
Di perjalanan, Arentha selalu teringat dengan sesosok laki-laki yang menyelamatkan nya waktu ia hampir tenggelam di sebuah sungai, Arentha selalu teringat dengan senyum nya bahkan moment ciuman pertama nya.
Tapi ia tidak melihat dengan jelas wajah dari laki-laki itu, karena pada saat itu pandangan Arentha sedikit kabur yang di sebab kak oleh air sungai.
_Laki-laki penyelamat ku.. Apakah aku bisa bertemu lagi dengan nya? Oh... Arentha, bukan waktunya memikirkan hal itu, temukan saja tempat untuk menginap malam ini!_ Batin Arentha.
Setelah itu ia membuka sebuah kertas yang bertuliskan alamat, yang di mana alamat tersebut adalah tempat tinggal kakak sepupu nya. Ia ingin bermalam di rumah sepupunya, makanya ia menuliskan alamat di sebuah kertas agar tidak lupa dengan tempat tinggal sepupu nya itu, tapi tulisan di kertas tersebut menjadi buram akibat terkena air.
_Tulisan nya tidak jelas! Seratus delapan, nomor dua ya? Hmmm.._
Arentha sudah cukup lama berjalan, dan akhir nya ia menemukan rumah yang cukup besar dengan nomor rumah yang sama pada kertas tersebut.
_Di sini kah? Besar sekali. Sepertinya kak Kiran baik-baik saja._
Arentha menuju pintu gerbang yang besar dengan warna silver mengkilat, ia sudah memanggil Kiran dari luar, tapi tidak ada jawaban sama sekali, pada akhir nya ia memberanikan diri untuk membuka gerbang tersebut.
_Pintu nya tidak terkunci. Dia tetap ceroboh seperti biasanya! :)_
Arentha pun masuk ke halaman rumah yang begitu besar, di sisi kiri terdapat taman dengan tanaman bunga mawar yang berwarna merah gelap, sedangkan di sisi kanan terdapat air mancur serta tempat minum teh para kolomengrat.
Arentha pun masuk ke dalam rumah tersebut dengan niat mencari sepupu nya, ia memanggil nama Kiran dengan kencang, tapi tidak ada jawaban yang keluar dari sepupu nya tersebut.
"Kak Kiran! Kak Kiran. Aku datang untuk melihat mu! Kak Kiran... Eh? Tidak ada orang. Apakah dia pergi? Hmmm, ya sudahlah tidak apa-apa, nanti pasti dia akan segera pulang, aku mau menumpang mandi terlebih dahulu, badan ku rasa nya lengket dan tidak nyaman, kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu, setelah itu baru bereskan barang-barang bawaan ku!"
Arentha yang merasa badan nya lengket dan tidak nyaman akibat dari tercebur di sungai, ia akhirnya pergi ke kamar mandi, dan berendam di bathtub.
"Aku pakai kamar mandi nya dulu ya kak" Izin Arentha pada sepupu nya yang tidak ada.
Kamar mandi tersebut sangat luas, bernuansa antik dengan barang-barang yang kebanyakan berwarna perak, coklat hingga emas. Terdapat tanaman di pojok kamar mandi tersebut dan patung air mancur yang kecil di bathtub nya.
"Kamar mandi ini norak sekali. Sejak kapan kak Kiran menjadi senorak ini?"
Tanpa Arentha sadari ada seseorang di belakang nya yang dari tadi sedang memperhatikan Arentha.
"Memakai kamar mandi ku tanpa izin, lalu menertawakan nya, berani sekali ya kamu!"
__ADS_1
Arentha yang kaget dengan suara laki-laki tersebut, menoleh ke arah laki-laki itu.
"SIAPA?"
Arentha yang panik karena ada seorang laki-laki telanjang dada di kamar mandi itu, langsung saja ia mengambil sebuah handuk yang ada di samping bathtub dan memakai nya.
"SIAPA KAMU? KENAPA ADA DI RUMAH SEPUPU KU!?"
"Saya siapa? Saya sepupu kamu!" Jawab laki-laki tersebut.
