
Selain profesional kerja, Bang Seba enggan berinteraksi dengan Bang Ilham dan Bang Marsidi.
Pagi ini Bang Seba kembali menemui Danyon karena besok atasannya itu akan melakukan Sertijab dengan komandan yang baru.
"Urus saja dengan komandan yang baru. Saya tidak mau berurusan dengan kamu." Untuk kesekian kalinya Danyon menolak permintaan Bang Seba.
Raut wajah Bang Seba berubah geram. Sudah satu bulan lebih dirinya berada di mess yang ukurannya tidak besar dan menghimpit ruang geraknya bersama Raya apalagi mess tersebut memang di khususkan untuk para tamu Batalyon.
"Saya butuh tanda tangan itu..!!" Kata Bang Seba.
"Kalau saya tidak mau??"
Bang Seba menahan amarahnya, belakangan ini dirinya mengurangi perkelahian dengan siapapun karena Papa Sanca sudah memberikan teguran keras padanya soal tindakan yang sering ia lakukan. Bang Seba segera keluar dari ruangan membawa rasa kesalnya.
"Ting.."
Bang Seba menoleh saat Bang Ilham berlari menghampiri dan menyapanya dari jauh.
Rasa jengah Bang Seba semakin menjadi saja. Ia mendengus melihat littingnya berlari membawa makanan di jam makan siang. "Apa?"
"Titip makan siang untuk Raya ya...!!" Kata Bang Ilham tanpa sungkan.
"Kau ini tebal muka ya, aku sudah bilang jangan ada urusan lagi dengan Raya...!!!!!!"
Bang Ilham tetap menyodorkan bungkusan tersebut. "Aku tau, makanya aku titip sama kamu. Lagian tadi dia minta aku belikan fried chicken with chili smackdown."
"Opo iku?"
"Ayam geprek." Jawab Bang Ilham singkat.
"Begitu saja kenapa repot sekali sebutnya. Lagipula kenapa dia menghubungi kamu, bukannya aku." Tanya Bang Seba kesal.
"Mana kutahu, Abangnya galak kalii."
Bang Seba terdiam sejenak kemudian menerima nasi ayam geprek tersebut dan segera pulang. Dalam hatinya ikut berantakan memikirkan berbagai macam hal termasuk akan mengajak Raya mengontrak rumah di luar Batalyon. Tapi pikirannya kembali pecah saat mengingat bujangan di larang tinggal di luar Batalyon.
"Mikir apa sih? Memangnya Raya belum sembuh juga?" Tegur Bang Ilham.
__ADS_1
"Sembuh? Apa Raya sakit?" Bang Seba balik bertanya.
"Bagaimana lah lu jadi Abang?? Adik sakit sampai tidak tau."
Bang Seba langsung berlari ke parkiran dan segera pulang ke rumah.
:
"Rayaa..!!" Bang Seba membuka pintu rumah dan segera masuk untuk mencari Raya namun Raya belum terlihat batang hidungnya.
Langkahnya semakin cepat menyisir seisi rumah hingga di depan kamar mandi, Bang Seba kaget setengah mati melihat Raya terkapar memakai handuk yang masih terlilit di tubuh.
"Astagfirullah.. dek.. Rayaaa..!!" Tanpa menunggu lama Bang Seba bersiap mengangkatnya sampai ada benda kecil jatuh dari genggaman tangan Raya. "Apa ini?" Bang Seba mengambilnya lebih dulu. "Garis dua?????"
~
"Bagaimana Min???? Cepaaaatt..!!!" Pintanya pada Bang Mukmin yang baru saja menempelkan stetoskop di dada Raya. "Jangan sentuh disana..!!" Bang Seba menepak tangan littingnya.
"Tuhankuuu.. Sabaar lah..!! Bagaimana aku memeriksanya kalau kau banyak bicara..!!" Kata Bang Mukmin yang berprofesi sebagai dokter.
"Cepaaaatt..!!"
"Dia siapa pot? Hamil nih."
Mata itu sejenak terpejam tapi kemudian menatap lekat wajah Bang mukmin. Ada rasa syukur juga cemas sekaligus melingkupi hati Bang Seba. "Istriku Min."
