om duda, merry me

om duda, merry me
Bab 43 : Gael bimbang


__ADS_3

Sejak semalam Gael terus saja uring-uringan akibat gagal menyatakan perasaan nya pada Ica sang gadis pujaan hati nya karna ulah nya sendiri yang terlalu pengecut.


Dan tiba-tiba saja semalam Gael teringat lagi akan ucapan sang keponakan yang mengatakan jika Ica tidak mau berpacaran dan lebih memilih langsung menikah jika ada yang melamar.


Seketika otak Gael kembali terang saat mengingat itu, dan Gael memutus kan untuk berbicara dengan kedua orang tua nya lebih dulu untuk meminta pendapat juga restu.


" Nekat aja lah, urusan di terima apa di tolak belakangan, lagian cowo ganteng begini gak mungkin di tolak kan !" Gumam Gael sambil senyum-senyum sendiri seperti ODGJ.


Gael langsung menemui kedua orang tua nya yang sedang bersantai di halaman belakang karna hari ini adalah hari weekend.


" Ayah, bunda !" Panggil Gael menghampiri kedua orang tua nya membuat Ayah Hans dan Bunda Melisa menengok ke arah nya.


" Ada apa El ?" Tanya bunda Melisa sedangkan ayah Hans hanya mengangkat sebelah alis nya bermaksud bertanya pada Gael.


Sebelum menjawab pertanyaan bunda Melisa, Gael lebih dulu berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja melanda diri nya.


" Emm El mau ngomong penting sama Ayah dan Bunda !" Jawab Gael gugup.


" Ngomong apa, kaya nya penting banget sampe kamu gugup begitu ?" Tanya Bunda Melisa lagi.


" El mau ngelamar Ica temen nya Caca bunda !" Sahut Gael sontak saja membuat ayah Hans yang sedang meminum kopi langsung tersedak.


" Ayah pelan-pelan minum nya ih !" Omel Bunda Melisa sambil menepuk-nepuk punggung sang suami.


" Kamu jangan bercanda El !" Sentak Ayah Hans saat ia berhasil menghilangkan rasa sakit di tenggorokan nya akibat tersedak saat memdengar ucapan sang anak.

__ADS_1


" El serius yah, El gak bercanda kalo mau ngelamar ARISSA sahabat nya Caca !" Sahut Gael tidak kalah serius membuat ayah Hans memijat kening nya pusing.


" Dia seusia keponakan kamu El dan juga sahabat Caca apa kamu mau menjadi pedofil hem, Dan apa gadis itu mau mengingat status kamu saat ini yang ehm maaf, duda, kamu pasti mengerti maksud ayah ?" Ucap Ayah Hans membuat Gael menghela nafas nya, bahkan ayah nya saja berfikir jika ia pedofil yang menyikai gadis seusia ponakan nya, tapi apa boleh buat hati Gael sudah terlanjur terpatri dengan Ica.


" El bukan pedifil ayah karna usia Ica yang sudah lebih dari 17 tahun, dan untuk masalah dia mau sama El itu El gak tau yang jelas El bakal berjuang buat dapetin dia, karna hanya dia yang bisa membuat El mampu menghilangkan mimpi buruk itu , tapi mengingat sikap yang dia tunjukan pada El, El rasa dia juga punya rasa yang sama dengan El !" Sahut Gael mencoba tenang.


Ayah Hans menghela nafas nya kasar seraya meminjat kening nya, apakah sang anak sudah putus asa karna kelamaan sendiri hingga sabatan dari ponakan nya ia embat, begitulah pikir ayah Hans.


" Apa gak ada wanita lain El, kenapa harus teman ponakan kamu sendiri? Oke lah jika gadis itu juga menyukai kamu tapi apa keluarga nya bisa terima itu semua, kamu duda El dan usia kamu sudah cukup matang, sedangkan dia masih seorang gadis remaja yang baru saja menikmati rasa nya menjadi mahasiswi !" Cetus ayah Hans tidak habis fikir.


