om duda, merry me

om duda, merry me
Bab 37 : Gael kenapa


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah hati Gael itu di karenakan semalam ia terus berbalas pesan dengan Ica hingga tengah malam alhasil pagi ini Gael merasa bersemangat karna menurut nya Ica adalah moodboster, bunda Melisa dan yang lain menatap bingung ke arah Gael karna lelaki itu terus saja memasang senyum manis nya, padahal sejak kehilangan sang istri senyum itu tidak pernah lagi mereka lihat, tapi sekarang Gael bahkan tidak pernah meluntur kan senyum nya.


" El kenapa bun ?" Bisik ayah Hans pada sang istri membuat bunda Melisa megedikan bahu nya tanda tidak tau.


" Gak tau bunda juga heran, dari keluar kamar El udah senyum-senyum kaya gitu !" Jawab Bunda Melisa juga ikut berbisik seperti suami nya.


Ghiska tidak kalah heran melihat tingkah sang adik yang tidak seperti biasa nya, ia sampai bergidik ngeri melihat Gael yang terus saja tersenyum bak orang kurang waras.


" Kenapa dah itu anak senyum-senyum terus dari tadi kaya orang gila ?" Batin Ghiska menatap aneh sang adik.


" Yah, Bun El berangkat dulu, assalamuallaikum !" Pamit Gael sambil menyalami punggung tangan kedua nya bahkan Gael juga mengecup pipi ayah dan bunda nya, kebiasaan yang tidak pernah Gael lakuin lagi sejak ia lulus sekolah menengah atas.


Setelah Gael menghilang di balik pintu mereka langsung saling pandang atas tingkah Gael hari ini.


" Itu beneran El kan bun, gak lagi kerasukan jurik kan dia ?" Cerca Ghiska dengan wajah yang tidak percaya karna pasal nya tadi Gael juga menyalami nya dengan takzim.


" Sembarang kamu kalo ngomong kak, ya bener lah itu El, tapi iya sih kenapa ya tuh anak ?" Jawab Bunda Melisa membuat mereka kompak menggelengkan kepala seraya mangangkat bahu tidak tau.


" Udah lah biarin, mungkin El lagi bahagia maka nya dia kaya gitu !" Ucap Ayah Hans karna tidak ingin istri dan anak perempuan nya terus menebak-nebak.


" Iya sih, mungkin !" Jawab Ghiska ragu.


Tapi setelah itu ia langsung menggedikan bahu acuh, biarin saja lah yang penting Gael bahagia, begitu lah pikir Ghiska.


***


Sepanjang jalan memasuki kantor Gael masih terus menebar senyum nya sehingga seluruh karyawan yang berpapasan dengan nya melotot heran, pasal nya selama ini Gael di kenal sebagai atasan yang arogan dan bermulut pedas, tapi apa yang mereka lihat hari ini membuat mereka tidak percaya.


" Itu pak Gael kan, tumben dia senyum sama karyawan biasa nya datar banget tuh muka ?" Bisik salah satu karyawan dengan tatapan tak percaya.


" Iya yah kenapa tuh pak Gael, eh tapi doi makin ganteng gak sih kalo senyum kaya gitu !" Jawab rekan nya membuat yang lain menyoraki diri nya.

__ADS_1


Gael mendengar bisik-bisikan mereka tapi Gael tidak peduli karna sekarang mood nya sedang bagus dan ia tidak ingin kehilangan mood karna harus marah-marah.


" Selamat pagi Anya !" Sapa Gael dengan senyum lebar nya pada sang sekertaris dan langsung masuk tanpa menunggu balasan wanita itu membuat Anya menganga tidak percaya melihat nya.


" barusan beneran bos Gael bukan sih ?" Gumam Anya sambil menggaruk kepala nya yang sebenar nya tidak gatal.


Gadis itu pun memilih melanjut kan pekerjaan nya dari pada memikirkan tingkah sang bos yang aneh.


***


Berbeda dengan Gael yang sangat bersemangat hari ini, Ica justru malah harus bangun kesiangan gara-gara ia chetingan dengan Gael hingga tengah malam, beruntung hari ini ia kuliah siang kalau tidak sudah bisa di pastikan jika Ica akan terlambat.


