
Bang Seba mengantar Raya pulang ke rumah dinas di asrama lalu segera ke kantornya sebab dirinya tidak ingin Anna bertemu lagi dengan Raya yang notabene sedang sangat sensitif dengan hal apapun. Ia meminta Bang Marsidi dan seorang mudinya, Prada Zulfikar sebagai saksi dan menemaninya di dalam ruangan agar tidak ada salah paham nantinya.
"Kenapa harus bawa orang lain, aku ingin bicara berdua denganmu saja."
"Saya sudah beristri, tidak enak kalau kita bicara berdua saja. Cepat katakan ada perlu apa. Saya tidak punya banyak waktu dan harus segera pulang ke rumah." Kata Bang Seba tanpa basa basi.
"Orang tuaku sudah berubah dan ibuku juga sudah bisa menerimamu. Kenapa hatimu cepat berpaling dan menikahi gadis lain. Jika kamu sungguh mencintaiku bukankah harus ada yang kamu perjuangkan." Anna begitu berapi-api mengungkapkan perasaan yang ia pendam.
Bang Seba tidak ingin menggubris perkataan Anna. Ia tetap fokus pada laptop di hadapannya.
"Kau tau, keluargaku berpengaruh pada kemiliteran. Aku bisa membuatmu di kirim pada daerah berkonflik atau membuatmu di mutasi ke daerah terpencil hingga kau susah kembali ke tanah kelahiranmu bahkan bertemu dengan keluargamu. Kecuali kamu mau menggeser nama Raya. Aku tau kamu sudah dapat teguran dari Wadan pusat." Ancam dokter Anna karena beliau mengetahui usia Raya dan status keterangan keluarga masih belum jelas.
"Sudah selesai bicaranya?"
"Baaang, sadarlah..!! Raya terlalu anak-anak buatmu. Dia tidak akan bisa membahagiakanmu." Kata Anna dengan suara menggelegar di seluruh ruangan.
"Jika Raya tidak bisa membahagiakan saya apakah lantas kamu yang bisa membahagiakan saya?? Usia dewasa tidak menjamin seseorang akan bahagia dan usia muda tidak selalu membuat susah. Tergantung pada tiap pribadi kita yang menjalani, semua juga tergantung kesadaran kita dalam bertanggung jawab." Kini lirikan mata Bang Seba balik mengarah pada Anna.
Mendengar itu, Anna berusaha menekan suaranya. "Mama sakit, sekali-kali temuilah.. kalaupun kamu tidak mau bersama denganku, paling tidak bantulah aku. Berpura-pura lah jadi pacarku sebentar saja agar Mama senang."
"Tidak, masih banyak cara membahagiakan orang tuamu daripada harus bersikap konyol seperti itu. Saya tidak akan mengorbankan bahagianya Raya demi senyummu." Tolak Bang Seba.
Bang Marsidi tersenyum kecil mendengar ketegasan Bang Seba. Terlihat Anna seakan sudah kehabisan kata berhadapan dengan Bang Seba. Ia duduk gelisah.
"Titip salam saja pada orang tuamu. Semoga cepat sehat dan pulih kembali. Maaf saya tidak bisa menjenguk." Imbuh Bang Seba lagi.
Tak lama berselang ponsel Bang Seba berbunyi, ada panggilan telepon dari My beautiful butterfly. "Assalamu'alaikum dek, ada apa?"
"Wa'alaikumsalam, Abang cepat pulang." Kata Raya sembari terisak.
__ADS_1
"Ada apa dek?" Tanya Bang Seba berdiri kemudian menyambar kunci motornya.
"Ini Baaang......"
Tanpa membuang banyak waktu, Bang Seba mengarahkan Prada Zulfikar untuk menghandle keadaan dan Bang Marsidi langsung mengikuti Bang Seba dan meninggalkan Dokter Anna seorang diri.
:
Bang Seba beringsut lemas namun hatinya sungguh lega melihat tidak ada hal fatal yang terjadi pada Raya.