" Ayah !" Tegur bunda Melisa menggeleng ka. Kepala nya karna tidak ingin ayah dan anak itu beradu agrument.


" El apa kamu sudah fikirin ini semua matang-matang, ucapan ayah kamu gak semua nya salah dan bunda juga setuju sama apa yang di bilang sama ayah, bukan kah lebih baik kamu bicara lebih dulu dengan gadis itu dan baru nanti kalian bisa fikirkan lagi mau gimana ke depan nya, bunda dan ayah pasti mendukung apapun yang menjadi pilihan kamu !" Ucap bunda Melisa dengan nada suara yang terdengar lembut si telinga Gael membuat lelaki itu menunduk dalam.


" Terua El harus gimana bun, cuma Ica yang bisa membuat El melupakan semua nya, dan karna Ica juga hidup El menjadi lebih berwarna setelah kepergian Vera !" Jawan Gael dengan sendu.


" Kalo boleh bunda kasih saran lebih baik kamu jujur dulu dengan gadis itu, lalu kamu ambil hati keluarga nya, masalah mereka mau terima kamu atau engga dengan status kamu yang sekarang itu urusan belakangan, yang penting kamu udah berusaha memperjuang kan dia, dan inget El kalo jodoh itu gak akan kemana mau dia melangkah sejauh apapun jika memang dia milik kamu pasti akan kembali lagi pada kamu !" Ucap bunda Melisa.


Dan pada akhir nya Gael pun hanya mampu mengangguk pasrah mendengar ucapan sang bunda, dan ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar nya karna merasa pembicaraan ini sudah cukup.


" Baik lah ayah, bunda terima kasih atas nasihat nya, kalo gitu El balik ke kamar dulu yah, bun !" Ucap Gael langsung beranjak dari duduk nya dan melangkah kembali menuju kamar nya di lantai atas.


Semangat yang tadi sempat berkobar kini harus di paksa lenyap saat mendengar penuturan kedua orang tua nya, Gael tau maksud ayah dan bunda nya bicara seperti itu tapi entah kenapa Gael juga merasa hati nya bimbang saat ini.


Gael ingin sekali mengungkap kan perasaan nya pada Ica tapi Gael juga takut di tolak oleh gadis itu saat kembali mengingat tentang usia dan status nya saat ini.

__ADS_1


" Ya allah kenapa harus kaya gini sih, kenapa hati aku harus terpatri dengan nya, apa memang dia jodoh ku ?" Gumam Gael saat ini sudah merebahkan diri nya di kasur.


Karna merasa pikiran nya kacau Gael memilih untuk sholat dhuha agar pikiran nya kembali tenang.


Setelah selesai melaksanakan sholat nya Gael pun beranjak menuju ruang kerja nya, Ya. Gael lebih memilih mengerjakan pekerjaan kantor nya walau ini weekend agar ia teralihkan dari rasa gundah yang mendera hati nya.


Waktu makan siang sudah tiba tetapi Gael sama sekali tidak berniat beranjak dari ruang kerja nya, ia masih tetap fokus pada layar komputer di hadapan nya hingga suara ketukan pintu mengalih kan tatapan Gael dari layar tersebut.


TOK TOK TOK


" Masuk !" Pekik Gael dari dalam dan tidak lama pintu pun langsung terbuka dan ternyata adalah Carol sang keponakan.


" Ada apa Ca ?" Tanya Gael.


" Di suruh turun buat makan siang sama oma !" Jawab Carol dan di angguki oleh Gael.


" Ya udah kamu duluan aja, Uncle rapihin ini dulu sebentar !" Ucap Gael dan Carol pun segera keluar dari ruang kerja sang Uncle.


Gael segera membereskan meja kerja nya karna tidak ingin membuat kedua orang tua nya menunggu terlalu lama.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2