Odnoliub

Odnoliub
CHAPTER 13


__ADS_3

...Every problem, there...


...must be a ...


...million beauties ...


...in it.🥀...


...✨✨✨...


..."Siapin cemilan, dan cari ...


...Tempat yang nyaman...


...Untuk membaca"...


...|| Ready...... Go! ||...


...Jangan lupa vote and komentarnya...


...||Happy Reading||...


...__...


"Pak, berhenti?", Aku meminta supir taksi yang aku naikin untuk menurunkan ku, di pesisir laut Cap Ferret.


"Indah sekali laut ini," kataku sambil menikmati indahnya suasana di laut itu. Sesekali aku memejamkan mata, untuk merasakan ketenangan ketika angin berhembus dan menerbangkan rambutku.


"Excuse me," seorang wanita berkulit putih dan bermata hijau menghampiri ku. Aku pun, menghadap ke arahnya. "Ya," kataku dengan sangat cuek. "Apakah kamu punya baju hangat?" Dia melirikku dari atas sampai bawah. Ada apa dengan pakaian ku? Apakah aku salah mengenakannya? Pertanyaan itu terbenak di kepalaku.


"Aku mempunyai baju hangat seperti yang kau bilang," kataku sambil melihat ke arah laut biru itu. "aku saranin, cepatlah kamu memakai baju itu. Musim salju akan segera turun beberapa hari lagi," wanita itu pergi meninggalkanku. Astaga, ternyata sebentar lagi musim salju. Kenapa aku gak kepikiran ya.


Di kantor 🍂


"Aa.., lowbat lagi hp nya," verrell menghubungi ku terus-menerus. Sedangkan aku, masih menikmati indahnya laut biru yang terbentang di tanah Paris ini. "Apa, aku susul aja,"verrell melihat ke arah langit. Sepertinya, salju bakalan turun besok malam.


Di pantai 🍂


"Ibu, dingin," aku melihat ke arah suara anak kecil tersebut. Dia mengingatkan ku, tentang ibuku.


[ Flashback mode on]


"Ibu, apakah aku boleh bermain air di sini," kataku dengan sangat gembira.


"Boleh sayang, tapi jangan terlalu jauh." ibuku tersenyum manis dan menyuruhku untuk bermain air di sekitaran bibir laut.


"Yee," aku pun pergi untuk bermain air.


Setelah beberapa menit kemudian.


"Ibu, kamu dimana?," Aku mencari ibuku di sepanjang pesisir lautan yang kami kunjungi.


"Ibu," teriakku dengan kencang. Aku terus mencari ibuku hingga, aku melihat sebuah tulisan namaku yang tergores di batu.


...~RACHAEL PRICILLA AMANDA~...

__ADS_1


"Ibu," aku terus mencari-cari ibuku, berharap dia masih ada di sekitaran bibir laut ini.


Setelah, sudah beberapa lamanya. Aku tidak menemukannya sama sekali hingga saat ini.


[ Flashback mode off ]


"Itu sebabnya, aku tidak ikut pulang dengan Oliv," aku menundukkan kepalaku dan memegang sebuah foto ibuku dan meraba-rabanya.


"Aku, turut prihatin atas kehilangan ibumu," Verrell memegang tanganku.


"Kau tahu, gimana rasanya kehilangan seorang ibu. Seseorang yang paling berharga dalam hidup kita. Dan seseorang yang mencintai kita dengan tulus. Kau tahu rasanya?," Aku bertanya kepada verrell dan air mata sudah menetes di pipiku.


"Kehilangan seorang ibu lebih sakit, daripada kehilangan seorang ayah. Karena," aku menatap Verrell. "Ibu adalah segalanya," aku kembali menunduk kepalaku.


Kenapa ini bisa terjadi di hidupku. Apa salahku? Aku tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun. Tapi kenapa? Kenapa, Tuhan memberikan ku cobaan seperti ini.


"Dan sekarang, ayahku sudah menikahi seorang wanita yang sangat jahat kepadaku," kataku sambil tertawa kecil. "Kau tahu," aku menatap Verrell kembali. "aku selalu salah di mata ayahku. Dan adik tiriku, selalu benar di matanya," verrell menghapus air mata yang turun dari pipiku. Sudah lama, ketika aku menangis tidak ada yang menghapus air mataku dan baru kali ini, kehangatan itu kembali hadir.


"Sudah kau jangan bersedih lagi. Aku akan ada untukmu," verrell tersenyum manis kepadaku. Aku juga membalas senyuman itu dan mengucapkan, thank you.


Memang, semenjak aku berjumpa dengan verrell. Kehangatan yang ada di dalam diriku kembali bersinar. Yang dulunya, aku hanya melihat pandangan suram dan penuh kejahatan. Kali ini, itu semua hilang begitu saja.


...✨✨✨...


[ Flashback mode on ]


"Pasti kau sengaja memecahkan foto itu," kakak tiriku, sengaja memecahkan foto keluargaku dulu.


"Tidak, aku tidak sengaja. Ayah percayalah," dia mengelas manis kepada ayahku.


