Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S

Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S
22. Raden Mas Sabda Palinggih.


__ADS_3

Malam itu juga Bang Seba menemui Bang Yudho selaku Danyon langsung dari Danki BS. Sejak menikah memang Bang Seba belum sempat mengenalkan Raya pada keluarga besarnya yang tak lain adalah keluarga kesultanan.


Setelah mendapatkan surat resmi dari Danyon. Maka sesuai aturan kedinasan, Bang Seba baru berani melaksanakan ijin cuti. Ia pun segera kembali ke rumah agar besok pagi bisa segera berangkat ke Pulau Jawa dengan penerbangan paling pagi.


"Ijin Dan, ini tiket pesawat sipil nya..!!" Kata Prada Zulfikar.


"Terima kasih ya. Tadi dokter Anna sudah kamu pastikan pulang?" Tanya Bang Seba. Ia sungguh tidak ingin Anna kembali lagi dan nantinya akan menjadi pusat pertengkaran antara dirinya dan Raya.


"Siap.. sudah Dan. Beliau sangat marah dan mengatakan bahwa komandan adalah pria yang tidak mau berjuang dan hanya mempermainkan perasaan wanita." Kata Prada Zulfikar.


"Sudah biar saja. Sebagai laki-laki saya tidak hanya memikirkan paras wajah cantik saja, tapi saya juga memikirkan masa depan kehidupan anak-anak saya nantinya. Kecantikan akan pudar seiring waktu. Gagahnya seorang pria juga akan lapuk termakan usia. Kita hidup harus berusaha menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Bukan hanya kesenangan mata dan bawah pusar saja." Arahan Bang Seba untuk Prada Zulfikar.


Prada Zulfikar tersenyum. Memang komandannya itu terlihat bringas tapi soal istri memang kapten Seba tidak pernah main-main.


***


Raya cukup kaget karena saat matahari belum nampak, suaminya itu sudah mengajaknya melakukan perjalanan menuju Pulau Jawa. Dirinya yang hanya hidup di daerah Utara belum pernah sekalipun menginjakan kaki di pulau Jawa.


"Nanti Raya harus bilang apa Bang?" Tanya Raya gugup dan bingung.


"Nggak usah bilang apa-apa. Cukup berdiri di samping Abang, nanti semua Abang yang handle..!!" Jawab Bang Seba. Sebenarnya ada rasa geli melihat ekspresi wajah Raya yang memang berdarah Utara.


"Oke.. Raya diam."


...


Beberapa jam perjalanan telah tiba dan akhirnya sampailah Bang Seba dan Raya di bandara. Beberapa orang abdi dalem sudah menunggu. Mereka langsung menyambut Bang Seba dan Raya.


"Sugeng rawuh Gusti Ayu..!!" Sapa seorang abdi dalem.


"Nama saya Raya, bukan Sugeng." Jawab Raya dengan senyum kalemnya tapi saat itu tidak ada satu orang pun yang berani menertawai istri seorang 'pangeran'.


Bang Seba mendekatkan wajahnya ke telinga Raya. "Mereka bilang selamat datang Putri. Bukan mereka memanggil namamu Sugeng."


Ekor mata Raya melirik sebal. "Kenapa tidak bilang..!!"


"Dinda yang tidak tanya."


"Dindaaaa???? Abang panggil Raya Dinda?????" Tanya Raya bingung.


"Sapaan ini baku disini. Nanti Dinda bisa memanggil Abang.. Kangmas atau Mas juga nggak apa-apa." Kata Bang Seba mengarahkan.

__ADS_1


"Hehehe.. lucu ya. Iya Kangmas Sabda." Jawab Raya melembutkan suaranya kemudian bertingkah kalem layaknya putri keraton.


Bang Seba tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk memapah langkah Raya sebab perut sang istri sudah mulai nampak sedikit lebih jelas. Selain agar langkahnya tidak tersandung, Bang Seba menghindari amukan sang Papa yang bisa saja terus menceramahi dirinya jika kurang perhatian pada istri.


...


Beberapa saat setelah perjalanan, Bang Seba dan Raya sudah tiba di kesultanan. Para keluarga kesultanan beserta abdi dalem menyambut istri dari Raden Mas dengan meriah.


Baru kali ini Raya merasakan penyambutan semeriah ini dan semua membuatnya sangat terharu. Saat masih dalam rasa takjubnya, Mama Hemas menyambut Raya dan ini pun kali pertama Raya menatap dengan jelas wajah Mama mertuanya.


Rasa takjub Raya seketika hilang mengingat cerita di dalam kesultanan juga tempatnya di besarkan selama ini bahwa sosok ibu mertua adalah sosok paling mengerikan dalam kehidupan rumah tangga. Baru saja Mama Hemas menyentuh lengan Raya, istri Bang Seba itu seketika langsung pingsan hingga membuat kehebohan satu kesultanan.


~


"Kenapa begini Seb?? Apa Raya belum makan?? Apa kelelahan?? Istrimu lemas sekali." Tegur Papa Sanca yang akhirnya membuat Bang Seba semakin panik.


"Tolong panggilkan Pak Marto..!!" Perintah Bang Seba. Semakin lama pikiran Bang Seba semakin semrawut, ia pun meminta petunjuk medis pribadi milik kesultanan agar bisa segera mendapatkan penanganan.


