
Raya mual saat mencium aroma bawang dan nasi putih yang baru saja matang di pagi hari. Keringat dingin Raya membuatnya lemas setengah mati. Ia hanya bisa berpegangan dan bersandar di sisi dapur. Tak lama ada panggilan telepon dari Jack. Raya segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, iya Jack."
"Wa'alaikumsalam, tumben lu alim. Ada apa?" Jawab Jack di seberang sana.
"Aku malas berdebat, cepat ada apa?" Tanya Raya.
"Anakmu sakit Ray. Kamu nggak jenguk dia?"
Air mata Raya menggenang. Ini sudah dua minggu sejak kejadian itu dan ia sedang mengusahakan untuk menjalin dan menjalani hubungan pernikahan yang baik bersama Raya namun kali ini ia sungguh bingung karena pada kenyataannya Bang Seba belum mengetahui bahwa dirinya telah memiliki 'anak'.
"Nanti aku kesana ya..!!" Kata Raya.
//
"Ya begitulah Seb, jabatan saya di batalkan dan harus pindah ke Batalyon puncak bersama kamu juga harus memimpin Kompi BS dan Ilyas di kompi A."
Untuk sejenak Bang Seba termenung, ia cemas dengan keadaan Raya. Daerah tersebut sangat jarang mendapatkan fasilitas yang memadai apalagi sang istri saat ini tengah hamil muda.
"Mikir apa? Nggak usah bingung Seb. Namanya tugas negara, apa saja harus di jalani toh jarak dari puncak ke sini hanya satu setengah jam saja." Bujuk Bang Yudho.
"Bukan itu Bang, Raya sedang hamil muda. Kemungkinan besar adaptasinya juga masih sulit."
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi dari suara ponsel Bang Seba. Sinyal GPS Raya yang baru ia pasang dan tersambung pada ponselnya tiba-tiba saja bergerak keluar dari kesatrian Batalyon.
"Saya permisi undur diri Bang, ada sesuatu yang harus saya kerjakan..!!"
:
Tak butuh waktu lama Bang Seba membuntuti kemana Raya pergi. Raya pergi ke sebuah tempat, lebih tepatnya di bawah sebuah jembatan tua dan disana ada gubug yang sederhana namun cukup luas untuk di huni.
Bang Seba mengikuti langkah Raya yang ternyata pergi bersama Marsidi juga. Akhirnya istri kecilnya itu masuk dan duduk di dalam rumah tersebut. Disana ada kurang lebih sepuluh anak. Sembilan orang sedang makan dan seorang lagi adalah seorang bayi yang sedang berada di dalam gendongan Jack, rekan Raya.
__ADS_1
"Sini, biar Alifa ikut aku...!!" Pinta Raya.
Jack segera menyerahkan Alifa pada Raya dan Raya pun menerimanya.
"Sayaang, maafin Mama ya, Mama lama sekali nggak lihat Ifa. Apa Ifa rindu Mama??" Tanya Raya membuat jantung Bang Seba berdegup kencang, bagaimana bisa Raya menyembunyikan seorang bayi di tempat seperti ini.
Bang Seba membuka pintu rumah tersebut, seketika hal itu membuat anak-anak takut setengah mati.
"Bang.." Jack.sangat gugup melihat Bang Seba datang.
"Dan.. ijin..!!" Sapa Bang Marsidi.
"Sudah berapa kali saya peringatkan kamu, jangan pernah ada hal di belakang punggung saya..!!" Ucap tegas Bang Seba.
"Raya yang mencegahnya Bang." Sambar Raya.
"Mulai berani kamu sama Abang? Kenapa kamu tutupi????" Bentak Bang Seba.
Hati Bang Seba kembali kaget saat melihat bayi mungil yang menatapnya.
"Raya punya anak Bang. Sepuluh orang ini anak-anak Raya. Bisakah Abang menerimanya? Juga keadaan Alifa yang seperti itu?"
"Lailaha Illallah.. Kulo nyuwun pangapunten Gusti..!!" Bang Seba memeluk Alifa kecil hingga kakinya lemas dan beringsut duduk di lantai.
"Uang tiga puluh juta rupiah itu untuk menghidupi mereka dan memberikan tempat yang layak." Imbuh Raya.
"Ya Allah nak, malang sekali nasibmu. Siapa orang tua yang tega menelantarkan kamu." Bang Seba membelai gadis kecil dalam gendongannya. Gadis kecil yang terlahir tidak memiliki kaki kiri.
Raya ikut duduk di samping Bang Seba. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya itu. "Raya tau, Raya nakal, nggak nurut. Kalau mau marah, marahlah nanti di rumah. Sekarang Raya pusing sekali. Malas bertengkar."
Perasaan Bang Seba langsung melunak. Tak ada amarah lagi apalagi setelah itu Bang Marsidi pun ikut duduk dan menyuapi salah seorang anak terkecil disana.
"Abang ini suami kamu dek. Kenapa kamu tidak cerita. Kalau Abang tau ada hal seperti ini pasti Abang tidak akan tinggal diam." Kata Bang Seba. "Abang akan siapkan rumah dan pengasuh untuk mereka. Jangan banyak pikiran lagi. Untuk Alifaa.. kalau kamuau membawanya bersama kita, Abang tidak melarang."
__ADS_1
Raya menatap mata Bang Seba. Rasanya tidak percaya pria killer itu mau menerima kehadiran Alifa yang bisa di katakan tidak sempurna.
"Wanita akan cantik di hadapan pria yang tepat. Bukan paras yang menjanjikan kebahagiaan, tapi hati yang tulus dan ikhlas. Mulai sekarang.. Abang juga Papanya Alifa."
Raya tak kuasa menahan tangisnya, refleks ia memeluk Bang Seba. "Terima kasih banyak Bang. Raya berhutang budi sama Abang."
"Tidak ada hutang budi. Abang mencintaimu apa adanya, segala tentangmu, baik dan burukmu. Jadi Abang harap kamu bisa menerima anak Abang juga nantinya."
Lumayan terkejut Raya mendengarnya, ia melepas pelukannya, wajahnya semakin pias.
"Kamu harus terima anak yang ada di dalam perutmu itu. Rasa sayangnya harus sama karena kelak Allah akan menghitung dan menagih segala yang kita perbuat di dunia." Jawab Bang Seba.
"Iyaa.."
Seorang anak mendekati Bang Seba dengan rasa takut.
"Haaii.. hari ini makan apa?" Tanya Bang Seba membuka kecanggungan mereka lebih dulu.
"Mama bawakan sayur bayam sama ikan goreng." Jawab ringan khas anak-anak.
"Pintar.. nanti malam kita makan sama-sama ya. Papa bawakan fried chicken sama besok Papa belikan baju baru. Mau nggak??" Bang Seba berusaha mendekatkan diri pada anak-anak asuhan milik Raya.
Anak-anak saling pandang mendengar kata Papa. Tapi kemudian senyum mereka merekah. Anak-anak berlari memeluk Bang Seba. "Papaaaaa.." pekik mereka karena bahagia. Mungkin ini pertama kalinya mereka menyebut nama Papa dalam hidup.
Saat ini hati Bang Seba begitu tersentuh hingga setitik air matanya meleleh. "Saya juga menyayangi kalian." Ucapnya padahal baru kali pertama Bang Seba bertemu dengan anak-anak asuhan Raya dan kini anak-anak itu akan menjadi anaknya juga.
.
.
.
.
__ADS_1