
"Papaaaa?" Teriak anak kecil yang sangat cantik bernama Zahra memanggil Juna seraya berlari.
Terlihat Ajeng beserta rombongan bodyguard berjalan di belakang Zahra.
"Sayang, anak papa!" Juna membungkuk menyambut pelukan hangat dari sang anak.
"Pa, kata tante Ajeng adik dalam perut mama sudah lahir ya? Terus mama mana pa? Zahra pengen ketemu mama juga adik bayi!" Tanya Zahra polos.
"Iya sayang, adik Zahra sudah lahir. Kalau mama ada di dalam ruangan ini, tapi mama tidak boleh di ganggu dulu. Mama harus banyak istirahat. Anak papa yang cantik ini mau melihat adik bersama papa? Kebetulan papa juga belum ke sana." Tawar Juna pada Zahra.
"Mauu mauu, zahra mau pa!" Jawab Zahra seraya meloncat kegirangan karena akan melihat adik nya yang sudah ia tunggu-tunggu.
Di ruang inkubator.
"Lihatlah cucu kita ma, tampan sekali! Mirip seperti Juna waktu kecil." Ujar papa David pada istri nya.
Papa David dan mama Diana memutuskan untuk melihat cucu mereka yang baru lahir ketika Juna masuk ke ruang ICU.
"Iya pa, wajah nya sangat imut sekali, wajah nya tidak jauh dari Zahra. Sayang sekali kita tidak bisa melihat Zahra waktu ia di lahir kan. Mama yakin Zahra terlihat sangat menggemaskan. Kasihan menantu kita pa, dulu saat ia melahirkan Zahra ia harus berjuang sendiri hanya dengan Ajeng tanpa orang tua dan suami. Dan sekarang ia malah terbaring koma, hiks hiks hiks." Ucap mama Diana menyesal seraya menangis.
"Semua bukan salah kita ma, semua karena ulah Bella yang terobsesi pada Juna sejak dulu. Dan papa yakinkan jika mulai sekarang tidak akan ada lagi yang akan mengganggu keluarga kita." Ujar papa David menenangkan istri nya yang mulai berkaca-kaca.
"Omaa opaa!" Teriak Zahra berlari merentangkan tangan meminta pelukan dari sang nenek dan kakek.
"Cucu oma sayang!" Ucap mama Dania sambil mengusap air matanya.
Mama Dania membungkuk merentangkan tangan menyambut pelukan dari Zahra, begitupun papa David langsung menggendong Zahra setelah pelukan mama Dania terlepas.
"Oma kenapa nangis?" Tanya Zahra seraya mengusap sisa air mata di pipi mama Dania.
__ADS_1
"Ini namanya tangis bahagia sayang. Akhirnya opa dan oma punya dua cucu. Satu perempuan dan satu laki-laki!" Tutur mama Dania.
"Jadi adik Zahra laki-laki ya oma?" Tanya Zahra polos. Mama Dania pun mengangguk antusias.
"Hooreeeee, Zahra punya adik laki-laki!" Seru Zahra bahagia.
Sedangkan Juna memandang takjub bayi laki-laki nya yang mungil dan imut tersebut. Ia tak menyangka jika tuhan memberinya satu berlian lagi dalam hidup nya. Di tatap nya bayi tersebut dengan penuh cinta. Kini ia bisa merasakan perasaan berdebar bercampur cemas menanti kelahiran anak nya. Dulu di saat Zahra lahir dirinya tidak ada di samping istri nya. Bahkan ia tidak tahu jika ia mempunyai anak dengan istri nya tersebut.
'Cepatlah pulih sayang, kita akan bersama dengan kakakmu membangun kan mama dari tidur nya.' Batin Juna.
"Pa, boleh Zahra yang memberi nama untuk adek?" Tanya Zahra berharap.
"Eemm, boleh! Coba sebutkan nama nya sayang! Papa, oma dan opa ingin tahu nama yang Zahra berikan." Jawab Juna.
"Zahra semalam bermimpi bertemu kakek tua, dan kakek berpesan untuk memberikan nama itu pada adik bayi. Nama nya Jhon El vano Wilson. Tapi Zahra suka panggil adik bayi dengan sebutan Baby El. Menurut papa, oma dan opa bagaimana, apa nama itu bagus?" Zahra menatap mereka bergantian.
"Pa, Juna ingin bicara sebentar!" Ucap Juna pada papa David.
"Sayang, kamu sama oma dulu ya. Opa ada perlu sebentar sama papa Zahra." Papa David menurunkan Zahra dari gendongan nya.
"Iya opa." Jawab Zahra.