"Astagaa.. yang benar saja kau. Kapan kau menikah??? Kenapa tidak ada publikasi?? Kamu benar sudah menikah atau hamil duluan." Tegur Bang Mukmin memastikan keadaan yang sebenarnya
"Sekarang aku masih belum bisa menjelaskan panjang lebar, yang jelas aku sudah menikah dengan Raya." Kata Bang Seba.
Bang Mukmin menggeleng heran. Ia tak percaya "Kau mempersulit hidupmu sendiri Seb."
Apapun yang terjadi saat itu, Bang Mukmin tidak bisa berkata apapun sebab semua itu adalah urusan pribadi Bang Seba dalam menjalani biduk rumah tangga.
"Ya sudah, selamat atas pernikahan mu dengan Raya. Mudah-mudahan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah. Aamiin.!!"
"Aamiin, terima kasih banyak sob. Lalu sekarang bagaimana keadaan Raya, istriku belum sadar juga." Kata Bang Seba.
__ADS_1
Bang Mukmin tersenyum getir, ia menepuk pundak Bang Seba. "Lakukan USG untuk mengetahui keadaan calon anakmu Seb, tapi kalau dari pemeriksaan awal.. calon bayimu ini sehat. Hanya saja ibunya seperti penuh dengan tekanan dan beban pikiran. Hibur dia Seb. Awal kehamilan mungkin terasa sangat berat sebab kulihat istrimu masih sangat muda."
"Aku mengerti Min. Sekali lagi terima kasih."
...
Raya memalingkan wajahnya saat Bang Seba membawakan secangkir teh hangat untuknya.
"Kenapa tiba-tiba baik? Kalau soal garis dua itu.. nggak usah sok baik. Raya nggak akan menuntut pria yang saat itu sedang mabuk."
Saat itu memang Bang Seba sempat berpura-pura mabuk. Kini dirinya berada dalam posisi yang serba salah. Jika dirinya mengatakan mabuk, Raya akan tertekan dan merasa sendiri dalam menghadapi semua ini tapi jika dirinya mengakui bahwa saat menyet****i Raya sedang dalam keadaan sadar.. maka Raya akan sangat marah karena itu berarti dirinya menyentuh sang istri dalam keadaan sadar sesadar sadarnya. Tapi sebagai seorang pria, dirinya tidak ingin menjadi seorang pengecut yang menghindari masalah.
"Dek.. malam itu, Abang tidak mabuk. Abang sadar melakukan silaturahmi badan sama kamu." Kata Bang Seba.
"Maksudnya??" Di luar dugaan, Raya sangat terkejut mendengarnya.
"Kita sudah melakukan hubungan suami istri dek." Tangan Bang Seba sampai dingin melihat reaksi Raya.
"Abang mengambil perawannya Raya?????" Tanya Raya dengan segala kepolosannya.
Bang Seba mengangguk pasrah.
"Nggak.. Raya nggak mauuuu..!!!! Susah payah Raya menjaganya. Raya percaya sama Abang, tapi kenapa Abang tega mengambilnya??????" Jerit histeris Raya. Ia menyambar bantal dan menghantamkan ke tubuh Bang Seba dengan kuat. "Kenapa Abang melakukannya????? Abang jahaaatt.. Abang jahaaaaatt..!!!!!"
"Rayaaa.... Abang minta maaf, Abang sungguh minta maaf. Abang pasti akan tanggung jawab. Abang......" Bibir Bang Seba masih kelu sebab buku nikah itu masih dalam tahap proses jadi. Menaikan pernikahan siri untuk menjadi pernikahan yang di akui secara hukum juga bukan hal yang mudah terutama benturan masalah usia Raya. Padahal seluruh yang terlibat sudah berusaha keras. Beberapa hari yang lalu Papa Sanca baru menyelesaikan semua dan baru mengirim berkas tersebut namun hingga hari ini berkas tersebut belum juga sampai ke tangannya.
"Kenapa Bang?? Kenapa Abang melakukannya?????" Raya sampai sesak tak sanggup lagi menahan perasaannya.
"Kita besarkan sama-sama..!!" Bang Seba mencoba memeluk Raya tapi Raya menolaknya mentah-mentah.
"Raya nggak mau hidup sama pria yang tidak mencintai Raya..!!!"
"Kata siapa Abang nggak cinta???" Kata Bang Seba menghentikan tangis Raya.
.
.
__ADS_1
.
.