"Aku gak sengaja," lagi-lagi dia mengelas kepada ayahku.


Tanpa sengaja, aku menolaknya hingga terjatuh dan tangannya, terkena remahan kaca dari bingkai foto yang sudah pecah.


"Apa yang sudah kau perbuat," ayahku marah, dan menolakku hingga kepalaku terbentur pinggiran kasur.


"Kita obati lukamu," ayahku membawa kakak tiriku untuk mengobati lukanya. Sedangkan aku, di biarkan begitu saja hingga darah menetes di wajahku.


"Au, sakit bibi," teriakku kepada bibi yang sudah aku anggap sebagai ibu aku sendiri.


"Cuman sebentar sakitnya, kau tahan ya?," Bibi itu sangat baik kepadaku. Dia selalu hadir ketika aku bersedih. Tanpa dia, mungkin sekarang aku gak bisa menghirup oksigen lagi. Dulu, aku pernah berniat untuk mengakhiri hidupku. Untung saja, bibi itu mengingatkanku bahwa kematian dengan cara membunuh diri itu akan sia-sia dan tidak menimbulkan rasa kekecewaan ataupun rasa kasihan kepada diriku.


Dulu, ayahku sangat menyayangiku. Dia selalu, perduli denganku dan gak mau aku terluka sedikitpun. Tetapi, semenjak kakak tiriku hadir di kehidupan kami. Dia berhasil, membuat ayahku membenciku. Ayahku, selalu membela dia, menyayangi dia, dan memberikan apa yang dia mau. Apa Karena, dia adalah seorang lelaki.


[ Flashback mode off ]


"Dulu, aku juga mempunyai seorang kakak yang sangat baik kepadaku. Tapi," Verrell menghentikan percakapannya. "Tapi,"aku menatap verrell. "Tapi, kakakku sudah pergi untuk selama-lamanya dan gak bakalan bisa kembali lagi," verrell menahan tangisnya. "Dan, Nicko. Itu adalah anak dari kakakku," aku tersontak kaget. Ternyata, Nicko adalah sepupu verrell. "Tapi, kenapa verrell memanggilmu, Dady?," Aku bertanya kepada verrell. "Supaya, dia tidak sepertiku yang tidak memiliki ayah sama sekali," kali ini verrell tidak bisa menahan rasa tangisnya. Aku pun, segera untuk menghapus air matanya dan tersenyum kepadanya.


...✨✨✨...


20.00 WIB


"Rachael," suara seorang pria yang sudah berdiri sejak aku turun dari taksi.


"Dery? Kau ngapain ke villa ku," kataku sambil mendekatinya.

__ADS_1


"Aku cuman mau bilang, I love you,"


Apa? Aku kan, udah menolaknya dan aku gak ada rasa cinta sama sekali kepadanya.


"Are you okay?," Aku menaikkan alisku. Jangan-jangan Dery, sudah kehilangan jiwa kewarasannya sehingga dia dengan mudahnya mengucapkan kata itu.


"I'm okay," Dery memasang wajah yang sangat menyeramkan. Jangan bilang, dia mau macam-macam.


"Please, kau jangan macam-macam," wajahku begitu tegang dan aku mundur pelan-pelan ke belakang. Kemana semua orang yang ada di villa ini?


"Ayolah, Rachael. Ikut bersamaku," Dery mengeluarkan pisau yang sangat tajam dari tasnya. "Sadar Der sadar,"kataku sambil berteriak meminta tolong.


Semenjak mengingat masalah yang di alami Rachael. Aku takut, dia bakalan melakukan tindakan yang pernah dia lakukan. Gumam Verrell dalam hati sambil menyetir mobil.


"Help me, please,"aku berteriak meminta bantuan berharap ada seseorang yang mendengarkan ku.


"Aa, kepikiran terus," verrell pun, memutar balikkan mobilnya untuk melihat ku.


"Jangan, jangan..,"aku memejamkan mataku dan, "verrell," Verrell memukul tengkuk Dery dengan balok kayu yang berukuran sedang.


"Kau gak apa-apa," aku memeluk verrell dalam keadaan ketakutan dan penuh tangisan. Verrell mengelus rambutku dan membawaku ke rumahnya. Tetapi,


Bruk...


Dery menonjok bibirnya Verrell, "sialan,"verrell mengusap bibirnya yang luka.


Kali ini, verrell berhasil melumpuhkan Dery. "Rasakan itu, laki-laki brengsek," sepertinya, verrell terkena pukulan yang sangat keras dari Dery. Sehingga Membuat, perutnya terasa sakit.


Jangan-jangan, lambungnya kambuh lagi.


Karena hal itu, aku cepat-cepat membawa verrell ke rumah sakit untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja.


...⭐________⭐...


..."Tetaplah tersenyum, ...


...Walaupun...


...Badai menghadang."...


...|| Odnoliub ||...


...⭐__________⭐...



Hai, hai readers...


Maaf nih, telat UP nya. Hehehehe...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak Vote dan komentarnya.


Salam manis dan hangat dari author


Super kece

__ADS_1


Darwan


__ADS_2