om duda, merry me

om duda, merry me
Ban 54 : Kepergok


__ADS_3

Ica berusaha menutupi wajah nya dengan kemeja yang sedang ia pegang, namun tetap saja orang yang memanggil nya sudah lebih dulu melihat diri nya.


" Lu ngapain di sini Ca ?" Tanya orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Rivan, sahabat Ica.


" Hehehe, lu ngapain di sini ?" Bukan menjawab pertanyaan Rivan Ica malah balik bertanya pada lelaki itu membuat Rivan mendengus sebal.


" Lah ya mau beli kemeja dong Ca, masa nyari nomer togel sih, ngaco lu mah ah !" Jawab Rivan nyeleneh.


" Lu sendiri ngapain di sini ?" Tanya Rivan lagi.


" Ya sama lah gua juga mau beli kemeja, masa mau beli gemblong !" Jawab Ica tidak kalah nyeleneh membuat Rivan berdecak.


" Kemeja buat siapa ?" Tanya Rivan mengernyit kan dahi heran pasal nya teman nya itu tidak pernah membeli kemeja laki-laki.


Belum sempat Ica menjawab Gael sudah lebih dulu hadir dan membuat Rivan semakin tercengang kala mendengar panggilan lelaki itu sahabat nya.


" Udah nemu kemeja nya Yang ?" Tanya Gael membuat Ica menepuk kening nya seraya berkomat-kamit.


" Ca bisa jelasin sama gua ?" Ucap Rivan membuat Gael spontan melihat ke arah nya karna sedari tadi ia tidak menyadari keberadaan Rivan karna focus nya hanya pada Ica seorang.


" Loh kamu bukan nya teman nya Ica ?" Tanya Gael seraya menunjuk pada Rivan membuat lelaki itu mengangguk kaku mengiyakan.


" Iya !" Jawab Rivan singkat.


" Gua bakal jelasin tapi nanti, sekarang gua cabut dulu ada urusan !" Ucap Ica dan segera menarik Gael untuk kabur dari hadapan Rivan.


Rivan mendengus kesal melihat tingkah sahabat abaurd nya itu, dan mau tak mau ia harus menahan rasa penasaran nya hingga nanti Ica menjelaskan.


Sedangkan di posisi kedua sejoli itu Gael menatap heran ke arah sang kekasih karna Ica yang menarik diri nya seperti sedang di kejar setan.


" Kenapa lari sih Yang, itu kenapa temen kamu di tinggal ?" Tanya Gael saat mereka menghentikan langkah nya.

__ADS_1


" Sabar Mas Ica atur nafas dulu !" Jawab Ica yang ngos-ngosan akibat berlari.


" Mas beliin minum dulu ya !" Tawar Gael tapi di tolak oleh Ica.


" Gak usah Mas !" Jawab Ica menahan langkah Gael.


" Ya udah kita duduk dulu di situ !" Tunjuk Gael pada kursi yang tersedia dan Ica pun menurut tanpa membantah.


" Kenapa tadi lari sih Yang ?" Tanya Gael lagi karna ia tidak mengerti kenapa Ica malah menarik diri nya dan meninggalkan sahabat nya.


" Tadi Rivan sahabat Ica Mas, kalau sampe dia tau Ica pacaran sama Mas bisa gawat, nanti dia ngadu ke bang Arshad !" Jawab Ica setelah nafas nya kembali normal.


" Kamu malu karna pacaran sama Mas ?" Tanya Gael menatap dalam manik mata Ica membuat Ica gelagapan salah tingkah.


" Bukan itu maksud nya ih !" Ucap Ica sambil menepuk pelan punggung Gael.


" Terus apa ?" Tanya Gael lagi.


Ica menatap Gael tidak yakin, karna Ica takut Gael kecewa jika nanti ia menjelaskan secara jujur, tapi Ica tidak ingin membuat Gael salah paham pada nya.


Tapi tanpa Ica duga Gael malah tersenyum lembut ke arah nya.


" Mas ngerti Yang, harus nya Mas yang minta maaf sama kamu, karna usia dan status Mas sekarang kamu jadi harus melanggar ucapan abang kamu, maafin Mas ya tolong jangan tinggalin Mas !" Ucap Gael sambil menggenggam tangan Ica dengan lembut, tersirat akan ketakutan di mata Gael.


" Mas gak marah karna bang Arshad menentang hubungan kita ?" Tanya Ica dan di balas gelengan kepala oleh Gael.


" Engga, Mas paham kalau kamu itu sangat berharga di keluarga kamu, dan wajar jika abang kamu khawatir jika adik nya menjalin hubungan dengan lelaki yang usia nya jauh di atas kamu terlebih dengan status nya yang duda, Mas akan anggap ini sebagai rintangan untuk mendapat kan kamu !" Jawab Gael dengan bijak.


" Ica gak peduli usia atau pun status Mas sekarang, karna yang Ica mau cuma OM DUDA, MARRY ME !" Ucap Ica dengan lantang membuat Gael tersenyum bahagia.


" Tanpa kamu minta pun Mas akan menikahi kamu Yang !" Jawab Gael dan mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


****


Sedangkan orang yang sedang mereka omongin malah sedang kelabakan karna sang istri yang terus saja mual karna kehamilan pertama nya, Ya Zahra saat ini tengah mengandung benih dari seorang Arshad, kaka pertama Ica yang sangat posesif terhadap adik-adik nya.


" Masih mual sayang ?" Tanya Arshad pada Zahra seraya membantu sang istri memijat tengkuk nya.


" Sedikit Bang !" Jawab Zahra karna tidak ingin membuat sang suami khawatir.


" Abang bikinin teh anget dulu ya sebentar, biar mual nya ilang !" Ucap Arshad tetapi di tolak oleh Zahra.


" Gak usah bang, emm bang Zahra boleh minta sesuatu ?" Tanya Zahra ragu.


" Kamu mau apa sayang, hemm ?" Jawab Arshad dengan lembut karna selama kehamilan Zahra yang memasuki usia 8 minggu istri nya itu belum pernah meminta sesuatu, dan sekarang Zahra mengucap menginginkan sesuatu membuat Arshad semangat 45.


" Zahra pengen makan nasi bebek bang, tapi bebek nya harus yang jantan !" Cicit Zahra membuat Arshad melongo tidak percaya.


" Sayang kalo buat nasi bebek pasti abang turutin, tapi mana abang bisa beda'in bebek jantan sama bebek betina !" Jawab Arshad membuat mata Zahra berkaca-kaca.


" Zahra gak tau bang, tapi dedek mau nya yang kaya gitu hiks !" Ucap Zahra bahkan saat ini ia sudah sesegukan membuat Arahad kalang kabut melihat nya.


" Eh eh jangan nangis dong sayang, oke ayah bakal cariin nasi bebek yang bebek nya jantan, bunda jangan nangis lagi ya !" Bujuk Arshad seraya mengelus perut datar sang istri.


" Dedek tunggu sebentar ya sama bunda, ayah mau cari nasi bebek yang dedek mau !" Ucap Arshad pada calon anak nya.


" Abang pergi dulu ya, kamu tunggu di sini oke !" Lanjut Arshad pada sang istri dan di balas anggukan oleh Zahra.


" Jangan lama !" Pinta Zahra dengan nada manja dan di angguki oleh Arshad.


" Iya sayang !" Jawab Arshad kemudian ia pun keluar dari kamar untuk mencari nasi bebek, ngidam pertama sang istri yang langsung membuat nya pening tujuh keliling.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2