
Bang Seba membaringkan Raya di ranjang ruang tindakan IGD. Dokter Mukmin yang tau ada littingnya datang segera menghampiri.
"Ada apa Seb?" Tanya Bang Mukmin.
"Raya terpeleset." Jawab Bang Seba panik melihat keadaan Raya yang pucat.
"Aku panggil dokter Anna."
~
Bang Seba dan Anna saling menatap kemudian dokter Anna secepatnya menangani Raya.
"Saya periksa dulu..!!"
"Tolong... Dok..!!" Pinta Bang Seba.
Dokter Anna menangani Raya. Bang Seba sekilas menatapnya. Gadis yang dulu pernah masuk di dasar hatinya yang terdalam namun semua pupus sia-sia karena orang tua Anna tidak menginginkan pasangan yang belum memiliki pekerjaan yang tetap untuk menjadi pasangan putrinya. Anna adalah gadis yang sangat berkelas kala itu.
"Pendarahannya hanya sedikit sekali, hanya syok saja. Sekarang kita USG untuk melihat keadaan calon bayinya..!!" Kata Anna masih bersikap profesional sesuai dengan bidangnya.
Gadis itu menuang gel di atas perut Raya lalu melihat keadaan calon bayi mantan kekasihnya. Lalu menggerakkan bagian alat USG tersebut untuk memantau calon bayi di perut Raya.
"Calon bayinya masih bertahan dan sehat saja di perut mamanya. Sementara akan saya beri penguat dan vitamin." Anna menyudahi aktifitasnya dan berjalan ke mejanya.
Perawat sudah membantu Raya. Bang Seba pun mengikuti langkah Anna.
"Apakah calon bayiku benar baik-baik saja An? Bagaimana kondisi Mamanya" tanya Bang Seba.
"Secemas itu kah kamu dengan wanita lain? Kemana kamu yang tidak pernah mempertahankan hubungan kita di depan Mama? Aku baru saja datang ke kota ini, sengaja datang ke kota ini hanya untuk menemuimu. Ternyata kamu sudah menghamili gadis lain." Jawab Anna dengan ketus.
"Anggap saja kita tidak berjodoh An. Jika Tuhan tidak menghendaki, sekuat apapun kita berusaha.. kita tidak akan bisa bersama."
"Tapi dia masih belasan tahun Mas. Bisa apa dia selain mengacaukan hidupmu?? Sekarang kau terpaksa harus menikahinya karena dia sedang hamil." Kata Anna mulai tak berperasaan.
"Ada baiknya kamu tidak masuk dalam urusan rumah tangga saya An." Ucap Bang Seba.
__ADS_1
Anna tersenyum kecut. Ia menunjukan berkas di hadapannya. "Lihat, statusmu masih bujangan. Anak itu lahir pun tidak akan di akui oleh negara." Ana mengetuk tulisan status Bang Seba pada kertas yang ada dalam map berkas kesehatan. "Apakah anak itu tidak akan mengganggumu?"
Bang Seba semakin geram mendengarnya. Kenapa gadis yang dulu sangat ia cintai dan lembut hati bisa memiliki hati iblis seperti ini. Kata-katanya sungguh sangat menyakitkan perasaan Bang Seba.
"Apapun yang pernah terjadi di antara kita, masih banyak ucap syukur saya ucapkan karena tidak pernah sempat menikahi kamu. Dan asal kamu tau, gadis yang saat ini sedang terbaring lemah di sana adalah wanita terbaik yang pernah saya temui." Ucap Bang Seba di balik rasa kecewanya.
"Karena mengandung benih dari Kapten Seba? Aku pun bisa Bang. Ayo kita mulai hubungan ini dari awal lagi. Mama menanyakanmu Bang."
Bang Seba tersenyum sinis. Dulu saat dirinya belum menjadi apa-apa bahkan hanya seorang penjual burung dan ayam aduan, orang tua Anna begitu menentang keras sampai mengusirnya sebagai gelandangan. Kini saat dirinya sudah sukses dan tau bahwa dirinya keturunan ningrat, orang tua Anna mencarinya hanya untuk menikahi Anna dan sampai saat ini Bang Seba belum mengatakan keadaan ini pada Raya.
