
May 23, 2015
"Thank you, Sir." Aku turun dari taksi.
Tumben, suasana kantor sepi amat. Biasanya, para karyawan udah pada datang.
Sesampai di pintu kantor. Satpam kantor memberhentikan langkahku.
"Kantor sedang tutup. Besok baru dibuka kembali" ujar satpam itu.
"Tutup? Tumben amat, pak." Kataku.
"Memang setiap tanggal 23, may. Kantor ini di tutup karena semua aktifitas di kantor ini di stop sementara dan dibuka pada hari esok." Jelas satpam itu lagi.
Aku hanya membentuk huruf vokal O di mulutku. Satpam itu pun pergi meninggalkanku.
"Berarti, hari ini free dong." Aku kegirangan sekali.
Sementara itu, VERRELL memperhatikanku sejak tadi dari dalam mobilnya. Dan dia pun menghampiri.
"Free?" Katanya.
(Tersontak kaget) "Eh, pak." Aku tersenyum manis kepadanya.
"Untuk kamu, hari ini wajib masuk kerja," tegasnya.
"What?" Aku tersontak kaget.
"Sekarang, kamu ikut saya," kata Verrell.
Di perjalanan~~~
Kali ini, verrell terlalu banyak mengoceh di dalam mobil tidak seperti biasanya dia seperti ini.
"Oh, iya. Tentang kejadian kemarin, pasti kamu trauma, ya?" Verrell menatapku.
(Aku pun membalas tatapannya) "Enggak kok, pak. Santai saja," aku tersenyum manis kepadanya.
Padahal sampai sekarang, aku masih merinding. Gumam ku dalam hati.
"Syukurlah,"Verrell pun membuang wajahnya.
Astaga, aku lupa kalau hari ini aku udah janji sama Oliv untuk jalan-jalan. Aku membuka gedget ku dan ingin message-nya. Ternyata, aku sudah keduluan sama Oliv.
Rachael, gimana. Kita
Jadi kan jalan-jalannya.
Aduh, sorry banget nih.
Aku lagi sama bos kita.
What? Ngapain?
Aku pun gak tahu.
Padahal hari ini kantor
Tutup. Huft (emot sedih).
Jangan-jangan, dia suka
Lagi Samamu. Cie...
Apaan sih, gak jelas
Banget.
Sebenarnya sih, aku ada rasa sama verrell. Tapi, gak mungkin lah dia suka aku. Pasti tipe ceweknya lebih-lebih dari aku. Gumam ku dalam hati sambil menatap Verrell.
(Melihat ke arahku) "Hey," verrell melambaikan tangannya ke wajahku.
Astaga, aku tersontak kaget. Apa yang ku lakukan tadi ya. Aduh, malunya. Aku pun membuang wajahku dari hadapan Verrell. Aku hanya meliriknya dan dia tersenyum-senyum sendiri. Malunya, sampai ke ubun-ubun ini, mah.
Sementara itu~~~
__ADS_1
Rachael..
Hello...
Masih hidup kan?
Gak, aku udah death.
Ya kali, aku mati.
Mana tahu ya kan,
Mati di pelukan verrell.
(Emot tertawa).
.....
Udah dulu ya, aku
Mau mandi.
Oke... (Emot jempol)
∆∆∆∆
Akhirnya, kami sampai ke tempat tujuan. Kami pun turun bersamaan, dan aku sedikit heran melihat verrell. Kenapa, aku diajaknya ke restaurant yang kemarin? Hmm... Mencurigakan.
(Menghampiri ku) "Kok, diam aja. Ayok, masuk," Verrell menyuruhku untuk mengikutinya.
Aku mengikuti Verrell dari belakangnya. Dan melihat kanan, kiri betapa suramnya pemandangan disini. Kenapa begitu suram? Karena, semua yang makan di restaurant ini pada membawa pasangannya masing-masing.
"Silahkan, duduk pasangan pengantin," ucap salah satu pelayan di restaurant itu.
Ha? Pasangan pengantin? Apaan sih? Gumam ku dalam hati.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Verrell kepadaku.
"Samain aja, pak. Eh, gak jadi deh. Aku mau pesan ayam super hot level 100 ini aja," balasku.
Aku pun mengangguk kepadanya. Kenapa dia membawaku kesini, ada apa.
Setelah beberapa menit kemudian~~~
VERRELL terlihat sedang memegang perutnya. Sepertinya, dia menahan sesuatu yang menyakitkan. Aku pun cepat-cepat, ke tempat verrell.
(Sambil memegang tangannya) "Kamu kenapa?" Tanyaku.
Lagi-lagi verrell menatapku dengan manis. Inilah, membuatku diriku baper ketika dekat samanya.
"Saya, gak apa-apa," memegang perutnya dan menahan rasa sakit itu.
