
Angin sepoi menyejukkan hati, mendinginkan diri. Bang Seba tersenyum sendiri mengingat manisnya pagi ini hingga tak terasa dirinya sudah menghabiskan beberapa batang rokok.
"Sudah ngalahin kereta api aja bro." Sapa Bang Ilham. Ada apa nih senyum sendiri?"
"Senang aja Raya dan calon baby ku sehat."
Bang Ilham ikut duduk di samping Bang Seba. "Apa sekarang aku di paksa harus senang karena kau senang? Kau ini memang pria paling kurang ajar yang pernah ku kenal."
Bang Seba tersenyum saja. "Lalu kamu mau apa? Raya istriku."
"Pandai sekali kau membuatku mati kutu dan susah sendiri." Jawab Bang Ilham.
Senyum Bang Seba tidak lantas hilang karena dirinya tau sahabatnya itu tidak seburuk apa yang di tunjukan.
\=\=\=
Enam minggu berlalu. Raya menyandarkan punggungnya di kursi milik Kapten Seba karena suaminya itu belum juga selesai dengan kegiatan kantor. Kini jabatan dirinya sudah menjadi ibu Danki BS karena mengikuti Bang Seba.
Tak lama dirinya menggeser pot bunga yang menghalangi foto di belakangnya. Hatinya berdesir kaget melihat foto dirinya terpampang di atas meja Bang Seba dan tak tau sejak kapan foto pose seperti itu pernah di jumpainya.
cckkllkk..
Ada seseorang yang membuka pintu ruangan dan pastilah itu adalah Bang Seba.
"Kenapa nggak hubungi Abang kalau sudah selesai kegiatan?" Tanya Bang Seba.
"Untuk apa? Jarak dari kebun ke ruangan ini paling hanya lima ratus meter saja." Jawab Raya.
"Ya tapi jalannya menanjak, berbatu juga berlumpur, nanti kamu terpeleset dek."
Ucap Bang Seba sudah semakin protektif. Saat ini mungkin Bang Seba bisa mendapatkan julukan pria terpanik abad ini. Tak ada satu hal pun luput dari pantauannya.
Raya tidak ingin terlalu besar kepala atau tinggi hati karena perhatian dari Bang Seba. Raya tetap takut perhatian tersebut bukan untuk dirinya seorang melainkan untuk dokter Anna juga. Entah kenapa nama Anna tidak bisa hilang begitu saja dari pikirannya.
__ADS_1
"Dek..!! Kamu kenapa diam saja? Ada yang sakit?? Atau nggak enak badan?" Selidik Bang Seba.
"Nggak Bang, Raya hanya masih merasa mual dan pusing." Jawab Raya.
Saat itu juga Bang Seba merogoh sakunya lalu mengambil ponsel. "Gito, tolong kirim ambulans tepat di depan ruangan saya, istri saya nggak enak badan..!!" Perintah Bang Seba melalui sambungan telepon.
"Siap Dan, saya merapat sekarang juga."
Raya hanya bisa membuang nafas panjang. Tak tau harus senang atau sedih dengan kejujurannya.
"Raya nggak mau ke rumah sakit Bang, kalau ke rumah sakit rasanya Raya semakin sakit. Raya mau di kamar saja..!!" Pinta Raya.
"Oohh begitu ya?" Bang Seba segera mengambil ponselnya lalu menghubungi anggotanya tadi. "Nggak jadi ya, istri saya nggak mau ke rumah sakit." Kata Bang Seba.
Mau tidak mau anak buah Bang Seba berputar arah karena komandannya itu sudah 'menolaknya'. "Siap Dan."
:
tok.. tok.. tok..
Dari dalam, Raya baru saja akan membuka tapi Bang Seba sudah membuka pintu tersebut dengan kekuatan seribu bayangan.
braaaakkk..
"Abaaaang..!!!!!!!!" Pekik Raya sembari berbalik badan karena dirinya saat ini tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Bang Seba sigap menyambar handuk lalu melilitkan handuk tersebut. "Kenapa tidak pakai pakaian, kemana pakaian mu?" Tanya Bang Seba.
"Kotor, Raya banyak muntah." Jawab Raya sembari menunduk.
"Nggak apa-apa. Nanti Abang bersihkan. Kenapa nggak bilang sama Abang kalau lemas, sampai mual begini kamu dek."
"Abang nggak jijik?" Tanya Raya, wajahnya sungguh melas.
__ADS_1
Bang Seba malah tersenyum geli. "Mana ada suami yang jijik sama istrinya. Kita join mata air aja nggak jijik masa yang begini malah jijik."
Tanpa banyak basa-basi Bang Seba mengangkat Raya untuk masuk ke dalam kamar. Raya pun pasrah dan bersandar di dada Bang Seba.
Senyum Bang Seba kembali merekah merasakan Raya yang semakin hari semakin tenang. Suara ributnya pun semakin berkurang.
"Dek, rasanya sudah lama sekali kita nggak sayang-sayangan. Raya mau nggak di sayang Abang?" Tanya Bang Seba hati-hati. Memang selama ini Bang Seba tidak terlalu berani memaksa Raya. Namun kali ini dirinya benar-benar tidak kuat. Batinnya memberontak. Desir panas sudah membuat mendidih ubun-ubunnya. Apalagi tadi dirinya sempat melihat Raya begitu seksi menggoda.
Raya melirik Bang Seba dengan tatapan kesal. "Memangnya selama ini Abang nggak sayang sama Raya ya?"
'Aduuh mati aku, kenapa Raya nggak paham ucapanku?'
Perlahan Bang Seba merebahkan Raya di atas tempat tidur. "Sayaang.. sudah pasti sayang. Kapan Abang pernah nggak sayang. Memangnya Abang pernah buat apa sampai Raya merasa nggak di sayang sama Abang?"
"Abang sering pulang malam. Raya kesepian, rumah hanya penuh kiriman makanan. Katanya Raya istri Abang. Raya nggak butuh banyak makanan." Protes Raya.
Bang Seba beralih posisi di atas tubuh Raya. "Apa ini artinya Nyonya Sabda sedang ingin di temani lebih lama? Tunggu beberapa bulan lagi pasti kamu tidak akan kesepian lagi."
"Iyaa.. itu nanti........"
Saat ini Bang Seba semakin tidak bisa menahan diri, ia mengatur posisi Raya agar lebih nyaman.
"Abang mau apa?" Raya menatap wajah tampan Bang Seba.
"Ingin memanjakan Nyonya Sabda. Biar nggak bosan sama 'makanan' itu-itu saja. Besok Abang ambil cuti ya. Kita jalan-jalan. Mau??" Ajak Bang Seba.
"Iya Bang, Raya mau."
"Sekarang Abang ajak wisata alam dulu. Naik-naik ke puncak sembari berenang di lembah. Abang jamin kamu pasti suka."
.
.
__ADS_1
.
.