Oh My Arsenio

Oh My Arsenio
Chapter 8


__ADS_3

Tak ada yang lebih paham dari sementara ketika aku memilih merindukanmu dalam bentuk aksara yang tak terbaca, kau lah doa dengan dosa didalamnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


setelah hampir setengah jam pingsan, kini anindira mulai mengerjap ngerjapkan matanya, dengan kesadaran yang belum full, dia masih berusaha menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan arsenio.


betapa kagetnya saat kesadarannya sudab penuh, dia berada di ruangan bosnya, berdua, daannnn sedang apa? pikiranya sudah melayang kemana mana.


" kau sudah sadar rupanya?" tanya arsenio


" mmm memang apa yang terjadi dengan saya pak?" jawab Dira


" kau tadi pingsan dir, sekarang apa kau sudah baikan?" kata Arsen lagi


ada apa dengan pak arsenio kenapa tiba tiba sikapnya sedikit manis dan tidak sedingin kemarin kemarin? apa mungkin dia mulai menyukaiku? ah tidak mungkin rasanya kata Dira dalam hati


" dir" panggil arsen lagi


" eh iya pak saya sudah baikan sekarang, terimakasih pak sudah membantu saya, dan maaf sudah merepotkan bapak" kata Dira lagi


" tidak apa apa, sekarang pulanglah karna saya harus meeting dengan kelayen bersama David, dan setelah itu saya akan pulang, lebih baik kamu juga pulang dari pada disini sendirian, dan juga kamu bisa beristirahat lebih lama" kata arsen lagi


" baiklah pak, terimakasih, saya akan menyiapkan berkas untuk bapak meeting hari ini, setelah menyiapkan semuanya saya akan pulang, sekali lagi saya terimakasih pak" kata Dira lagi kepada sang bos


" hm ya sudah tidak apa apa" jawab arsen masih dengan muka datarnya.


" saya permisi pak" kata Dira lagi


" hm" hanya itu jawaban dari arsen


namun, tak berselang lama telfon arsen berbunyi, yaaa sang papah menelfonnya, tumben, hanya itu yang ada dipikiran arsen


" halo pah tumben nelfon arsen?" tanya arsen pada sang Daddy di balik telfon


" dasar anak durhaka, kau pikir aku menelfon mu harus ada alasan hah?" jawab sang papah dengan nada sedikit kesal


" tidak pak tidak, ada apa menelfonku? aku akan berangkat meeting" jawab arsen pada sang papah


" nanti malam datanglah ke mansion papah dan mamah kangen kepadamu lagian apa mau tidak merindukan kakakmu?" kata papah lagi pada sang anak


" baiklah aku akan pulang, aku merindukan kalian semua tentunya" jawab arsen sambil menyinggungkan senyumnya.


" baiklah jangan lupa untuk pulang oke" kata papah lagi


" iya papah siap" jawab arsen lagi dan langsung mematikan handphonenya, dia berjalan keluar dari ruangannya menghampiri sang sekretaris untuk meminta berkas berkas yang akan dibawa meeting bersama David


" mana berkasnya?" tanya arsen dengan wajah datar


" ini pak silahkan" jawab Dira dengan wajah yang terlihat masih pucat.


" pulang lah agar keadaanmu tidak bertambah parah" kata arsen dan sontak membuat Dira


dag


Dig

__ADS_1


dug


" Baa..baikk pak terimakasih" hanya itu jawaban dari Dira


setelah sang bos pergi dengan sang asisten kini Dira mulai berkemas untuk pergi pulang, dia sangat bersemangat karna hari ini bisa pulang lebih cepat dari biasanya.


tentu saja sebelum pulang dia menemui Amell sahabat yang sekarang tidak satu divisi denganya, dan karna hal itu membuat Amel dan Dira jarang sekali bertemu.


" hallo melll" kata Dira di balik pintu ruangan kerja Amel


" hwaaaa Dira aku sangat merindukanmu" jawab Amel pada sahabatnya


" kau ini lebay sekali heehh" kata Dira


", biar saja memang aku sangat merindukanmu, eh tapi tunggu, kenapa wajahmu pucat? apa kau sakit?" tanya Amel penuh selidik


" sedikit, tapi tidak apa apa" jawab Dira


" dan kau mau kemana? bukanya ini masih jam kerja?" kata Amel lagi


" aku harus pulang bos mengizinkan aku untuk beristirahat karna kepalaku memang sedikit pusing" jawab Dira lagi


" jadi kau memang sakit? apa aku perlu mengantarmu pulang? kau sudah minum obat? makan?" tanya Amel kepada dira dengan beruntun


" dasar kau ini cerewet sekali, sudab aku pulang dulu taxiku sudah menunggu diluar" jawab Dira pada Amel


