
"Tolong tangani kasus ini Mar, saya mau bawa Raya ke rumah sakit lain untuk check up menyeluruh..!!" Perintah Bang Seba sembari menggendong Raya yang masih setengah sadar.
"Baik Dan.."
Bang Seba pun berlalu.
"Dan.. saya titip Raya..!!" Ucap Bang Marsidi melupakan rasa takut.
"Kamu tenang saja, saya akan menjaganya." Kali ini tidak ada perdebatan dari Kapten Sabda Palinggih. Yang ada di dalam hatinya hanya menyelamatkan nyawa calon anak dan istrinya.
...
Bang Seba menyandarkan punggungnya di dinding luar ruang tindakan yang sedang menangani Raya. Sekuat apapun dirinya menahan tangis namun tetap saja dirinya begitu lemah menghadapi keadaan Raya.
Tak lama pintu terbuka. Seorang dokter keluar membawa senyuman tipis.
"Alhamdulillah Pak Sabda. Anak dan istri bapak sehat walafiat. Hanya masih terpengaruh obat bius yang membuatnya masih mengigau." Kata dokter.
"Baik Dok, terima kasih banyak."
"Sama-sama Pak Sabda. Nanti kalau pengaruh obat biusnya sudah hilang, bapak bisa membawanya pulang. Tenang saja, si kecil sangat lincah." Dokter menghibur Bang Seba kemudian berlalu pergi.
...
Raya sudah benar-benar bisa membuka matanya. Ia melihat Bang Seba memegang tangannya dan juga menatapnya dengan pandangan nanar. Tau pria itu sedang menatapnya, Raya pun memalingkan wajahnya. Ia sangat kesal kenapa wajah Bang Seba tiba-tiba berubah menjadi tampan.
"Pulang yuk..!!" Ajak Bang Seba.
"Pulang saja sama pacar Abang. Nggak usah pura-pura baik. Abang masih ada hubungan dengan dia. Lagipula anak itu sudah tidak menggangu kalian lagi." Jawab Raya. Ia mulai menyadari keadaan beberapa saat yang lalu, saat Anna menceritakan segala masa lalunya bersama Bang Seba juga alasan Bang Seba meninggalkan wanita bernama Anna itu.
"Dia siapa? Nggak usah pakai jurus pengawuran dan reka adegan..!!" Bang Seba pun tak kalah entengnya menjawab.
"Raya tau Bang, Raya tau semua."
__ADS_1
Bang Seba menyingkirkan anak rambut milik Raya lalu menyelipkan di belakang telinga. "Tau apa? Tau kalau Abang cemas sekali sama keadaanmu dan anak kita?"
Raya memalingkan wajahnya namun Bang Seba mengarahkan agar Raya kembali menatapnya. "Abang benar-benar mencemaskan kamu dek. Jangan buat Abang cemas lagi..!!"
"Bohong..!!"
"Abang harus bagaimana agar kamu percaya?" Bujuk Bang Seba.
"Raya mau pulang ke rumah Papaaaa..!!! Raya nggak mau menikah sama Abang. Raya masih mau kuliah, Raya nggak mau kenal sama Abang lagi..!!!!" Pinta Raya.
Bang Seba mengusap pipi Raya. "Apa dengan cara seperti itu kamu bisa memaafkan Abang? Anak kita masih ada di dalam perutmu. Dia sehat, juga sudah lincah."
Raya terhenyak mendengar ucap Bang Seba. Ia tidak menyangka bahwa ternyata si kecil masih ada di dalam rahimnya.
"Rayaaaaa............." Raya yang masih labil pun bingung menjawabnya.
"Abang bukannya tidak mengijinkan kamu pulang ke rumah Papa. Kamu boleh mengunjungi Papamu, sesuka hatimu.. tapi kamu harus tetap kembali pulang karena kamu sudah menikah."
Bagai sebuah mimpi. Entah mimpi manis ataukah mimpi buruk Raya bisa menikah dengan pria seperti Bang Seba.
"Tidak adil jika semua saling egois. Lakukan apa yang kamu inginkan, Abang tidak melarang.. asalkan kamu jaga anak kita..!!" Jawab Bang Seba kembali membelai rambut Raya kemudian mengusap pipinya.