"Mar, tolong atur lalu lintasnya ya..!! Saya mau bantu Raya dulu..!!" Pinta Bang Seba.
"Siap Dan." Jawab Bang Marsidi ikut tersenyum kecut dan syok namun juga tak habis pikir benarkah bumil bisa bertingkah spesial seperti Raya yang terkadang melakukan hal di luar nalar dan logika.
"Jangan Bang, kalau di bersihkan semua nanti mereka nggak jadi makan?" Cegah Raya semakin histeris.
"Ijin Dan, apa tidak lebih baik Raya di periksa kondisinya. Mungkin kepalanya baru terbentur sesuatu sampai kejiwaannya terganggu." Bisik Bang Marsidi yang ikut cemas.
"Siap..!!"
"Sekarang cepat kau buatkan rute terbaik untuk para semut supaya mereka pergi tanpa merasa terganggu..!!" Perintah Bang Seba.
"Ijin Dan, saya minta gula atau sejenisnya."
"Kamu cari saja di dapur, saya urus Raya. Nanti kalau kamu mau kembali ke barak, jangan lupa tutup pintu ruang tamu. Kalau lapar ada makanan di dapur, makan saja ya..!!" Pinta Bang Seba.
"Siap Dan."
~
__ADS_1
Di dalam kamar Raya baru saja selesai sesenggukan tapi tak lama tangisnya berhenti setelah melihat para semut itu berbaris teratur dan menikmati tetesan air gula.
"Dek.. mengasihi makhluk Tuhan memang baik, tapi kamu juga harus tau segala apapun di dunia ini yang terlalu berlebihan tidak akan berakhir baik. Setiap makhluk di dunia ini telah di takar rejekinya bahkan soal pangan dan jalan kehidupannya. Sama seperti semut itu.. mereka sudah mendapatkan rejekinya dan tolong jangan pernah meragukan janji Tuhan untuk umatnya." Sengaja Bang Seba memberikan pengertian dengan bahasa yang paling mudah untuk di mengerti Raya. Jelas Bang Seba tau bahwa Raya sebenarnya sangat dewasa untuk memahami hal ini ( kehidupan semut ) tapi siapa yang bisa melawan datangnya serangan 'jiwa lembut dan penuh kasih' dari seorang Raya.
Raya mengangguk, dalam hatinya pun juga berusaha bersikap normal kembali meskipun hal tersebut sangat sulit karena perasaan yang ia rasakan selalu hadir tanpa di minta dan begitu menyentuh hatinya.
"Sekarang tidurlah, capek khan seharian jalan-jalan. Orang utan dan semut itu baik-baik saja..!!" Bujuk Bang Seba lagi.
***
Pagi hari tiba. Raya melihat Bang Seba sudah tidak ada di tempat. Ia pun bangun beranjak dari tempat tidur. Tak sengaja dirinya samar mendengar Bang Seba sedang mengobrol dengan seseorang di seberang sana.
"Oohh begitu?? Biar saja Oma buyut bertingkah, saya tidak peduli."
"Ya sudah, Papa takut kamu stress memikirkan Oma buyut." Jawab Papa Sanca di seberang sana.
"Saya nggak akan stress sama hal sepele semacam ini, asalkan Raya tidak tau karena sekalipun Raya belum pernah bertemu Oma buyut. Lagipula Raya sedang hamil, rewelnya ya ampuuuuuun..!! Haduuh nggak tau lah Pa, banyak sekali godaan awal pernikahanku"
"Raya hamil???? Kenapa kamu nggak bilang. Cepat ambil cuti, buat acara di kampung halaman dulu. Raya belum mengadakan tradisi." Kata Papa Sanca.
"Nggak usah ribet Pa."
"Papa juga nggak mau ribet, tapi kamu juga tidak boleh lupa darimana kamu berasal." Ucap tegas Papa Sanca mengingatkan putranya.
.
.
.
__ADS_1
.