
Pagi hari tiba. Raya membuka jendela kamar di paviliun. Udara segar lagi hari menerpa wajahnya. Raya menoleh, Bang Seba masih setia tertelungkup bertelanjang dada di ranjang.
"Hai Raya, aduuh.. Mbak Raya ya?" Sapa Bang Rawa merasa tidak enak hati. Pagi hari tak sengaja dirinya bertemu Raya pagi ini.
"Eehh Abang. Raya saja Bang." Jawab Raya. Sebersit ingatannya kemarin mendengar ucap Bang Rawa tentang Anna. "Bang, boleh Raya tanya?"
"Tanya apa?"
"Sejauh apa hubungan Bang Seba dan dokter Anna dan benarkah mereka pernah menginap bersama?" Raya tau tidak seharusnya ia bertanya tapi entah kenapa ia tidak bisa menahan rasa aneh dan bergejolak dalam dada.
"Waaahh.. mau tau aja apa mau tau bangeeett???" Ledek Bang Rawa.
"Eeehh.. nggak jadi deh Bang..!!" Raya meralat ucapannya, ia berusaha tidak ingin tau masa lalu Bang Seba.
"Benar nih nggak mau tau??? Suamimu itu dulu dengan Anna.........."
Belum sempat Bang Rawa menjelaskan, Raya sudah terisak pelan membuat Bang Rawa sedikit panik karena jika Abangnya tau dirinya berniat mengerjai Raya maka akibat yang akan di terima pun tidak main-main. "Raya jangan nangis, Abang bisa jelaskan..!!"
Mendengar suara panik Bang Rawa, Bang Seba pun terbangun bersamaan dengan adzan subuh yang berkumandang. "Ada apa Dinda?" Tanyannya dengan suara serak khas pria baru bangun tidur.
Raya melirik, pandangannya terlihat tajam. Saat itu Bang Seba melihat Bang Rawa sedang berdiri di luar jendela.
"Ada apa ini? Kamu bilang apa Wa??"
"Nggak.. aku nggak bilang apa-apa." Jawab Bang Rawa seketika panik.
Bang Seba yang melihat tangis Raya sudah menunjukkan bahwa istrinya itu sedang tidak senang dengan suatu hal namun saat ini dirinya belum bisa menebak apapun.
"Tutup jendelanya Dinda.. duduk di sini sama Abang..!!" Bang Seba menepuk sisi ranjang agar Raya mengikuti pintanya namun Raya masih menatapnya tanpa reaksi. "Ayo sini..!! Nggak baik lho kalau nggak nurut sama suami..!!" Bujuk Bang Seba.
Akhirnya Raya menurut juga dan duduk di samping Bang Seba.
Perlahan, dengan lembut dan Sabar Bang Seba membelai rambut Raya. "Rawa bilang apa?"
__ADS_1
"Dulu.. Abang dan dokter Anna............"
"Kenapa Abang dan dokter Anna?" Tanya Bang Seba lumayan cemas karena Raya tidak melanjutkan ucapannya.
Raya melengos membawa wajah kesal. "Nggak tau, Bang Rawa tidak melanjutkan penjelasannya." Kata Raya.
"Abang dan Anna tidak pernah berbuat macam-macam. Pacaran hanya sewajarnya saja."
"Raya nggak percaya. Bang Rawa nggak bilang apapun berarti benar Abang dan dokter Anna pernah begitu." Raya cemberut menjauhkan pandangannya dari Bang Seba.
"Pernah begitu bagaimana? Kenapa sih perempuan selalu punya pikiran negatif, padahal semakin perempuan punya pikiran seperti itu, hatinya akan semakin sakit karena memikirkan hal yang tidak pasti." Tegur Bang Seba.
"Karena laki-laki suka jelalatan lihat perempuan lain, juga tidak pernah bisa lupa dengan masa lalunya." Kata Raya tidak mau tau.
