Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S

Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S
11. Menanggung resiko.


__ADS_3

Raya terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya dan Bang Seba tengah tidur saling memeluk dan dalam keadaan sangat polos di bawah selimut tanpa sehelai benang pun. Ia cemas, takut, bingung namun tak bisa di pungkiri pelukan Bang Seba begitu hangat dan nyaman.


Beberapa saat kemudian Bang Seba terbangun dan melihat Raya terdiam di dalam pelukannya. "Kenapa dek? Sakit lagi?" Tanya Bang Seba.


"Baju Raya dimana Bang?" Lirih suara Raya tidak berani menatap wajah Bang Seba.


"Di bawah semua." Jawab Bang Seba kemudian mendekap erat Raya agar kembali tidur di dalam pelukannya. "Tidur lagi..!! Ini masih jam tiga pagi." Bang Seba mengusap perut Raya yang masih datar.


Raya ingin berdebat namun kali ini Bang Seba meluluhkan hatinya dengan kelembutan dan perhatiannya hingga ia pun mengurungkan niatnya.


***


Bang ini Ilham merasa Bang Seba sedang dalam mode stabil, ia pun berani mendekat dan menyapanya. "Tumben gk uring-uringan, sudah selesai PMS nya?" Sapa Bang Ilham.


Bang Seba hanya tersenyum sembari menghembuskan asap rokok ke segala arah.


"Aku mau ketemu Raya donk..!!" Pinta Bang Ilham.


Seketika mimik wajah Bang Seba berubah kesal, ia melirik ke arah Bang Ilham seakan hendak membuat perhitungan dengan sahabatnya itu.


"Tuh khan, kalau sudah masalah Raya PMS mu selalu saja kambuh. Adikmu itu butuh punya teman, butuh sosial dengan sekitar, kau jangan terlalu keras lah Sob." Bujuk Bang Ilham.


"Kau jangan mengajariku pot, kalau pun Raya butuh teman.. asalkan bukan kau orangnya..!!" Jawab Bang Seba. Hatinya sudah terlanjur kesal berhadapan dengan Bang Ilham. Ia segera menjauh agar hatinya tidak semakin panas.


...


Siang ini Bang Seba bertemu dengan Bang Yudho, calon Danyon yang baru dan akan mulai menjabat esok hari.


"Kenapa kusut sekali wajahmu?" Tegur Bang Yudho.


"Siap.. ijin.. tidak ada apa-apa Bang."


Bang Yudho merangkul bahu juniornya lalu menepak jidatnya. "Saya ini akan jadi Abangmu disini..!! Cepat bilang sama Abang atau saya turunkan pangkatmu jadi Letda lagi."


Bang Seba tersenyum kecut mendengarnya.


"Kau tidak percaya sama Abangmu ini?" Tanya Bang Yudho.

__ADS_1


"Ijin Bang, sebenarnya saya sudah menikah. Tapi surat nikah saya masih belum jelas dan yang lebih parah. Istri saya sudah hamil sekitar lima Minggu Bang." Jawab Bang Seba menjelaskan dengan ragu.


"Ooohh begitu. Nanti Abang tangani, naikan dulu status istrimu dan langsung perkenalan ya. Surat dan berkas yang belum ada secepatnya kamu susulkan. Tapi bagaimana bisa kamu seceroboh ini Seb. Bukankah kamu perwira yang sangat terkontrol dan sangat disiplin. Ini nggak hamil duluan to?" Kata Bang Yudho tetap menginterogasi Bang Seba dengan hati-hati.


"Nggak lah Bang, biasa lah.. masalah orang tua. Mohon maaf Bang, mungkin Abang sempat tau kalau saya berasal dari background biru. Tidak mudah menyatukan latar profesi saya dengan background biru saya. Jadi ya sudah, terlanjur begini." Tak ada lagi yang di tutupi Bang Seba dari masalah pernikahannya.


"Hmm.. oke saya paham. Tapi kalau sampai hamil begini berarti bukan karena paksaan donk..!!" Ledek Bang Yudho.


Bang Seba tersenyum mendengarnya. Harus di akuinya bahwa pertama kali bertemu dengan Raya, dirinya sudah jatuh hati pada gadis kecil yang kini sudah menjadi istrinya.


