Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S

Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S
20. NO CAPTION


__ADS_3

Maaf jika cerita Nara yang dulu mungkin lebih baik dari yang sekarang. Tolong di chat pribadi saja dan tidak menulis di wall karena kesukaan tentang suatu cerita adalah sesuatu yang sifatnya pribadi.


Menjaga mood itu tidak mudah apalagi bagi yang sudah susah payah menulis tapi banyak inti cerita dan nama tokoh yang di colong. Jadi tolong sama2 menjaga jari dan isi hati ya.


🌹🌹🌹


Bang Marsidi menerima keterangan surat cuti Kapten Sabda. Ia menghela nafas dan memahami komandannya tersebut, komandan yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaan dan anak buahnya.


"Permisi, apa Kapten Sabda ada di tempat?" Sapa seorang gadis yang ternyata adalah dokter Anna.


"Kapten Sabda sedang tidak di tempat. Beliau sedang mengambil cuti karena Ibu Sabda sedang berat-beratnya menjalani kehamilan. Kira-kira ada perlu apa datang kesini?" Sela Bang Marsidi menegur Anna.


"Saya hanya ingin bertemu dengan Bang Seba." Pinta dokter Anna.


"Jika tidak ada keperluan mendesak, kamu tidak bisa mempertemukan anda dengan Kapten Seba." Tolak Bang Marsidi.


"Tentu saja ada. Tidak mungkin seorang wanita mencari keberadaan prianya jika tidak ada sesuatu yang sangat penting untuk di bicarakan." Kata Dokter Anna.


//


"Iiihh kecil sekali. Seperti bayi manusia ya Bang." Raya menyentuh jemari kecil orang utan yang berada dalam gendongan pengasuhnya.


"Iya, mirip.. mereka sudah nyaris kehilangan tempat tinggal karena semakin marak penebangan dan pembakaran hutan secara liar.


"Boleh di bawa pulang nggak Bang?" Tanya Raya dengan wajah melow nya.


"Nggak boleh, mereka di lindungi. Kamu sudah punya sepuluh anak, sebentar lagi mau sebelas. Apa masih kurang?" Bang Seba balik bertanya.


"Yang sebelas khan orang Bang, yang ini baru hewan." Jawab Raya sudah memasang wajah mendung dan bersiap membuang hujan tangis.


Bang Seba membelai rambut Raya. "Bagaimana perasaan manusia jika di lepas di lingkungan hewan dan tidak ada spesies dirinya sama sekali?"


Raya menoleh dan terdiam tanpa kata mendengarnya.


"Mereka akan lebih nyaman berada pada lingkungannya meskipun hanya ada beberapa ekor saja dan mereka juga tidak selamanya akan berada disini. Nantinya mereka akan di lepaskan di alamnya. Lingkungan sesungguhnya, yang lebih cocok untuk mereka tempati." Bujuk Bang Seba. Sejak hamil Raya sudah tidak sering marah dan mencari perkara hanya saja sang istri lebih sering menangis karena hal yang terkadang sangat sepele.


Suatu ketika Bang Seba pernah tidak sengaja menggencet anak cicak saat menutup pintu padahal sejak beberapa jam Raya sampai tidak menutup pintu karena takut anak cicak tersebut mati.

__ADS_1


Flashback Bang Seba on..


"Abaaaaaaaaaanggg..!!!!!!!!!!"


Bang Seba sampai terlonjak kaget mendengar teriakan Raya.


"Astagfirullah.. ada apa dek??"


Raya bangun dari tidurnya dan melihat anak cicak tersebut sudah mati tergencet daun pintu.


"Baaang.. matiii..!!!" Pekik Raya.


"Apanyaaa???" Tanya Bang Seba bingung.


"Cicaknya Abang bunuh.. kenapa Abang nggak pelan-pelan, paling tidak Abang tanya ada makhluk hidup atau tidak."


gleekk..


'Ya Tuhan, perkara cicak saja aku langsung jadi tersangka pembunuhan.'