Tak butuh waktu lama akhirnya dokter Marto datang ke paviliun dengan tergopoh-gopoh dan langsung memeriksa keadaan Raya.


Satu persatu dokter sepuh tersebut memeriksa tanpa aja sedikit pun yang terlewat.


"Nuwun sewu Raden Mas, Gusti Ayu lebih kepada keadaan tertekan. Denyut nadi beliau begitu lemah, nafas juga sangat lambat. Mungkin ada baiknya Raden bicara dengan Gusti Ayu dari hati ke hati." Saran dokter Marto.


"Nggak Pa, aku dan Raya baik-baik saja. Tidak ada masalah di antara kami." Jawab Bang Seba sudah berkata jujur.


Tepat saat itu Raya mulai tersadar dan melihat banyaknya kerumunan orang di kamar. Mama Hemas langsung menghambur menantunya. "Raya.. kenapa nak? Apa ada yang sakit atau Raya capek? Biar Mama pijat ya..!!"


Raya masih dalam mode bingung antara percaya dan tidak dengan apa yang terjadi. Mama mertuanya terlihat sangat baik dan tidak seperti cerita orang kebanyakan bahwa mertua itu selalu jahat.


"Ng_gak Ma, Raya nggak capek." Jawabnya masih takut.


"Ini Mama nak, katakan kalau ada apa-apa. Apa Bang Seba jahat?? Biar Mama yang nasihati. Jangan takut, ada Mama." Kata Mama Hemas lagi.


"Maaa.. aku nggak pernah jahat sama Dinda Hemas. Sumpah..!!" Bang Seba merasa serba salah karena posisinya sekarang menjadi terpojok.


tuk.. tuk.. tuk..


Suara langkah kaki beriringan dengan suara kayu memasuki paviliun Bang Seba.


"Sugeng Dalu Kanjeng Ayu sepuh." Sapa para abdi dalem.

__ADS_1


"Yo, mana Den Mas?" Tanya Kanjeng Ayu sepuh sembari di papah Ndoro ayu Srinani.


"Di dalam kamar paviliun.. Kanjeng Ayu sepuh. Gusti Ayu sedang kurang sehat sampai tdak sadarkan diri." Jawab seorang abdi dalem.


"Cari istri kok ringkih, bagaimana anaknya nanti. Coba setiap perjodohan keluarga ini aku yang menangani pasti tidak akan terjadi punya pasangan yang lemah. Setidaknya ada kebanggaan dari trah kita. Belum lagi istri Sabda ini adalah putri dari 'musuh' kesultanan kita. Canggahku ini terlalu ceroboh memilih jodoh. Tenang ya ndhuk, kamu akan tetap menjadi istri Sabda sesuai dengan yang seharusnya."


Bang Seba yang mendengar suara Oma canggahnya yaitu Oma Yesha segera mendahului keluar dari kamar. "Yang seharusnya adalah Oma Canggah pergi dari sini. Saya tidak mau terjadi sesuatu pada anak dan istri saya karena ulah Oma Canggah. Sekarang silakan pergi..!!!!!" Usir Bang Seba tanpa ampun.


"Sabda.. mana rasa hormatmu?????" Bentak Oma Yesha.


"Saya tidak akan menaruh rasa hormat pada wanita yang tidak bisa di hormati."


"Kangmaas, ada apa?" Tanya Raya ikut cemas mendengar suara keras Bang Seba. "Aawwhh..!!!"


"Ndhuukk.. Raya, yang tenang.. jangan banyak pikiran..!!" Bujuk Mama Hemas.


Oma canggah bersikeras menerobos masuk ke dalam kamar lalu dengan wajah marahnya tiba-tiba menunjuk Raya dengan tongkat kayunya.


"Jadi kau.. bocah ingusan yang lagi-lagi datang tanpa seijinku. Turunlah tahtamu, berikan pada Srinani. Dia calon istri Sabda yang sesungguhnya..!!!!!!" Bentak Oma Canggah.


"Omaaa..!!!!!!" Bang Seba tidak bisa menahan rasa marahnya.


Raya terkejut mendengarnya, ia mematung sembari meremas perutnya. Ia tau Bang Seba tidak akan menduakannya, tapi tetap saja ada rasa khas dari seorang wanita yang merasa 'tertekan' saat ada ancaman di luar sana.


"Maass.. perut Dinda sakiit..!!"


Mendengar Raya mengeluh sakit, Bang Seba tak bisa menahan diri, ia menepak kuat tongkat Oma Canggah lalu berkata lantang di hadapan semua orang. "Saya Raden Mas Sabda Palinggih, pemilik lempeng emas. Mengeluarkan titah untuk mengalihkan Kanjeng Ayu sepuh dari paviliun selir untuk bergabung di luar kesultanan karena sudah berniat mencelakai calon Raden alit. Lempeng emas akan saya tarik lagi jika Kanjeng Ayu sepuh telah tindak swarga..!!"


Para abdi dalem menghaturkan sembah bakti dan itu tandanya mereka akan menjalankan perintah dari Raden Mas Sabda Palinggih.


"Tidak.. tidaaaaakkk..!!!!!" Teriak Oma Canggah.


"Le, jangan gegabah..!!" Tegur Papa Sanca.


"Keputusanku sudah bulat, aku melindungi anak istriku..!!" Jawab Bang Seba tidak goyah sedikitpun.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2