dia mahasiswi berprestasi jurusan kedokteran. Dia mendapat beasiswa full di universitas ini. Dan tidak ada salah nya aku yang duda ini mendekatinya bukan?" Reyhan memancing reaksi Juna.
Dan benar saja, hal itu sukses membuat Juna tanpa dia sadari melotot tajam pada pak rektor tersebut.
__ADS_1
"Jangan macam-macam dengan bunga incaran ku paman. Kau tau bukan siapa aku?" Ucap Juna ketus.
"Hahahahahaha. Aku hanya bercanda Juna, aku hanya ingin tau seberapa tertariknya kau pada gadis itu."
Paman Reyhan sukses membuat Juna kalah telak, Juna tak dapat berkata-kata lagi. Menjawab pun tiada guna karena paman Reyhan pasti akan menggoda nya terus karena ketahuan jika ia tertarik pada gadis itu.
Selama ini, Reyhan lah tempat Juna berkeluh kesah. Baik itu tentang kesedihannya yang di abaikan oleh keluarganya atau masalah di kantor saat di London dahulu. Dan Reyhan selalu membantu nya karena ia sudah menganggap Juna sebagai keponakannya.
"Kurasa urusanku sudah selesai, dan aku pergi dulu paman." Juna berdiri dan melenggang pergi tanpa menoleh pada paman Reyhan.
"Ck, kau ini sangat arogan sekali dan tak sopan pada orang tua." Ucap paman Reyhan kesal.
Sepanjang jalan Juna sukses menjadi perhatian semua orang di kampus hingga di parkiran sekolah.
"Silahkan tuan," Kevin membukakan pintu mobil saat Juna sudah mendekat.
"Cepat jalan! Aku sudah jengah pada tatapan mereka yang lapar." Ucap Juna masuk ke mobil.
"Baik tuan." Jawab Kevin.
__ADS_1
Ia menutup pintu lalu mengitari mobil dan masuk di bagian kemudi mobil. Perlahan mobil melaju meninggalkan kampus tersebut.
"Kita langsung saja ke restoran yang sudah di sepakati." Perintah Juna.
"Baiklah tuan."
"Tuan, saya sudah mengirim data tentang wanita kemarin melalui email anda tadi pagi. Apa tuan sudah memeriksanya?" Tanya Kevin.
"Emm." Jawab nya singkat.
Kevin menangkap sedikit sudut bibir Juna terangkat. Rupanya Juna teringat akan pertemuannya di ruang rektor dengan Roro. Senyum manis dengan lesung pipi dan bola mata yang teduh mampu menghipnotis Juna hingga tak berkedip.
Ia meraih benda pipih dan membuka data yang telah terkirim. Ia mencocok kan data yang di kirim oleh paman Reyhan dengan daya yang di kirim oleh Kevin.
"Kevin, suruh anak buah mu secepatnya untuk mencari kakek gadis itu. Nama nya kakek Mulyo."
"Baik tuan."
'Keyakinan ku semakin bertambah jika kau adalah Arum ku. Aku sangat merindukan mu sayang.' Batin Juna.
__ADS_1