"Aahh kaku sekali kamu, kalau jatuh cinta itu katakan saja. Kowe khan lanang, kalau banyak yang salah paham malah keburu di samber orang lho Seb." Ancam Bang Yudho yang sangat paham kelakuan Bang Seba. Juniornya itu memang punya gengsi dan harga diri yang tinggi. Entah bagaimana nasib rumah tangganya kelak. "Ngomong-ngomong secantik apa rupanya Nyonya Sabda Palinggih ini?"


"Biasa saja Bang. Kumal, dekil, jerawatan, pesek, pendek dan gemuk." Jawab Bang Seba karena tidak ingin orang lain membayangkan wajah sang istri.


"Begitu ya. Nggak apa-apa Seb..!! di nikmati, di syukuri segala rejeki dari Tuhan..!!"


"Siap Abang. Terima kasih. Ijin.. saya mohon bantuannya Bang. Saya kepikiran istri masih tinggal di mess transit saja. Nggak bisa masuk asrama karena terkendala berkas pengajuan nikah yang tidak beres juga." Kata Bang Seba menjelaskan secara terperinci.


"Amaaan..!! Masuklah kamu ke asrama. Nanti minta kuncinya sama bagian pelayanan personel." Arahan dari Bang Yudho.


"Siap.. terima kasih Abang."


:


"Ijin Dan, dindingnya kosong begini saja tanpa hiasan?" Tanya seorang anggotanya.


"Sebenarnya saya punya banyak foto kucing. Tapi saya lebih suka foto anjing." Jawab Bang Seba belum bisa menerka pertanyaan anggotanya itu.


"Ijin.. maksud saya foto pernikahan komandan dan ibu." Kata anggotanya tersebut.


Baru akan menjawabnya, ada suara dering ponsel dari sakunya. Bang Seba melihat panggilan telepon dari Raya. Ia tersenyum dan menjawabnya.


"Assalamu'alaikum.. ada apa dek?"


"Wa'alaikumsalam. Abaang.. Raya terpeleset di kamar mandi..!!"


"Astagfirullah.. sabar Abang kesana."

__ADS_1


:


Bang Marsidi menghentikan mobil kantor di depan mess transit. Ia datang bersama Bang Ilham di sana bersama beberapa anggota yang lain.


Tak lama terlihat Bang Seba membopong Raya dan masuk ke dalam mobil.


"Perut Raya sakiit Bang." Rintih Raya masih bersandar di bahu Bang Seba.


"Kenapa bisa terpeleset. Ada darah nggak?? Dimana saja yang sakit." Tanya Bang Seba sangat mencemaskan keadaan Raya.


Kening Bang Marsidi berkerut, amarahnya seketika naik. "Ada apa Ray??"


Bang Ilham ikut melongok cemas. Ia masih belum bisa menerka apapun tapi pikirannya tertuju pada satu hal.


"Awas..!!" Tak berpikir panjang, Bang Marsidi mendorong Bang Seba agar menjauh dari Raya. "Kamu kenapa Raya??"


Bang Seba ikut terpancing emosi, ia sudah mengepalkan tangan namun saat itu Raya semakin merintih.


"Baaang.. ada darahnya." tangan itu meraih mencari Bang Seba.


"Kenapa ini Seb?" Tanya Bang Mulyana selaku Wadanyon.


"Terpeleset di kamar mandi Bang. Raya hamil." Jawab Bang Seba tak menutup lagi apapun yang terjadi.


"Astaga Seb. Ceroboh kamu..!! Bawa ke rumah sakit dulu. Kalau sudah tenang kamu segera menghadap saya..!!" Perintah Bang Mulyana.


"Siap..!!"


"Kapten b******n..!!" Bang Marsidi hendak melayangkan pukulan tapi beberapa rekan menghadangnya.


"Poot, lu apa-apaan sih. Raya adikmu sendiri khan?" Tegur Bang Ilham sangat kecewa mendengar kenyataan ini.


"Jangan banyak tanya. Kepalaku sakit..!!" Bentak Bang Seba panik.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2