Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S

Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S
23. Anggota keluarga berkumpul.


__ADS_3

Kanjeng sepuh gemetar, ia sungguh tidak ingin keluar dari kesultanan. "Saya tidak mau keluar dari kesultanan. Ini rumahku, ini kehidupanku..!!" Teriak Oma Canggah.


"Bawa keluar..!!!!!!!!!" Perintah Bang Seba.


"Maas, jangan begitu. Oma sudah tua, kita harus mengasihi beliau." Bujuk Raya.


"Diam kau bocah tengik. Aku tidak butuh belas kasihanmu..!!!!" Oma Canggah berjalan mendekati Raya dan berusaha menjambak rambutnya namun Bang Seba menghalangi langkah Oma sepuh.


"Jangan memaksa saya untuk berbuat kurang ajar..!!" Ancam Bang Seba sampai menggeretakan geraham karena terlalu jengkel dengan Oma canggahnya. "Nani.. bawa Oma keluar atau kau akan terkena imbasnya juga..!!"


"Baik Kangmas..!!" Srinani tidak berani berbuat lebih selain membawa Oma Canggah keluar dari paviliun.


"Dengar Nani, jangan pernah kamu berharap lebih pada saya. Permaisuri saya hanya ada satu, tidak ingin selir dan tidak ingin wanita lain. Kita ini manusia modern dan tidak akan kembali pada jaman lampau.. saya harap kamu bisa menemukan pendamping hidup yang bisa membahagiakan kamu. Kamu hanya saya anggap seorang adik, tidak lebih..!!" Ucap tegas Bang Seba.


"Saya mengerti Kangmas." Jawab Srinani kemudian pergi.


Baru saja mereka mengurai ketegangan, ada sosok berlari kecil menuju paviliun. "Maaaaass..!!" Teriak manja seorang gadis.


"Apalagi ini Ya Tuhan..!!" Bang Seba berdecih sebal saat kemudian ada seorang gadis memeluknya erat padahal tangannya masih menggenggam erat tangan Raya.


Raya ingin melepasnya tapi Bang Seba semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Bian.. lepas..!!" Tegur Papa Sanca karena tiba-tiba wajah Raya semakin murung.


"Siapa dia?" Tanya Bian bingung.


Bang Seba menoleh menatap Raya, ia belum sempat menceritakan siapa Sabian karena selama pernikahannya, komunikasi antara dirinya dan Raya belum bisa di katakan baik.


"Ini......." Raya berusaha menebak.


Bian bisa menerka dari raut wajah Raya yang terlihat lebih muda darinya, pastinya Raya belum mengenal dirinya. Sifat jahilnya pun tiba-tiba muncul begitu saja.


"Hai, aku calon permaisuri Kangmas Sabda. Kamu siapa?" Jawab Bian.


"Biaann.. ngawur kamu..!!!!!" Tegur Bang Seba.


"Kamu bikin ribut saja..!!!" Bentak Papa Sanca ikut panik.


Sontak Raya terdiam mematung seperti tadi, tanpa reaksi.


"Ndhuuukk..!!!" Mama Hemas mengguncang tubuh Raya, demam tiba-tiba merangkak naik. "Seb.. Raya demam." Kata Mama Hemas.


"Pak Marto, tolong..!!" Untuk kedua kalinya Bang Seba meminta tolong dokter Marto.


~


"Kamu memang keterlaluan. Apa maksudnya bercanda seperti itu??? Sok manis panggil Mas segala, istri Abang hamil muda Bi.. jangan macam-macam kamu..!!" Bentak Bang Seba yang baru kali ini memarahi Bian habis-habisan.

__ADS_1


"Maaf Bang, soalnya Raya terlihat lebih muda dariku."


"Mau lebih muda atau lebih tua, Raya tetap kakak iparmu. Letakan rasa sopanmu dengan benar..!!! Kecil-kecil lancang sekali kamu." Ucap Bang Seba padahal pada kenyataannya Bian lebih muda daripada Raya.


Raya menarik ujung pakaian Bang Seba agar suaminya itu berhenti berteriak. Bang Seba pun langsung duduk di samping Raya.


"Lain kali jangan begitu, niatmu memang bercanda.. tapi kamu tidak tau apa yang terjadi tadi sampai Bang Seba marah sama kamu." Kata Papa Sanca akhirnya ikut angkat bicara.


"Memangnya ada apa?" Tanya Bian.


"Abangmu mengusir Oma Canggah." Jawab Mama Hemas.


"Astagfirullah Bang, tega sekali Abang. Kenapa nggak ajak Bian????"


