
Yang tidak punya ide cerita untuk menulis lebih baik off daripada nyulik nama, gelar tokoh dan inti cerita orang. Thanks.
🌹🌹🌹
Raya sesenggukan menyentuh wajahnya. "Apakah sungguh aku terlalu buruk sampai harus mendapatkan perlakuan seperti ini?? Sungguhlah Bang Seba hanya pura-pura padaku karena aku sudah terlanjur mengandung darah dagingnya?"
Flashback Raya on..
"Kamu pikir saja Raya, tidak ada pria setulus itu apalagi kamu masih anak-anak. Apa yang bisa di harapkan dari seorang anak-anak. Selera Bang Seba sangatlah tinggi. Kamu tidak ada seperdelapan selera Bang Seba."
"Lalu apa yang harus saya lakukan Mbak?" Tanya Raya mulai terpengaruh oleh perkataan Anna.
"Dia tidak benar-benar menyukai bayimu. Kalau kamu butuh bantuanku, datanglah ke klinik ku. Aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu." Anna menepuk bahu Raya seolah dirinya bersikap sebaik-baiknya seorang kakak.
Raya jelas saja ingin menangis tapi dirinya adalah sosok yang pantang untuk menangis di hadapan orang lain. Sekuatnya ia menahan perasaan.
"Iya Mbak, aku akan datang." Janji Raya.
Anna menyambutnya dengan senyuman penuh suka cita.
Flashback Raya off..
Raya menelungkupkan wajahnya pada kedua tangan. Ia mencoba untuk menahan tangisnya. "Kenapa harus bohong?? Ini pertama kalinya.. pertama kalinya Raya kecewa."
//
Bang Ilyas menatap Bang Seba dengan tatapan datar saja. Semalam Raya menghubunginya untuk mengabarkan tentang hal yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Bang Seba hingga saat ini dirinya pun belum memahami maksud dan tujuannya namun dengan alasan keluarga sudah saling mengetahui kedekatan Bang Seba dan Raya maka ia tidak banyak bertanya.
"Aku minta kau jauhi Raya..!!" Pinta Bang Seba tanpa basa basi sama sekali.
"Aku???? Kau bercanda?" Tanya Bang Ilyas cukup kaget namun reaksinya hanya sewajarnya orang yang sedang kaget saja.
"Aku tidak akan mengulang kata-kataku Il..!!" Jawab Bang Seba.
"Hahahaha.. apa kau ini sedang cemburu?" Tanpa sadar tanya Bang Ilyas semakin memicu rasa kesal dalam hati Bang Seba padahal pertanyaan itu hanya sekedar candaan semata.
__ADS_1
"Kalau iya memangnya kenapa???? Aku suaminya..!!!!"
Mulut Bang Ilyas ternganga, mulutnya seakan terkunci rapat tanpa suara. Kali ini sungguh dirinya ribuan kali lebih kaget karena tidak mungkin seorang Kapten Sabda Palinggih membohonginya namun terbersit ide nakal karena sejak dulu pria pemarah itu belum pernah kalah menghadapi semua 'musuhnya' dan kini ia mengerti atas permintaan bantuan dari Raya semalam.
"Suami apa lu? Nggak ada buktinya." Kata Bang Ilyas dengan sengaja.
"Kita bertemu Danyon sekarang.. berkas surat nikah ku ada disana..!!"
"Malas, gue mau jalan-jalan dulu. Mau cari Raya." Goda Bang Ilyas.
"Berani kau melangkah mencarinya.. kupatahkan tulang kakimu..!!!!!!" Ancam Bang Seba.
Bang Ilyas memilih untuk diam daripada amarah littingnya semakin menjadi.
...
Bang Seba yang kesal segera pulang ke rumah untuk menemui Raya, ia ingin mencoba kembali untuk mengambil hati sang istri.
"Assalamu'alaikum.. Dek.. Raya.. Abang pulang." Sapanya lebih lembut daripada biasanya.
"Dek..!!!!!" Panggilnya lagi.
'Raya pergi kemana ya? Apa Raya lebih memilih pamit sama Marsidi daripada pamit sama aku??'
Bang Seba mengambil ponselnya lalu menghubungi Marsidi.
:
"Demi Tuhan Dan, Ibu tidak bilang apapun. Saya malah baru tau dari komandan kalau Ibu tidak di tempat."
"Kamu jangan pernah bohong Mar..!!!!" Bang Seba sudah mengeratkan gerahamnya.
"Saya harus bagaimana lagi bilang sama komandan. Kalau komandan tidak percaya.. silakan komandan cek sendiri apa yang adapada saya..!!" Kata Bang Marsidi pun tak kenal rasa takut. "Ijin.. apa tidak sebaiknya komandan memeriksa seisi kamar juga, siapa tau ada titik temu yang bisa di gunakan sebagai petunjuk hilangnya ibu."
Tak membuang banyak waktu, Bang Seba segera memeriksa isi kamar dan ternyata benar saja, ia menemukan kartu nama milik Anna dan disana tertera letak kliniknya.
__ADS_1
"Maarr.. ikut saya Mar, kita pergi ke klinik ini..!!" Perintah Bang Seba.
...
Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, Bang Seba dan Bang Marsidi tiba di lokasi klinik yang di ketahui memang milik Anna.
Mobil yang di kendarai Bang Seba belum sempat terparkir namun Bang Seba sudah berlari keluar dan langsung masuk ke dalam klinik.
"Apa ada pasien atas nama Raya Alimasya?" Tanya Bang Seba.
"Sebentar ya Pak, kami cek dulu." Kata seorang penjaga pusat informasi. Kemudian penjaga pusat informasi tersebut menatap Bang Seba. "Oohh.. yang mau daftar abortus ya Pak. Saat ini Ibu Raya sedang mendapatkan penanganan di ruang tindakan bersama dokter Anna."
"Ya Allah, astagfirullah hal adzim..!! Kenapa bisa di lakukan pengguguran?? Dimana ruang tindakannya???????"
"Di Ruang Melati Pak. Janin ibu di sinyalir tidak berkembang dengan baik." Penjelasan penjaga pusat informasi.
"Beraninya melakukan tindakan tanpa ijin dari keluarga. Saya suami dari Raya Alimasya.. akan menuntut rumah sakit ini beserta dokternya...!!!!!!!" Ancam Bang Seba.
~
Lampu ruang tindakan masih menyala merah. Bang Seba segera mendobraknya. Betapa kagetnya Bang Seba saat melihat Raya tertidur dengan kaki terangkat dan posisi Anna sedang berada di bawah kedua pahanya. Hal itu pun turut mengagetkan Anna yang sedang bekerja.
"Anna..!!!!!!! Beraninya kamu..!!!!!" Bang Seba menarik lengan Anna lalu menamparnya, ia tidak peduli apapun lagi. Yang ia pikirkan hanya nyawa Raya dan calon bayinya.
Anna memegangi pipinya yang terasa sumeng. "Baang.. jangan salah paham. Calon bayimu memang tidak normal." Cegahnya saat Bang Seba 'membungkus' tubuh Raya.
"Kamu beserta otakmu yang tidak waras. Kepastian kau akan membusuk di penjara kalau sampai terjadi sesuatu pada anak dan istriku..!!!" Ancam Bang Seba dengan linangan air mata membasahi pipi.
Samar Raya di antara sela kesadarannya melihat Bang Seba menangisinya. "Abang mencintainya.. atau mencintai anak ini?" Tanya Raya lirih.
.
.
.
__ADS_1
.