
"Dinda.. bangun sayang..!!" Bang Seba panik sembari menggosok telapak tangan Raya agar istrinya itu segera sadar.
Tetua pengatur acara masih berusaha menyadarkan Raya namun istri Raden Mas Sabda Palinggih itu tak kunjung sadar sampai akhirnya mereka meminta segelas air mineral di dalam gelas lalu membacakan do'a.
Setelah do'a usai di panjatkan, beliau meminta Bang Seba menyendok sedikit demi sedikit dan meminumkannya pada Raya. Tak lama Raya pun sadar.
"Aaahh.. sakiiitt..!!" Rintih Raya menggelinjang memegangi perutnya.
Bang Seba berjingkat panik, jantungnya nyaris terlepas mendengar rintihan Raya. "Bagian mana yang sakit??"
"Sakit sekali, ada yang meremas perut Raya." Pekik Raya sampai keringat dingin.
Tak ada yang bisa keluar dari mulut Bang Seba karena terlalu syok. Tangannya tak lepas dari jemari Raya dan menggenggamnya erat.
Tetua pengatur acara sangat mengerti perasaan Radennya dan setelah beberapa saat kemudian.. "Alhamdulillah Raden Ayu baik-baik saja. jabang bayi sing ana ing guwa garba nggih purun ngenger marang biyung. ( Alhamdulillah jabang bayi yang ada dalam kandungan masih mau ikut dalam kandungan ibunya. )"
"Ya Allah..!!" Bang Seba mengusap wajahnya penuh rasa syukur.
"Ada apa Mas?? Anak kita kenapa????" Raya panik sampai menggoyang lengan Bang Seba, tangisnya pecah.
"Alhamdulillah anak kita baik-baik saja." Kata Bang Seba menenangkan Raya kemudian mengecupnya.
...
Hari semakin siang, satu persatu acara mulai di laksanakan. Bang Seba menjalani segala prosesi dengan tertib namun hatinya masih tetap was-was.
bruugghh..
Bang Rawa menahan tubuh Raya yang nyaris jatuh saat berdiri di pendopo kecil tempat prosesi.
"Rayaa..!!" Pekiknya sampai ikut kaget. "Baaang.. Raya pingsan lagi..!!!!!" Teriaknya memanggil Bang Seba yang masih sibuk dengan para tamu.
__ADS_1
"Gusti Ayu....." Pekik para si mbok semakin membuat
Bang Seba menoleh dan berlari memastikan keadaan. Untuk kesekian kalinya Bang Seba harus terkejut mendapati keadaan Raya yang seperti itu.
"Raden Mas, Gusti Ayu terkena tegur leluhur." Kata tertua pengatur acara."
"Pak, kita adalah makhluk beragama. Saya tidak akan ceroboh lagi melanggar ketentuan tapi biarlah saya memohon dan meminta pada Tuhan agar segala keburukan ini segera hilang."
Tak menunggu waktu lama Bang Seba mengambil air wudhu dan saat itu Bang Rawa mengikuti dan ikut mengambil air wudhu.
"Kenapa kau ikutan repot?" Tegur Bang Seba usai berwudhu.
"Karena kau nyaris mencelakai keponakanku. Aku terpaksa, bukankah permohonan dua orang masih lebih baik daripada satu orang." Kata Bang Rawa.
"Ini karena kamu hampir mencelakai cucu Papa, Papa juga jadi turun tangan." Imbuh Papa Sanca yang juga kemudian mengambil air wudhu.
~
Kini Bang Seba yang bersandar lemas. Geram dan geregetan tetap di rasakannya.
"Usai acara ini saya pamit kembali ke Utara. Saya tidak akan kembali ke kesultanan ini sampai Raya melahirkan..!!" Ucap tegas Bang Seba.
"Le, jangan bicara begitu." Cegah Mama Hemas.
"Manusia adalah makhluk Tuhan yang di bekali dengan berbagai keistimewaan, tapi kali ini saya malu karena harus tunduk dengan sesuatu yang tidak pasti." Kata Bang Seba.
"Kamu terlahir memiliki darah kesultanan, segala kebiasaan tidak bisa seenak jidatmu kamu langgar." Papa Sanca berusaha menasehati putranya.
"Saya tau dan saya tidak akan pernah lupa, tapi Papa harus juga harus menyadari.. kuasa Allah lebih tinggi dari segalanya. Di jaman modern ini kita juga harus berpikir rasional. Sugesti yang di tanamkan pada Raya terlalu berat. Saya tidak mau istri saya terganggu dengan masalah seperti ini lagi."
Papa mengangguk dan membuka jalan bagi putranya untuk membawa Raya pergi. Bagaimana pun juga putranya sudah dewasa dan sudah bisa membuat keputusan yang terbaik bagi rumah tangganya.
__ADS_1
...
Prosesi hanya di wakili beberapa orang anggota keluarga. Bang Rawa yang sejak tadi hanya diam mulai ikut angkat bicara sebelum Abangnya mengangkat koper keluar dari paviliun kesultanan.
"Niatmu khan jalan-jalan dan menyenangkan hati istrimu, kenapa kau tidak menginap saja di luar dan liburan dulu. Raya belum sempat melihat tanah kelahiranmu. Beri dia hiburan agar hatinya senang dan senang. Bukankah dengan begitu bayimu juga sehat di perut Mamanya." Saran Bang Rawa.
Bang Seba terdiam sejenak mendengar saran adik keduanya. Memang sejak tadi dirinya sangat cemas dan ingin segera mengajak Raya kembali ke Utara. Ia tidak ingin Raya mendapat gangguan dalam bentuk apapun.
"Iya Bang, Bian juga ikut liburan donk..!!!!!" Rengek Bian sembari bergelayut manja di lengan Bang Rawa.
"Kangmaass, ajak saja. Dinda juga pengen tau suasana disini..!!" Raya ikut merajuk di lengan Bang Seba.
"Nggak, lingkungan ini terlalu beresiko. Mas stress lihat kamu bolak balik pingsan. Pening kepala Abang mikirnya." Tolak Bang Seba.
"Maaass..!!" Raya berkedip manja menatap wajah Bang Seba.
Baru kali ini Raya menyapanya dengan sapaan manja nan berbeda, hatinya berdesir dan berdebar. Lelaki mana tidak tergoda dengan sikap wanita yang seperti ini apalagi ucap manja itu berasal dari istri tercinta. Di tambah tangan Raya terus membujuk rayu dan mengusap pahanya.
"Anak Kangmas yang minta. Dinda ngidam pengen jalan-jalan nih..!!" Tangan Raya semakin menggoda. "Nanti malam Dinda pijatin..!!" Raya menyandarkan kepalanya di dada bidang Bang Seba.
Bang Rawa tersenyum geli dalam hati melihat pemandangan yang membuatnya tiba-tiba iri dengki sedangkan Bian tersenyum licik, sepertinya ada ilmu baru yang harus ia kuasai.
"Mau nginap dimana? Jalan-jalan kemana?" Tanya Bang Seba lembut, satu kecupan basah mendarat di bibir Raya tak peduli akan kehadiran kedua adiknya, nampaknya kali ini semua orang bisa melihat kelemahan Raden Mas Sabda Palinggih.
"Aseemm.. ora cocooookk. Sangare ilang ketemu pawang boyo, langsung manut ora obaahh..!! ( Aseeemm.. nggak cocok. Garangnya hilang kalau bertemu pawang buaya, langsung tunduk nggak ada perlawanan..!! )." Ledek Bang Rawa.
.
.
.
__ADS_1
.