
Respon semakin menipis. Mohon maaf kalau Nara tinggal pelan-pelan 😊🙏.
🌹🌹🌹
"Penginapan dekat danau Mas." Pinta Raya.
"Ya sudah, biar Rawa booking kamar..!!"
"Bian mau kamar sendiri..!!!" Teriak Bian dengan semangat juangnya.
"Nggak..!!! Kamu sama Abang..!!" Tolak Bang Rawa.
Wajah Bian seketika tertekuk sembilan baris karena dirinya sama sekali tidak suka berdekatan dengan kedua Abangnya yang galak itu. Tapi sifat usilnya pun tidak begitu saja bilang. Kalau begitu Bian tidur sama Mbak Raya aja."
Mendengar celetuk sang adik bungsu, Bang Seba pun kembali kesal. Bagaimana bisa saat liburan seperti ini Bian malah meminta Raya tur bersamanya.
"Nggak bisa, Raya masih mabuk. Kamu nggak bisa ngurusnya." Tolak Bang Seba secara halus.
"Iihh... Bian mau lanjut kuliah perawat, sekolah saja sudah sekolah perawat. Nggak mungkin lah Bian nggak bisa urus kakak ipar." Kata Bian.
"Nggak apa-apa Mas, Dinda mau kok tidur sama Bian." Tak di sangka Raya setuju dengan ajakan Bian dan seakan tak peduli dengan
"Dinda tidur sama Mas..!! Bukannya Dinda sudah janji pijatin Mas, atau liburannya batal..!!!" Akhirnya Bang Seba setengah mengancam.
Raya menoleh dan menyentuh tangan adik iparnya. "Maaf ya Bian.. sepertinya malam ini aku tidur saja dengan Mas Seba daripada kita tidak jadi jalan-jalan."
Bian melebarkan senyumnya. "Aman Mbak, aku tidur sama Bang Rawa saja."
Bang Rawa yang daritadi diam saja langsung tertawa mendengarnya. Abangnya sungguh tidak bisa menahan rasa kesal saat Bian meminta Raya untuk tidur bersama.
...
Sore hari mereka tiba di penginapan. Suasana bukit di dekat danau pilihan Raya memang tiada banding. Suasana dingin nan sejuk menambah kesan tenang namun tidak meninggalkan keromantisan yang ada.
"Hhh.. dingin sekali Mas." Raya menggosok kedua sisi lengannya.
Bang Seba menarik nafas lalu membuangnya pelan. Ia segera mengambil jaketnya yang sudah pasti berukuran sangat besar jika Raya yang memakainya.
"Mas khan sudah bilang, di pakai atau tidak.. jaket tetap penting untuk di bawa. Sekarang kamu kedinginan begini. Danau ini terletak jauh di bawah lembah, pasti sangat dingin." Kata Bang Seba kemudian memakaikan jaketnya pada Raya.
__ADS_1
"Abang nggak dingin?" Tanya Raya sembari merapatkan jaketnya.
"Nggak, biasa aja. Dulu Abang pendidikan naik turun gunung hanya pakai seragam loreng saja. Panas hujan tidak di rasa, lama-lama jadi terbiasa." Jawab Bang Seba.
"Ada apa saja di pendidikan Bang?" Tanya Raya mulai penasaran dengan kegiatan Bang Seba di masa lalu.
"Kami menjalani pendidikan ya sama saja seperti kuliah dan mendalami pendidikan lanjutan. Hanya saja fokus pendidikan seorang tentara ya pastinya lebih banyak mendalami teknik dan taktik perang dan segala apapun yang berhubungan dengan kemiliteran." Jawab Bang Seba.
"Apa susah Bang, apa ada penyiksaan??" Selidik Raya semakin penasaran.
Bang Seba tersenyum mendengarnya. "Tidak ada penyiksaan. Semua dilaksanakan sesuai porsi dan menyesuaikan tujuannya. Adanya tindakan yang sedikit keras bukan berniat untuk menyiksa tetapi lebih kepada latihan mental. Mana ada tentara lembek di medan tugas."
Raya tertawa mendengar gaya bicara Bang Seba hanya karena mendengar kata tentara lembek.
"Iya ya Bang, kenapa tentara selalu gagah. Terlihat penuh wibawa. Mungkin dari didikannya juga. Dinda suka lihatnya, jadi gemas bagaimana gituu...!!!!"
"Maksudmu siapa yang gagah????" Entah kenapa pertanyaan seperti ini malah meluncur dari bibir Bang Seba. Raut wajahnya berubah kasar dan menatap Raya dengan tajam.
Sebenarnya Raya cukup terkejut dengan pertanyaan Bang Seba sebab dirinya merasa tidak berkata apapun tapi lama kelamaan ia menyadari arah pembicaraan suaminya itu.
"Apa jangan-jangan Marsidi????" Tanya Bang Seba.
"Adaa deehh.." goda Raya.
"Rayaaa..!!!!!!"
"Dalem Kangmas..!!" Jawab Raya dengan nada suara begitu lembut mendayu. "Mau Raya pijatin??" Raya menyentuh dada Bang Seba tapi pria itu menepisnya kasar.
"Aaahh.. Kangmas kasar..!! Perut Dinda jadi sakiitt..!!" Ucapnya manja membuat wajah garang Bang Seba berada di antara gengsi namun juga luar biasa cemas. "Aduuhh..!!" Tau Bang Seba masih terpaku dengan pendiriannya, Raya pun bersandar lebih erat sampai memeluknya nakal.
"Cckk.. kamu itu keterlaluan sekali. Apa maksudnya tadi??? Apa senang dan puas kalau sudah bisa mencari perkara??????" Bentak Bang Seba.
"Jangan marah..!! Dedek nggak suka di marahi...!!!!" Rengek Raya.
'Deeeeehh.. mulaiiii, kalau istri sudah seperti ini seketika harga diriku terbang melayang. Kenapa batinku goyah dan lemah kalau Raya sudah bertingkah.'
"Maaass..!! Dingiiiinn" Raya semakin merajuk manja menggoyang lengan Bang Seba.
"Ayo Kangmas hangatkan..!!" Tanpa banyak bicara saat itu juga Bang Seba membopong Raya masuk ke dalam kamar penginapan.
__ADS_1
Tepat saat itu Bang Rawa menghadang langkah Bian yang akan bertandang ke kamar Raya.
"Ada apa Bang?" Bisik Bian.
"Nanti saja kita ke kamar Abang. Sekarang kita jalan-jalan dulu di sekitar danau sambil makan ikan bakar..!!" Ajak Bang Rawa.
"Nggak aahh.. Bian mau ke kamar Mbak Raya." Tolak Bian.
"Iihh kamu ini susah di bilangin. Bang Seba sedang adu ilmu kebatinan." Kata Bang Rawa.
Bian berkedip-kedip menerka ucapan Bang Rawa.
"Aahh sudahlah, kita cari ikan bakar saja..!! Abang lapar." Terpaksa Bang Rawa menyeret Bian agar mereka segera menjauh dari kamar Bang Seba dan Raya.
"Eehhgghhmm..!!!!"
Terdengar lirih suara dari kamar Bang Seba. Bian dan Bang Rawa saling pandang.
"Bang Seba.. kenapa ya Bang??"
"Ayo cepat pergi dari sini..!!!!" Bang Rawa semakin menyeret Bian untuk menjauh.
'B*****t, Bang Seba apa lupa kalau punya adik perawan.'
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.