"Sayang, papa pergi sebentar ya! Papa ada urusan bersama opa. Ma, Juna nitip Zahra!" Kata Juna pada Zahra dan mama Dania.
"Iya sayang!" Jawab mama Dania.
Juna dan papa David berlalu dari ruangan tersebut, meninggalkan Zahra dan mama Dania yang masih enggan meninggalkan bayi mungil yang tertidur lelap.
"Pa, Juna tidak bisa mentoleransi lagi. Meskipun om Wijaya adalah sahabat papa Juna akan tetap menghancurkan perusahan om Wijaya hingga tak bisa bangkit lagi. Juna ingin menunjukkan pada semua saingan bisnis ku agar tidak berani macam-macam pada keluargaku." Ucap Juna penuh emosi, saat ini mereka telah sampai di taman rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Papa mengerti dan mendukungmu nak. Papa sudah memberikan semua bukti-bukti pada pihak berwajib tentang kejahatan nya di dunia bisnis dan bisnis gelapnya selama ini. Juga kejahatannya dalam otak dalang rencana pembunuhan terhadap istrimu dan dirimu. Papa yakinkan ia akan membusuk di penjara selamanya." Jawab papa David.
"Papa hanya tidak menyangka jika om Wijaya gelap mata akibat mencicipi tubuh yang di berikan oleh Bella, sehingga ia mengkhianati persahabatan kami. Dan untuk perusahaannya, itu terserah padamu. Papa percayakan semuanya padamu Juna. " Imbuh papa David.
"Maafkan papa jika dulu papa hampir menjodohkan mu dengan Bella. Kelurga Bella sudah di beritahu oleh pihak berwajib perihal kematian Bella. Dan mereka tidak menghadiri pemakaman Bella karena malu. Bahkan keluarga Bella ingin meminta maaf secara langsung ke padamu tentang semua kejahatan yang di lakukan olehnya. Tapi itupun jika kau ingin menemui mereka." Papar papa David.
Juma masih terdiam enggan menanggapi perkataan papa David.
"Juna tidak ingin menemui mereka. Juna tidak bisa memaafkan kesalahannya. Dua kali ia membuat ku dan istriku berpisah. Bahkan sampai aku tidak mengetahui jika istriku hamil saat itu. Karena dia aku bahkan melewatkan masa-masa dimana seharusnya aku menemani istriku berjuang di saat melahirkan dan merawat anak ku. Dan sekarang ia hampir merenggut nyawa istriku dan anak ku. Istriku bahkan koma saat ini karena kejahatannya. Juna tidak bisa pa, sekalipun ia sudah mati tetap Juna tidak bisa memaafkan nya." Tegas Juna berapi-api pada papa David.
"Baiklah jika itu mau mu. Papa akan menyampaikannya pada paman mu Peter." Jawab papa David.
Papa David sangat mengerti jika luka yang Bella berikan pada Juna dan menantu kesayangan nya amatlah pedih. Mereka harus terpisah karena sebuah insiden kesalahpahaman. Dan sekarang karena ulah Bella, seluruh keluarga harus merasakan kesedihan karena menantu mereka sedang terbaring koma dan entah sampai kapan menantu mereka sadar.
Papa David juga tidak bisa membayangkan jika cucu laki-laki pertama nya, ahli waris keturunan Wilson tidak bisa selamat jika mereka terlambat. Dan ia juga tidak sanggup melihat kesedihan di mata anak nya Arjuna Wilson dan cucu perempuannya Zahra Wilson.
Malam yang begitu cerah. Tapi tak se cerah hati para anggota keluarga Wilson.
Juna pandangi istri nya melalu pintu kaca ruangan ICU. Ia merasa sangat sedih dan tak berguna melihat banyak alat yang melekat di tubuh istri nya. Juga luka dan lebam yang masih terlihat samar di wajah dan tangan istri nya.
"Pa, mengapa mama tidur nya lama sekali? Aku kan pengen di peluk mama?" Ucap Zahra yang berdiri di samping nya.
Juna dan Zahra juga Ajeng masih di rumah sakit, sedangkan papa David dan mama Dania pulang ke mansion untuk mengambil beberapa pakaian Juna dan istri nya.
Juna terdiam tak mampu menjawab pertanyaan putri nya. Ia perlahan bersimpuh di hadapan putrinya.
"Papa mohon Zahra berdoa agar mama cepat bangun dan kembali bersama kita seperti dulu. Untuk itu anak papa yang cantik ini harus lebih bersabar lagi." Terang Juna pada putri nya.
Juna mendekap Zahra dalam pelukannya. Ingin sekali ia menangis saat ini, tapi ia harus terlihat kuat dan tegar di hadapan putri nya.
__ADS_1