"Istri saya hanya ada satu, Raya seorang. Kamu carilah pria yang sesuai dengan kriteriamu dan orang tuamu, yang mampu dan bisa memberimu anak sesuai inginmu. Maaf saya tidak mampu untuk hal itu. Setelah menikahi Raya, selera saya bukan kamu lagi." Jawab Bang Seba jujur meskipun akan terasa sangat menyakitkan untuk Anna.
Anna sangat terluka mendengarnya. Ia hampir menitikan air mata tapi hal itu sama sekali tidak menggugah hati Bang Seba agar melunak.
"Miiin..!!!" Panggil Bang Seba.
Secepatnya Bang Mukmin datang dari ruang sebelah. Ia melihat Bang Seba sudah memasang wajah tak bersahabat, ia sangat paham jika littingnya itu mudah tersulut api amarah. Sebisa mungkin Bang Mukmin menenangkan Bang Seba.
"Ada apa pot??"
Bang Mukmin mengambil kertas resep di tangan Anna tapi Anna menariknya kembali. Merasa ada yang tidak beres, Bang Mukmin menatap Anna kemudian tetap mengambil resep tersebut dari tangan Anna.
Kening Bang Mukmin berkerut kemudian menghampiri Raya.
"Hai Raya, apa kabar. Masih terasa sakit nggak perutnya?" Sapa Bang Mukmin.
"Nggak dok."
"Panggil Bang Mukmin saja." Senyum Bang Mukmin menyamankan Raya. "Kalau bagian ini sakit tidak?"
Seketika Bang Seba yang baru datang segera menepak tangan Bang Mukmin. "Singkirkan tanganmu itu, cepat sekali reaksimu kalau pegang istri orang." Wajah Bang Seba tak bisa menutupi rasa tidak sukanya.
"Astagfirullah hal adzim Seb. Aku ini dokter, bukan dukun cabul. Kau yang cabul, ada saja yang melintas di pikiranmu." Gerutu Bang Mukmin.
Bang Seba tak menggubris perkataan sahabatnya lalu berdiri di samping Raya. "Kita pindah rumah sakit ya..!!" Ajak Bang Seba.
__ADS_1
Kening Raya mengernyit. "Bukannya rumah sakit tentara bagus Bang?"
Bang Mukmin mengerti perasaan littingnya, terbukti dari resep obat yang di berikan Anna bukanlah resep obat dan penguat melainkan obat penggugur kandungan.
"Kamu itu mau di rawat apa mau camping??????"
"Siapa suruh buat Raya hamil. Ini khan anak Abang. Masa Abang nggak mau berkorban???" Ucap Raya terdengar seperti ledekan untuk Bang Seba.
"Oohh begitu???"
Bang Seba menoleh ke arah Bang Mukmin. "Tolong siapkan transfer pasien ke rumah sakit PRAKARSA kamar VIP khusus untuk Raya..!!" Pinta Bang Seba.
"Nggih, saya siapkan sekarang juga..!!"
"Itu, rumah sakit kelas internasional khan Bang?" Tanya Raya.
"Kenapa?? Kamu pikir Abang tidak kuat membayarnya???" Jawab Bang Seba agar Anna juga mendengar suaranya.
Raya berkedip-kedip tapi ia pun merasa di sayangi pria yang ada di sampingnya itu. Timbul ide jahil Raya ingin mengerjai Bang Seba.
"Aaarrghh Abaaang, perut Raya sakit lagi." Rintihnya.
"Haaahh..!!" Seketika Bang Seba menarik kerah pakaian di tengkuk leher Bang Mukmin. "Min, tolong Miiin..!!!!!!"
Bang Mukmin melirik Bang Seba kemudian berganti melirik Raya. Sebagai seorang dokter sudah barang tentu ia tau betul jika Raya sedang berakting. Tau Raya sedang mengerjai Bang Seba, ia pun turut mengambil andil.
"Ya Allah Seb, istrimu dalam keadaan gawat darurat..!!!!" Pekik Bang Mukmin.
Bang Seba semakin menarik pakaian Bang Mukmin. "Cepat tolong anakku Miiiinn..!!!!!" Seketika wajah Bang menjadi pucat di buatnya.
.
.
.
__ADS_1
.