Papa Sanca dan Mama Hemas sampai ternganga mendengar jawaban putrinya.


"Diam kamu Bian..!!! Tidak boleh bicara begitu..!!!!!" Tegur Papa Sanca.


"Iihh.. dasar galak." Bian membuang muka lalu duduk di samping Raya. "Hai Mbak Raya, main tarik tambang yuk..!!" Ajak Bian menggoda bumil kesayangan kakak kandungnya.


"Allahu Akbar.. keluar kamu Biaaannn..!!!!!!" Perintah Bang Seba.


"Hahaha.. pemarah sekali. Abang dan Bang Rawa pada punya darah tinggi ya??" Ledek Bian.


"Oya Pa, Rawa nggak pulang?" Tanya Bang Seba mencari adik laki-lakinya.


"Oohh.. Oke.."


...


Malam hari Bang Rawa sudah tiba di kesultanan. Saat orang memandangnya, wajah itu terasa kaku dan dingin tak ubahnya seperti sang kakak. Namun jelas hanya tampilannya yang begitu namun tidak dengan hatinya.


"Dimana kakak dan kakak iparku?" Tanya Bang Rawa.


"Raden Sabda dan Raden Ayu berada di paviliun." Jawab seorang abdi dalem.


~


Bang Rawa melihat Bang Seba sedang membujuk sang istri untuk makan. Baru beberapa suap saja istri Abangnya sudah terlihat mual dan menolak makanan.


"Dinda mau makan apa? Kalau semua di muntahkan, Dinda bisa sakit. Apa mau tangannya di tusuk kanan kiri?"


"Sejak kapan Kapten Sabda selembut ini?" Sapa Bang Rawa.


Bang Seba menoleh mendengar suara adiknya. Tak ada jawaban apapun karena pikirannya hanya terfokus pada Raya yang tidak mau makan, jelas saja hal itu membuat pikirannya kocar-kacir.


"Lhooo.. bukan Anna ya??" Bang Rawa sungguh terkejut ternyata wanita yang sedang di suapi Bang Seba bukanlah Anna.

__ADS_1


Raya kembali menekuk wajahnya setelah beberapa jam lamanya Bang Seba berusaha membujuk.


"B******n, kau jangan sebut nama itu lagi. Aku mati-matian membujuk Raya dan kau datang malah sengaja merusaknya." Suara Omelan Bang Seba terdengar sampai paviliun sekitar.


"Mana kutahu kalau ternyata istrimu bukan Anna." Jawab Bang Rawa.


"Ya Tuhan, sebenarnya telingamu berfungsi atau tidak, jangan sebut namanya..!!!!"


"Iyaa... Tapi bagaimana bisa kau putus dengan Anna, kau khan pernah bermalam dengannya juga di luar kota." Ledek Bang Rawa.


Bang Seba menepuk dahinya mendengar sang adik yang tidak bisa diam. Seketika itu juga Bang Seba menyeret Bang Rawa jauh dari sekitar paviliunnya.


Mama yang tau ada kejadian 'wajar seperti biasanya.' segera datang untuk menenangkan menantunya.


~


"Kalian ini sudah tua bangka, bisa-bisanya berkelahi. Dan kamu Seba kenapa kamu menghajar adikmu sampai babak belur begini??????" Bentak Papa Sanca.


Papa Sanca masih menyimpan geram melihat wajah kedua putranya masih stay cool saja seakan tidak terjadi apapun.


"Aku hanya bercanda menggoda kakak ipar. Darah tinggi Seba saja yang kambuh."


"Jelas aku kesal, kau bilang aku bermalam sama Anna di luar kota. Raya sedang sensitif, kau jangan cari perkara..!!!" Sambar Bang Seba.


plaaakk.. plaaakk..


"Yang satu cari persoalan, yang satu lagi pemarah. Kalian tidak tau pusingnya Papa dan Mama menenangkan menantu yang sedang hamil. Papa mau cucu yang sehat, jadi kalian jangan macam-macam disini..!!!!" Ancam Papa Sanca.


"Tapi Raya istriku Pa."


"Papa nggak mau tau, Papa Opa nya..!!!" Ucap tegas Papa Sanca.


Bang Seba dan Bang Rawa saling melirik.


"Apa lu lihat-lihat, aku Om nya..!!" Bang Rawa tak kalah menyebalkan.


"Dimana-mana Papanya yang berkuasa." Jawab Bang Seba.


"Kalian bisa diam atau tidak??????" Terdengar suara menggelegar dari dalam kamar di paviliun.


"Sudahlah kita diam saja, Omanya sudah kibarkan bendera perang." Bisik Opa Sanca.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2