Laki-laki itu sedikit bercanda dengan Arentha yang nampak memperlihat kan ekspresi lucu itu, laki-laki itu mempunyai rambut lurus yang panjang, dan ada garis warna merah di rambutnya. Di leher nya ada tattoo dengan gambar mawar.
"Aku tidak bodoh! Sepupu ku itu wanita!" Jawab Arentha dengan suara lantang.
"Oh. Kalau gitu aku sepupu laki-laki kamu."
"Aku tidak punya sepupu laki-laki!"
"Kalau gitu, aku papa kamu."
"Kamu ini! Kalau kamu tidak mau mengakui siapa kamu. Aku akan memanggil polisi!"
Laki-laki itu terkekeh setelah mendengar ancaman dari Arentha, dan wajah nya yang merah padam, hal itu malah membuat laki-laki tersebut ingin mengganggu nya lagi.
"Memanggil polisi? Harus nya aku yang bilang begitu. Kamu sembarangan memasuki rumah ku, lalu menggoda ku. Aku yang seharus nya memanggil polisi!" Ucap laki-laki tersebut sambil memegang dagu Arentha.
"In-ini rumah kamu?"
"Coba lihat disana!" Tunjuk laki-laki tersebut ke sebuah bingkai foto, yang berisi kan foto dirinya saat memakai setelan jas hitam ala ksatria dengan samurai di samping tangannya.
"Sepupu mu pasti tidak akan menggantung foto ku di kamar mandi kan?" Ejek laki-laki itu dengan senyum sumringah.
_Tut—Tut, Laki-laki ini sungguh gila!_ Batin Arentha dengan wajah datar saat memperhatikan foto tersebut.
Setelah lama Arentha memperhatikan foto itu, ia baru sadar akan satu hal yang ada di foto tersebut.
__ADS_1
_Tunggu! Gelang yang di pakai oleh laki-laki ini, kayak nya aku kenal! Gelang itu bukan nya hanya di miliki oleh pewaris keluarga Racman! Apakah laki-laki ini pewaris dari keluarga Rachman. Satu dari lima keluarga besar? *Lanno Racman*!? Oh, tidak, aku dalam bahaya :")_
Setelah Arentha mengetahui siapa laki-laki itu, ia hendak kabur dan pergi dari rumah tersebut.
"Maaf ya. Aku ingat kalau ada urusan lain yang harus di kerjakan. Sampai jumpa!"
Saat Arentha hendak pergi meninggalkan laki-laki itu, tangan Arentha di tahan oleh Lanno.
"Mau kabur? Jangan harap! Kalau kamu telah menyalakan api ku. Maka kamu harus memadamkan nya."
"Kalau gitu, bagaimana kalau aku bantu kamu untuk menelpon polisi? Atau pemadam kebakaran?" Jawab Arentha dengan cengiran kewaspadaan nya.
"Hal itu tidak akan memadamkan api ku."
_Cih, bahaya sekali!_
Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide dalam otak Arentha yang akan membebaskan nya dari laki-laki itu.
"Hei, lihat ada pesawat!" Tunjuk Arentha ke belakang Lanno.
Lanno yang percaya akan perkataan Arentha, ia malah menghadap kebelakang seperti yang Arentha kata kan.
Dengan itu Arentha melespakan genggaman Lanno dari tangannya dan melarikan diri, sebelum itu, dia membawa baju nya keluar kamar mandi dan mengunci Lanno di dalam sana.
Arentha pun mengenakan pakaian nya kembali dan membawa koper nya, setelah itu ia segera keluar dari rumah tersebut.
Lanno yang mengetahui kalau gadis itu lari dan mengunci nya dari luar hanya tersenyum dengan tenang. Ia rasa kalau ia akan segera bertemu dengan gadis tersebut.
_Humph, lucu sekali gadis itu... aku rasa, kita akan bertemu kembali!_ Feeling Lanno.
Di sisi lain Arentha yang keluar dengan melewati taman tadi dan berhasil melewati gerbang besar, akhirnya ia bisa keluar dari rumah tersebut.
_Semoga aku tidak pernah bertemu dengan nya lagi, dia laki-laki yang gila!_ batin Arentha.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanan nya untuk menemukan rumah sepupu perempuan nya.
__ADS_1