"Kita ke dokter saja ya," aku pun membawa verrell pergi dari restaurant itu dan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan verrell.
Sesampai di rumah sakit~~~
"Wound, your stomach is too bad. It must be dealt with quickly before it gets worse," jelas dokter itu.
Ternyata, verrell mempunyai sakit lambung? Kenapa dia gak bilang, kalau dia bilang kan pasti tadi aku mesan makanan yang manis-manis. Aku merasa bersalah kepadanya.
Waktu di restaurant~~~
"Kamu mau coba makanan pedas ini?," Sambil menyodorkan makananku.
"Aku gak bisa makan-makan pedas," Verrell menolaknya.
"Kamu laki-laki kan? (Menaikkan satu alisnya) laki-laki takut makan pedas, gak jantan lo," aku tertawa kecil kepada verrell.
"Oke, oke aku akan makan," Verrell menelan Saliva nya dan mengambil satu potong ayam untuk dimakannya.
Ketika verrell sudah menghabiskan satu potong ayam. Dia agak sedikit aneh. Dia seperti menahan rasa sakit yang begitu perih. Aku pun tersadar, dan cepat-cepat menolongnya.
∆∆∆∆
Ceklek... Bunyi suara pintu
__ADS_1
Aku menuntun verrell.
Kenapa sih, Rachael, kau itu gak nanya dulu apa samanya. Kalau sudah begini, siapa coba yang disalahkan. Pasti, kau Rachael. Aku gedumel dalam hati.
"Udah, jangan di pikirkan," Verrell tersenyum kepadaku.
Sepertinya, aku harus meminta maaf kepadanya sebelum semua terlambat. Maksudnya, disini bukan terlambat karena dia mau Death. Tapi, karena aku takut dia bakalan memecat ku. Mau makan apa nanti aku.
Aku pun mengantarkannya sampai di rumahnya. Wow, aku terpesona melihat rumahnya. Rumah yang begitu elegan, dan begitu mewah. Ditambah lagi sambutan dari satpam yang ada di rumahnya.
"Hati-hati," kataku kepada verrell.
(Seorang wanita keluar dari rumah Verrell) "ya ampun, sayang. Kamu kenapa? Gak kenapa-kenapa kan? Udah, udah kita ke kamarmu," kata wanita itu sambil menuntun verrell.
Wanita itu lagi, wanita yang di panggil nya momy. Ternyata, dia ada di rumahnya verrell juga. Sepertinya, gak ada harapan buatku. Sudah lah, dia sudah beristri. Ditambah lagi tadi, seorang anak kecil keluar dari rumahnya dan memanggil dia, Dady?
∆∆∆∆
Ketika aku hendak masuk ke villa, Oliv memanggilku.
"Rachael...," Teriak dan berlari mendekatiku.
"Oliv," balasku.
"Ya ampun, kebetulan kamu sudah pulang," Oliv tersenyum kepadaku dalam keadaan ngos-ngosan. Aku memiringkan mulutku ketika melihatnya. Punya teman, kok seperti ini amat ya...
"Aku mau istirahat, capek banget soalnya, aku," kataku kepada Oliv.
"Lah, kamu dari mana aja sih dengan pak Verrell? Aku sungguh penasaran,", Oliv menaikkan satu alisnya.
"Udah lah, lupakan saja (aku melarikan pembicaraan) Btw, kamu dari mana?," Aku menaikkan dahiku.
"Rencananya, aku mau ke mall. Eh, tiba-tiba aku melihatmu udah pulang, jadinya, aku mampir deh," jelas Oliv.
"Oh, gitu," balasku cuek.
Oliv mendekatiku dan memegang pundak ku. Mataku melotot, ketika Oliv mendekatiku terlalu dekat. Jangan-jangan, dia...
"Aku bakalan nunjukin kamu tempat-tempat yang paling... Indah di Paris ini," dia berbisik kepadaku.
Ternyata, dia cuman mau ngomong gituan doang. Aku kira, dia mau mencium ku.
"Emangnya, ada? Setahuku cuman menara Eiffel saja yang indah," aku memajukan mulutku.
"Astaga, jadi kamu tahunya cuman menara Eiffel doang," Oliv tertawa terbahak-bahak.
"Jahat, lo," aku memasang wajah jutek.
"Yaudah, yaudah. Makanya, kita jalan-jalan, gimana," bujuk Oliv.
"Oke deh, aku mau," aku pun menyetujui nya.
Bersambung***
_______________________________________
"Soal hati, kita memang tidak
Mengetahui nya.
Tetapi, mata tidak
Pernah bohong
Kalau tentang
Perasaan."
|| Sweater Girl's||
_____________________________________
VERRELL ☺️
__ADS_1