Bang Seba membuang nafas panjang. Seulas senyum menghias wajahnya. Tidak ada rasa kesal atau jengkel menghadapi ulah bumil, malah dirinya mengucap syukur dalam hati, dengan kata lain Raya sudah memiliki rasa kepemilikan atas dirinya.
"Kata siapa?"
Ubun-ubun Raya semakin terasa panas, sebegitu tidak sukanya ia mendengar nama Anna tapi Bang Seba seakan tidak ingin mengerti perasaannya.
"Apa buktinya?"
Bang Seba mendekati Raya. Raya yang menyadari Bang Seba semakin mendekat segera menjauhkan diri namun tak di sangka Bang Seba mengarahkan wajahnya tepat di depan wajah Raya.
Raya yang tidak siap hanya bisa ternganga merasakan bibir Bang Seba. Lembut, basah, khas aroma rokok padahal pria itu baru saja bangun tidur, malah Raya yang sempat cemas apakah dirinya layak mendapatkan perlakuan manis sedangkan wajahnya mungkin masih acak-acakan dalam settingan awal bangun tidur.
Bang Seba menariknya kembali dan merengkuh tubuh Raya saat istrinya itu terkesan menjauhinya dan dirinya semakin merapatkan serangan agar Raya tak bisa berkutik lagi dalam dekapannya. Beberapa lama ia memberikan 'cintanya' untuk Raya hingga istrinya itu melenguh membuatnya ikut terpancing gairah prianya. Nafasnya memburu, batinnya tak sanggup lagi menahan rindunya pada Raya. Ia pun mengangkat tubuh Raya dan merebahkannya di atas ranjang lalu mulai melepas semua kain yang melekat di badan.
Ada peraturan kesultanan, setiap anggota keluarga kerajaan yang akan melaksanakan ritual untuk menghormati sang calon jabang bayi maka sang calon orang tua tidak boleh melakukan hubungan badan di hari ritual tersebut namun saat ini gairah Bang Seba sedang tinggi-tingginya. Ubun-ubunnya sudah panas mendidih hanya menginginkan Raya saja.
"Bang, seingat Raya.. semalam Mama bilang. Kita nggak boleh seperti ini." Kata Raya setengah menolak.
"Abang tau, itu hanya keputusan kesultanan peraturan dunia. Asalkan kita melakukannya tidak melanggar syariat agama tentu saja semua sah dan halal saja." Jawab Bang Seba.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Raya menurut ucapan Bang Seba. Barulah saat itu Bang Seba menuntaskan hasratnya.
...
"Rayaaaa..!!!!!!" Mama Hemas terpekik kaget melihat menantunya pingsan saat sedang di rias.
"Ada apa Ma??" Bang Seba kaget dan ikut menerobos masuk ke ruangan rias dan tak lama Papa Sanca ikut menyusul.
"Raya pingsan..!!" Mama Hemas berlari mencari tetua yang biasa memimpin ritual.
Seketika Papa Sanca melirik Bang Seba.
"Kenapa melihatku begitu Pa?"
Papa Sanca menyeret lengan Bang Seba. "Apa semalam kamu tanam pasak????"
Kening Bang Seba berkerut mendengar pertanyaan sang Papa.
"Yang benar Seb????"
"Iya Pa. Nggak tadi malam, tapi subuh tadi." Jawab Bang Seba memasang wajah datar saja.
"Astagaa..!!!!!" Papa Sanca menyambar bantal lalu menghantam ke wajah Bang Seba.
Buugghh...
"Ngawur kamu..!! Meskipun keyakinanmu modern, kamu tidak boleh meninggalkan segala kebiasaan yang sudah ada. Dimana bumi dipijak di situ langit di junjung. Sekarang Raya jadi begini..!!!!" Omel Papa Sanca.
Bang Seba ternganga mendengarnya. Dirinya yang sejak dulu tidak ingin banyak tau tentang asal usul lingkungannya di lahirkan, kini jadi ikut cemas dan tidak tenang memikirkan Raya.
.
.
__ADS_1
.
.