***
Raya termenung melihat seorang tetangganya sedang berjalan-jalan pagi di temani seorang pria yang pastinya tak lain dan tak bukan adalah suaminya. Sang suami begitu perhatian dan penuh kasih. Raya pun membuang nafas panjang.
"Dek.. sarapan dulu..!!" Teriak Bang Seba dari dalam rumah.
Raya melirik jam dinding di ruang tamu dan hari masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Di hari yang masih sepagi ini Bang Seba sudah menyiapkan sarapan pagi dimana kegiatan tersebut sebenarnya lebih banyak di kerjakan ibu rumah tangga. Ia pun masuk ke dalam rumah.
~
"Sudah selesai cari udara segarnya?" Sapa Bang Seba setelah Raya duduk di meja makan. Bang Seba segera menghidangkan nasi goreng agar Raya bisa segera menyantapnya.
__ADS_1
"Apa yang kita jalani ini Bang? Raya tidak paham. Kita menikah tapi tidak saling mencintai. Harapan dan mimpi dari kita akhirnya akan sirna. Abang punya kekasih............."
Bang Seba paham, semua kejadian ini berlalu begitu cepat. Belum ada chemistry di antara mereka hingga menimbulkan jarak. Di saat seperti ini perannya sebagai seorang suami sangat penting, di titik seperti ini pula ia harus mendidik Raya agar tidak semakin menjauh darinya.
"Dek.. Abang tau kamu kaget. Abang juga minta maaf karena pernikahan ini mungkin membuatmu tidak merasa nyaman, tapi pernikahan bukanlah hal yang bisa kita lakukan tanpa berpikir dan menghentikan begitu saja jika kita mulai bosan dan tidak suka." Dengan lembut Bang Seba menyendok nasi goreng di piring Raya lalu meniupnya pelan kemudian menyuapi Raya. "Abang memberimu tawaran. Bagaimana kalau kita mulai hubungan ini dengan pacaran.. pacaran di dalam pernikahan. Kita belajar saling mengenal satu sama lain, jika memang nantinya hatimu tidak juga tergerak.. Abang pasrah menerima segala keputusanmu..!!"
Raya sejenak terdiam. Entah bagaimana rasa hatinya saat ini. Tapi saat mengingat sosok Anna, hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit tanpa sebab. "Bagaimana dengan Mbak Anna?" Tanya Raya.
"Anna adalah wanita dari masa lalu Abang, yang dulu pernah ada dalam hati namun sekarang dia sudah benar-benar Abang lupakan. Jangan pernah mengungkit namanya lagi karena sekarang sudah ada wanita lain yang mengisinya." Jawab Bang Seba sangat jelas.
"Si_apa Bang?"
Bang Seba mendekatkan wajahnya ke arah telinga Raya. "Abang ada rasa sama Mamanya si dedek."
Detik itu juga sekujur tubuh Raya terasa meremang. Wangi maskulin Bang Seba seakan menghipnotis dirinya.
"Cepat di telan nasi gorengnya, apa Abang bantu di bibirmu?" Bisik Bang Seba lagi.
Wajah Raya memerah, ia begitu gugup dan segera menghabiskan makanan di dalam mulutnya.
Bang Seba sedikit menarik diri padahal di dalam hati tak kalah gugupnya karena ini kali pertama di sepanjang hidupnya sudah berani merayu seorang wanita.
'Apa aku harus menjadi b******n setiap hari untuk mendapatkan hati Raya, apa aku harus merendahkan harga diriku? tapi aku suami Raya dan aku tidak ingin pria lain memberi perhatian lebih untuk Raya. Ya Tuhan, sebenarnya aku pura-pura cinta atau benar-benar cinta.'
Bang Seba beranjak dari duduknya untuk menepis rasa gundahnya tapi kemudian Raya meraih tangannya.
"Bang..!! Sungguhlah tidak ada nama dokter Anna lagi?"
"Sumpah demi anak yang masih ada di dalam kandunganmu, tidak ada nama wanita lain selain Raya seorang."
.
.
__ADS_1
.
.