Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S

Om Commando Vs Ketua Genk Jebeber'S
8. Tekanan berat.


__ADS_3

Raya menjerit dan merintih, ia menangis sesenggukan di dalam pelukan Bang Seba.


'Sungguhkah apa yang aku rasakan?? Apa Raya benar-benar masih gadis??'


"Abaaang.. sakiiiit.. Raya benci Abang." Ucap Raya mendayu manja di telinga Bang Seba.


Bang Seba mengangkat tubuhnya. Ia terhenyak dengan suara lembut khas seorang wanita dari Raya.


"Apa sesakit itu?" Tanya Bang Seba dengan bodohnya.


Raya benar-benar memercing kesakitan. "Abang masukin apa??" Raya pun terkesan sangat bodoh mempertanyakan hal yang mungkin sangat tabu.


"Yaaaa... Masukin.............."


"Apa Bang???? Ini sakit sekali." Rintih Raya, wajahnya kesal menatap Bang Seba, setelah beberapa lamanya Raya baru bisa terlepas dari kungkungan pria yang ada di hadapannya, lebih tepatnya berada di atas tubuhnya dan masih menindihnya.


Raya mendorong dada Bang Seba sekuatnya. Ada titik tangis di pipinya. Secepatnya ia menyambar pakaiannya dan menghindari Bang Seba.


Bang Seba ternganga, seketika pikirannya buntu. Ia menoleh dan jantungnya seakan lepas dengan sendirinya. "Ya Allah, pasti Raya sangat kesakitan sekali." Gumam Bang Seba. Bercak darah sudah menunjukkan bahwa Raya masih belum tersentuh oleh siapapun. "Aku harus bagaimana? Raya bilang akan memaafkanku kalau aku mabuk. Tapi kalau sadar???"


***


Sejak kejadian semalam, Bang Seba memilih untuk diam sebab Raya tidak kembali ke kamar. Ia juga masih menerka bagaimana sikap Raya padanya.


"Makanan apa ini?" Bang Seba sengaja mendorong omelette dan kentang goreng di atas nasi yang di hidangkan Raya.


"Makan saja..!!" Jawabnya menghindar dengan ketus. Cara jalan Raya pun sudah berbeda meskipun sesekali masih terlihat menahan rasa nyeri.


"Saya nggak bisa makan sembarangan, perut saya sensitif." Tolak Bang Seba memancing perkara.


"Apakah telur dan kentang tidak mengandung gizi? Bagian mana dari kedua makanan ini yang menunjukkan tingkat sensitifnya Abang?" Gerutu Bang Seba.

__ADS_1


"Telur, saya nggak bisa makan telur." Jawab Bang Seba asal.


Kening Raya berkerut pasalnya kemarin Raya sempat melihat bungkus sarapan pagi Bang Seba adalah nasi kuning dengan telur balado. "Sejak kapan??"


Bang Seba menyadari kebodohannya, tapi ia pun tetap bersikap tenang. "Barusan."


"Kalau mau makan.. cepat di makan..!! Kalau tidak cepatlah pergi ke kantor..!!" Perintah Raya malas memandang wajah Bang Seba.


"Saya...... Saya nggak bisa makan sendiri, tangan saya terkilir semalam." Katanya, namun melihat wajah datar Raya.. Bang Seba kembali mencari alasan. "Saya juga nggak tau kenapa bisa terkilir. Badan saya sakit semua."


Dengan wajah berang, Raya menyambar piring nasi Bang Seba lalu menyuapinya. Bang Seba menunduk diam bak seorang anak kecil yang sedang di suapi ibunya. Entah kenapa makan dari suapan tangan Raya terasa begitu nikmat.


"Seeebb.. minta semir sepatu..!!!!" Teriak Bang Ilham kemudian duduk di teras mess transit Bang Seba. "Seeeebbb..!!!!!"


Tak kunjung ada jawaban dari sahabatnya, Banh Ilham membuka pintu rumah tanpa permisi dan melihat Bang Seba sedang di suapi Raya.


"Manja amat lu.. Lagi patah tulang apa gimana?" Ledek Bang Ilham. Tapi wajah kesal Raya memang seakan menunjukkan kedekatan Raya dan Bang Seba hanya sebatas adik kakak. "Rayaaaa.. suapin Abang juga donk."


"Terima kasih tawarannya, saya nunggu Raya." Kata Bang Ilham tidak patah semangat.


"Raya nggak bisa banyak bergerak, lagi alergi bulu." Cegah Bang Seba dengan alasan andalannya.


"Bulumu buat alergi." Kini Bang Ilham yang berang sudah pandai saling berperang lidah.


...


Usai apel pagi Bang Seba menemui Bang Marsidi untuk di mintai penjelasan soal kejadian kemarin. Bang Marsidi juga merasa jengah karena atasannya itu seakan ikut campur dalam urusan percintaannya dengan Raya.


"Pertama saya keluar bukan di jam dinas dan kedua.. Anda tidak bisa mencegah saya mencintai siapapun." Kata Bang Marsidi.


"Silakan. Jika kamu meletakan hatimu untuk seorang wanita tapi perlu kamu ingat, Raya adalah milik saya dan tanggung jawab saya lahir batin." Jawab Bang Seba.

__ADS_1


Bang Marsidi tersenyum mengejek karena tidak mencerna kata-kata Bang Seba.


"Saya mampu menjaganya Dan..!!"


Sungguh saat ini Bang Seba tidak bisa menahan amarahnya, ia menghajar Bang Marsidi habis-habisan. Balasan dari Bang Marsidi pun di terima Bang Seba dengan tangan terbuka.


Suara ribut itu terdengar hingga keluar ruangan. Bang Ilham yang sedang melintas pun menjadi penasaran dengan suara itu dan membuka pintu ruangan Bang Seba.


"Astagfirullah hal adzim.. heeehh.. ada apa dengan kalian berdua????"


"Latihan..!!"


"Latihan..!!" Jawab keduanya kompak kemudian saling lirik.


"Latihan apa? Latihan memperebutkan wanita????" Kata Bang Ilham menegur kedua pria di hadapannya.


"Kalian berdua keluarlah dari ruangan saya..!!" Perintah Bang Seba.


Bang Marsidi menegakan badannya. "Saya ijin pamit Dan. Urusan kita belum selesai..!!"


"Apa kau bilang??? Jauhi Raya atau kau akan terima akibatnya..!!!" bentak Bang Seba.


"Ya Tuhan Seb.. kenapa setiap pria yang mendekati Raya selalu kau musuhi???"


Bang Seba menghantam meja di hadapannya. "Keluaaaarrr..!!!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2