" huhh ya sudah hati hati dijalan oke" kata Amel lagi


" baiklah sayang" jawaban dari dira



**


di dalam taxi Dira lebih banyak diam, dan memijit kepalanya yang masih terasa sedikit pusing, sang supir yang mengerti dengan keadaan sang penumpang pun membawa laju mobil dengan sedikit lambat agar sang penumpang merasa sedikit nyaman.


tiga puluh menit perjalanan dari kantor ke rumah, kini Dira sudah sampai di rumah dengan keadaan sangat lemas, dan untuk pertama kalinya dia melihat sang ayah berada di rumah


" ayah? kau pulang kapan?" tanya Dira kepada sang ayah


" bukan urusanmu, nanti malam ikutlah denganku, kau harus dandan secantik mungkin, ingat itu "


" memangnya kita mau kemana?" tanya Dira lagi


" tidak usah banyak tanya, apa kau tidak dengar ha?" kata ayah Dira sedikit membentak, dan blusss, bentakan sang ayah sukses membuat sang Dira meloloskan air matanya


" kenapa ayah sekarang sangat membenciku yah? apa salahku hikksss hiksss" kata Dira lagi dengan menangis memegang kaki sang ayah


" karna kau anak pembawa sial" hanya itu jawaban yang terus sang ayah keluarkan jika Dira bertanya kepada dia sangat membenci Dira.


Dira yang sudah tidak kuasa pun langung berdiri dan berlari ke dalam kamarnya, dia langsung mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur yang tidak ada rasa empuk sama sekali.


hampir satu jam Dira menangis, mungkin karna dia merasa lelah, sekarang dia malah tertidur dan meringkuk dibawah selimut tipis yang menutupi tubuhnya.


**

__ADS_1


di tempat lain, kini arsen dan David sudah berisiap untuk pergi ke Mension keluarga alvarendra.


" vid kita ke mansion sekarang" kata arsen pada sang sekretaris


" baik bos" hanya itu jawaban dari david


dan David kini sudah mulai membuat mesin mobil itu beederungg, dia menyusuri jalan dengan laju yang tidak terlalu kencang, dan empat puluh menit perjalanan, dia pun sampai di mansion utama.


David? tentu dia langsung pulang, karna dia tidak mau menganggu moment keluara yang pasti dalam keadaan bahagia, karna putra bungsunya datang untuk menjenguknya


" bos saya pulang" kata David setelah membukakan pintu pada sang CEO


" baiklah vid hati hati" hanya itu jawaban dari arsen


" baik bos terimakasih" kata David lagi.


setelah kepergian David, arsen memasuki mansion dengan gagahnya, tentu saja arsen disambut oleh banyak pelayan, karna memang di rumah itu terdapat 32 pelayan, sudab bisa dibayangkan bungkan sebesar apa mansion itu.


" sayang kau sudah datang nak, mamah sangat merindukanmu" kata mamah arsen, yaa Mama arsen Birdella Wilson


" iya mah arsen sudah pulang, mama apa kabar?" jawab arsen sambil memeluk sang mamah


" mamah baik nak, papahh kakak arsenio sudah pulang" kata mamah berteriak dengan kencangnya, dan sungguh itu adalah kebiasaan sang mamah yang tidak bisa dihilangkan


" wah anakku sudah pulang rupanya" kata papah yang mulai menuruni anak tangga, yaaa sang papah, Abraham stive alvarendra


" iya pahh, dimana kakak?" tanya arsen pada sang papah


" kakakmu masih di kamar bersama kakak iparmu, sebentar lagi di akan turun nak" jawab papah.


dan benar saja sudah lima belas menit ketiga orang itu berbincang, keluar lah pasutri itu, siapa lagi kalau bukan


Gibran raka alvarendra dan Rosalinda Prameswari


" Hay dek sudah lama datang?" kata Gibran menyapa sang adik


" sudah lumayan kak" jawab arsen dengan senyum manisnya dan tidak lupa Rosa langsung menyapa sang adik ipar


" arsen apa kabar, lama tidak bertemu" sapa Rosa kepada arsen namun tidak ada jawaban dari arsen, sungguh itu membuat Rosa merasa kecewa


" ada apa dengamu hah, kenapa kau selalu dingin dengan semu orang kecuali keluargamu" kata Gibran meledek sang adik


" cih itu memang sudah menjadi sikapku kak" jawab arsen tanpa senyum


:)))))))


hay, author up lagi nih


author usahain setiap tokoh akan author kasih visualnya yah, tapi kalian jangan pada pelit vote yah hehehe


LIKE


COMENT


VOTE

__ADS_1


LOVeđź–¤


__ADS_2