
Malam ini juga para perwira menjenguk istri Kapten Sabda Palinggih tak terkecuali Bang Mulyana dan Bang Yudho. Bang Yudho selaku Danyon yang akan naik jabatan esok hari selalu welcome dengan Bang Seba. Di antara seluruh perwira hanya Bang Mulyana saja yang berbeda jalur dan diam tak menanggapi apapun.
"Alhamdulillah istrimu nggak apa-apa Seb. Besok selesai acara langsung saya tanda tangani berkas pengajuan nikahmu. Bulu nikahmu menyusul nggak apa-apa, yang penting Seba sachet di perut Mamanya sehat dan Mamanya nggak ada banyak pikir." Kata Bang Yudho.
Bang Mulyana datar saja sebab dirinya sangat sakit hati mendengar pengaduan sang istri yang tadi sempat mendapatkan sentilan dari Bang Seba padahal istrinya berniat baik untuk menyambut tetangga baru.
"Anak itu statusnya apa Bang? Anak kandung atau anak angkat?" Sindir Bang Mulyana.
Mata Bang Seba langsung menatap tajam ke arah seniornya, ia sungguh tidak bisa menerima segala hinaan apapun yang tertuju untuk Raya ataupun calon anaknya. Bang Mulyana seakan tidak merasa bersalah setelah istrinya menghina Raya, kini malah Bang Mulyana sendiri yang seakan sengaja mencari perkara dengannya.
"Sebenarnya apa untungnya Abang dan istri berkata tidak berfaedah seperti itu. Apa ada kepuasan tersendiri setelah merendahkan orang lain. Apa dulu Tuhan salah meniup roh di tubuhmu?? Seharusnya kau memiliki hati manusia malah berubah menjadi hati binatang."
Bang Mulyana tercengang mendengarnya, ia yang biasa di turuti dan di hormati anggotanya kali ini malah harus mendapatkan teguran dari juniornya apalagi teguran tersebut langsung di hadapan para rekan perwira yang lain.
"Apa kamu berniat mempermalukan saya di hadapan rekan semua????" Bentak Bang Mulyana.
"Lalu apa maksud Abang menyindir keluarga saya?? Tadi istri Abang yang lancang dan tidak berperasaan sudah menghina istri saya. Asal Abang tau ya, saya menikah Raya secara sah. Tidak ada dalam sejarah.. Raya menaklukkan hati saya dengan cara yang kotor." Sebenarnya Bang Seba sangat malu membuka urusan rumah tangga di hadapan para rekan perwira tapi situasinya sekarang sungguh tidak mengenakan. Bang Mulyana sudah menghina Raya sebagai wanita 'tidak benar' yang hanya bisa menggodanya hanya untuk menjerat seorang abdi negara.
"Itu kenyataan yang sebenarnya. Kamu dan Raya sudah melanggar aturan militer." Kata Bang Mulyana kemudian menatap Bang Yudho. "Saya minta hukuman tetap di tegakan karena sudah Seba sudah memberikan contoh yang tidak baik pada anggota. Menikah tidak sesuai jalur juga termasuk pelanggaran."
Bang Yudho menarik nafas panjang melihat kelakuan Mayor Mulyana. "Pertama.. itu akan menjadi urusan saya Mul. Kedua.. momentum kali ini adalah untuk menjenguk istri Kapten Sabda Palinggih yang baru saja tertimpa musibah dan membuat beliau nyaris keguguran. Tolong rasa simpati dan empatinya untuk para anggota. Ucapanmu itu tidak manusiawi Wadan..!!" Tegur Bang Yudho yang masih menghadang Bang Seba agar tidak maju untuk memberi pelajaran pada Bang Mulyana.
...
Raya beringsut di ranjang. Seberapapun garangnya sang ketua Genk ternyata Bang Seba masih melihat ekspresi ketakutan dari seorang Raya. Tubuh itu gemetar sembari memeluk perutnya yang masih datar.
__ADS_1
"Lapar dek?" Sapa Bang Seba saat melihat Raya murung.
"Nggak."
"Jangan banyak pikiran. Semua pasti baik-baik saja." Kata Bang Seba kemudian ikut merebahkan diri di samping Raya dan mendekapnya.
"Sebenarnya Raya benar-benar takut jika anak ini lahir tanpa status. Raya tidak pernah merasa Abang nikahi."
Ucap Raya begitu menyentil perasaan Bang Seba. Ada rasa sesal, sedih dan sakit sekaligus ia rasakan.
"Bisa nggak sih percaya saja sama Abang?"
"Nggak." Jawab Raya singkat padat dan jelas.
Bang Seba membuang nafas panjang tak ingin mengambil hati ucapan Raya. Sang istri sedang adaptasi dengan keadaannya saat ini sehingga dirinya memilih untuk lebih mengalah dan diam.
\=\=\=
Satu minggu berlalu. Tidak ada kedekatan berarti antara Bang Seba dan Raya. Hal itu membuat Bang Seba juga cukup cemas. Setiap pernikahan pasti membutuhkan kedekatan. Raya seakan terus menghindarinya dan dirinya sendiri bingung harus memulai pembicaraan dari bagian mana.
Beberapa hari yang lalu Raya tidak mau menghadiri pertemuan dan tatap muka langsung dengan istri Bang Yudho selaku Danyon yang baru. Bang Seba cukup malu akan hal ini. Namun kali ini dirinya juga harus bisa tegas sebagai pemimpin dalam rumah tangganya. Hari ini dirinya membawa salinan berkas pernikahan dengan Raya dan menunjukan pada istrinya itu.
"Lihat ini baik-baik. Abang tidak bohong. Kita sudah menikah sebelum kamu hamil." Kata Bang Seba menyerahkan semua berkas di hadapan Raya tapi Raya menepisnya.
Raya sungguh tidak percaya dengan sungguh tidak ingin melihat berkas yang ditunjukkan Bang Seba.
__ADS_1
"Abang harus bagaimana lagi? Kamu memang istri Abang."
"Raya masih punya kekasih Bang." Raya tidak menatap wajah Bang Seba namun suaranya yang bergetar menunjukan bahwa dirinya sedang dalam keadaan penuh tekanan.
"Siapa??? Bilang sekarang..!!!!!!"
"Kapten Ilyas."
"Apaaa???????? Yang benar kamu dek??????" Tanya Bang Seba mempertegas pertanyaannya.
***
Tangan Bang Seba mengepal kuat menunggu pesawat yang membawa Kapten Ilyas tiba. Sungguh sejak semalam suntuk dirinya tidak bisa tidur memendam rasa tak karuan di dalam dadanya sebab Raya masih menjalin hubungan dengan litting yang baru kembali dari dinas luar itu.
Tak berapa lama pesawat militer yang mengangkut Bang Ilyas tiba. Degub jantung Bang Seba bertalu kencang, emosinya naik membuat amarahnya tidak bisa di kendalikan. Begitu pintu pesawat terbuka, wajah Bang Ilyas membakar hatinya.
"B*****t, benarkah aku harus berurusan dengan Ilyas???" Gumamnya.
//
Raya menangis menatap cermin. 'Ya.. aku memang masih anak-anak. Seharusnya aku tau diri.'
.
.
__ADS_1
.
.