" Gara-gara Om Ganteng nih !" Gerutu Uca merutuki Gael namun tak ayal senyum nya pun terbit mengingat isi chet mereka semalam.


" CA BANGUN DAH SIANG !" Pekik Enyak Romlah yang sudah ketiga kali nya bolak-balik ke kamar Ica untuk membangun kan anak gadis nya itu.


" IYE NYAK !" Sahut Ica dari dalam kamar dengab suara yang kalah nyaring.


Selesai dengan ritual mandi nya Ica pun segera bersiap untuk berangkat menuju kampus, Ica melangkah kan kaki nya menuju lantai bawah untuk mengisi perut nya yang sudah keroncongan.


" Dari tadi Enyak bangunin kaga mau bangun-bangun !" Omel Enyak Romlah begitu Ica memasuki dapur, terlihat sang ibu yang sedang membersih kan kompor.


" Kebablasan Nyak !" Jawab Ica dengan santai lalu langkah nya mengarah ke rak piring untuk dan mengambil piring.


" Tuh lauk nya udah Enyak pisahin !" Ucap Enyak Romlah saat melihat anak gadis nya celingukan setelah mengambil nasi.


" Sepi amat Nyak !" Celetuk Ica mendudukan diri nya di meja makan.


" Ya iyalah, lu liat tuh sekarang jam brpa, ya udah pada berangkat lah !" Jawab Enyak Romlah setengah menahan emosi.


" Heheheh, kirain Mpok Nita belom berangkat Nyak !" Ucap Ica seraya cengengesan dan segera melahap makanan nya karna ia tidak mau terlambat datang ke kampus.

__ADS_1


Setelah menyelesai kan sarapan nya Uca segera berpamitan pada Enyak Romlah untuk berangkat ke kampus.


" Ica berangkat dulu Nyak, assalamuallaikum !" Ucap Ica seraya menyalami punggung tangan Enyak Romlah.


" Iye hati-hati di jalan, wa'allaikum salam !" Jawab Enyak Romlah, Ica pun segera melenggang menuju halaman depan di mana motor nya terparkir.


Setelah memakai helm nya Ica pun langsung menggeber motor tersebut ke arah kampus, hari ini Ica tidak satu jadwal dengan ketiga teman nya karna mereka ada jam pagi.


Tidak lama kemudian motor yang di kendarai oleh Ica pun tiba di parkiran kampus dan lagi-lagi ia bertemu dengan kakak tingkat yang waktu itu di kantin, Rio.


" Hay, kita ketemu lagi !" Sapa Rio tapi Ica hanya tersenyum tipis menanggapi nya.


" Permisi kak !" Ucap Ica tidak memperdulikan sapaan Rio.


Baru saja Ica akan melangkah namun lengan nya sudah lebih dulu di cekal oleh Rio membuat Ica reflek menepis tangan itu


" Ups sorry, gua gak bermaksud !" Ucap Rio langsung mengangkat kedua tangan nya.


" Ada apa, saya rasa kita gak ada urusan !" Sahut Ica dengan nada datar dan melipat tangan nya di dada.


" Gua cuma pengen kenal sama lu, dan kita bisa berteman !" Ucap Rio sementara Ica hanya memutar bola mata nya malas mendengar perkataan lelaki itu yang entah kenapa Ica tidak suka melihat wajah nya, walau pun Rio adalah satu mahasiswa terganteng di kampus.


" Bukan nya kaka sudah tau nama saya jadi saya rasa itu sudah cukup, saya permisi !" Jawab Ica dan langsung melangkah kan kaki nya meninggalkan Rio di parkiran, setelah kepergian Ica nampak raut wajah Rio yang berubah menjadi kesal dan tidak seramah tadi.


" Sial, sombong banget tuh cewe !" Umpat Rio dan beranjak meninggalkan parkiran.


*


*


*

__ADS_1


Jejak, jejak, jejak ya besty 😘😘😘😘😘


__ADS_2