"Mana Abang tau dek. Sekarang Abang harus bagaimana nih??"


Bang Seba mengusap wajahnya. Sungguh ia tidak menyangka perubahan sikap Raya akan sedrastis ini hingga hal kecil saja bisa menjadi masalah besar.


"Ya sudah Abang cari rumah cicaknya dulu baru Abang sungkem, baca do'a banyak-banyak biar selamat." Jawab Bang Seba tidak ingin banyak berdebat.


...


"Lagi apa pot?" Tegur Bang Ilyas melihat Bang Seba sedang berjongkok di belakang rumah sembari bersikap seakan sedang membaca do'a.


"Ngubur mayat." Jawab Bang Seba usai menyelesaikan tugasnya.


"Astagfirullah.. innalilahi wa innailaihi Raji'un. Siapa yang nggak ada pot. Rayaa......"


"Heeehh sembarangan. Raya dan anak ku sehat saja. Ini mayat anak cicak." Kata Bang Seba kemudian beranjak dari tempatnya.


"Cicak??? Maksudmu bagaimana?? Ada apa dengan cicak itu??" Tanya Bang Ilyas sampai ikut syok tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


Bang Seba memasang wajah melasnya. "Sejak hamil Raya jadi melow. Hal kecil saja bisa jadi tak karuan. Aku tidak sengaja menggencet anak cicak sampai mati dan sekarang aku sedang kena BAP dari Raya. Nanti kalau ada acara do'a bersama. Tolong datang ya..!!"


Baru kali ini Bang Ilyas melihat Bang Seba mati kutu. Pria gagah itu seakan kehilangan taring, tak sanggup 'berperang' melawan istrinya. Terus terang hal itu sangat menggelikan bagi Bang Ilyas.


"Benarkah kehadiran seorang istri bisa membuat para pria kehilangan keberanian dan harga diri."


"Bukan kehilangan keberanian dan harga diri. Kau nanti juga akan paham kalau sudah punya istri." Jelas Bang Seba karena memang Bang Ilyas belum menikah.


"Baaaaang.. sudah apa belum??" Teriak Raya dari dalam rumah.


"Sudah ini lho, baru selesai." Jawab Bang Seba membuat Bang Ilyas terbahak-bahak.


Flashback Bang Seba off..


"Ya sudah, belikan makanan yang banyak untuk orang utan nya Bang. Jangan sampai dia kelaparan." Pinta Raya.


"Dengan kita mencintai alam dan membayar retribusi masuk daerah wisata sebenarnya sudah cukup membantu untuk memberi makan satwa." Jawab Bang Seba.


"Tapi mereka tidak makan seenak kita di luar sana. Makanan mereka hanya itu-itu saja. Raya kasihan Bang." Raya masih bersikeras ingin membantu orang utan tersebut karena merasa tidak tega.


"Dek, orang utan nggak makan pizza, fried chicken atau nasi Padang. Mereka hanya makan pucuk daun dan buah-buahan. Jangan berpikiran sampai sejauh itu. Mereka pasti baik-baik saja."


Akhirnya Raya pun memilih untuk tidak lagi berdebat masalah orang utan sampai akhirnya ponsel Bang Seba berdering nyaring. Tak lama Bang Seba berjalan menjauh, raut wajahnya juga terlihat sangat geram sampai akhirnya suami Raya itu mematikan panggilan teleponnya.


.


.


.


.


Saat mood Nara rusak total, hanya ingin tanya. Kontribusi apa yang sudah di berikan untuk karya Nara??? Jika tidak suka atau saat ini tidak nyaman dengan karya yang menurut anda sangat jauh dari harapan ( buruk ) lebih baik diam dan out. Nara bukannya TIDAK SUKA MENDAPAT KRITIK. Tapi kritik juga harus mendapatkan titik temu juga bagaimana caranya Nara mendapatkan hasil tanpa harus terpotong karya. Bagaimana????????


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2