OTW Jadi SUHU

OTW Jadi SUHU
22


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Tuan Lio, Gibran beristirahat selama beberapa jam sampai akhirnya pria itu kembali lagi dihampiri oleh Tuan Lio.


"Terima kasih,," kata pria itu segera menjabat tangan Gibran dengan sebuah senyum bahagia di wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Gibran yang tidak mengerti dengan ucapan terima kasih yang tiba-tiba dari pria itu.


"Uang tersebut masih aman, dan kami sudah mendapatkannya," ucap Tuan Lio.


"Ahh, ya, Tapi beberapa lembar uang itu saya berikan ke kurir karena saat itu saya tidak memiliki sepeserpun uang, jadi saya mengambilnya," kata Gibran yang merasa bersalah terhadap beberapa uang itu, tetapi Tuan Lio sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Jangan khawatir, itu hanya jumlah kecil saja, tidak terlalu penting," jawab Tuan Lio.


Gibran menganggukkan kepalanya, lalu kedua orang itu pun berbincang-bincang beberapa saat sampai akhirnya Tuan Lio mendapat telepon untuk menghampiri seseorang.


Maka setelah Gibran kembali sendirian dalam ruangan tempat ia berada, lalu pria itu pun teringat akan kekuatannya dan dia hendak mencobanya.

__ADS_1


Ia melihat keluar jendela, di mana di luar jendela cuaca sedang sangat cerah, jadi dia menajamkan tatapannya ke sebuah ranting kecil yang ada di sana dan ranting itu pun terbakar.


Tidak puas dengan satu percobaan, Gibran mengulangi beberapa percobaan lainnya hingga pria itu menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Saat ini kekuatannya bisa digunakan, tetapi kemarin sama sekali tidak bisa digunakan!!!" Gerutu Gibran yang merasa ketakutan setiap kali dia mengingat apa yang ia alami kemarin, hampir saja mati, dan terlebih melihat seorang perempuan yang mati tepat di hadapannya.


"Ahh,,, Tunggu dulu, beberapa kekuatan dalam novel juga memiliki kelemahan, kalau begitu aku harus mencari kelemahan dari kekuatan ini, kapan kekuatan ini bisa digunakan dan kapan tidak bisa digunakan," ucap Gibran dalam hati sembari melirik ke arah jam dinding yang terletak di dalam ruangan tempat ia berada.


"Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku saat malam hari, waktu itu sekitar tujuh malam sampai jam 11.00 malam. Tapi ketika aku berada di kebun yang terkena banjir, saat itu waktunya juga sama, ataukah saat itu subuh hari?" Gibran memiringkan kepalanya memikirkan masalah itu.


Sampai pada waktu menjelang malam hari ketika cahaya matahari sudah menghilang, Gibran yang berusaha menggunakan kekuatannya membakar ranting-ranting kecil pada pohon yang ada di luar ruangan kini tidak bisa lagi menggunakan kekuatan tersebut.


"Oh, kekuatannya tidak berfungsi saat matahari sudah tenggelam," ucap pria itu menganggukkan kepalanya lalu dia pun kembali berbaring di tempat tidur.


Beberapa saat berbaring, pintu diketuk oleh seseorang.

__ADS_1


Tok tok tok...


Clek!


Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria berpakaian serba putih yang kembali masuk ke dalam ruangan, lalu pria itu pun mengecek kondisi Gibran.


Setelah memastikan bahwa pria itu sudah semakin baik maka dokter tersebut pun melepaskan beberapa alat dari tubuh Gibran kecuali infus yang masih tetap dipasang di sana.


"Apakah sekarang saya sudah bisa berjalan-jalan?" Tanya Gibran yang merasa bosan terus berada di kamar itu sepanjang hari.


"Ya," jawab dokter itu berjalan ke sudut ruangan mengambil kursi roda yang diletakkan di sana Lalu membawanya ke sisi ranjang Gibran.


"Kalau kau mau jalan-jalan, kau bisa menggunakan ini, Ini adalah kursi roda elektrik Jadi kau hanya perlu menyalakannya dengan menekan tombol ini dan gunakan tuas ini untuk menjalankan kursi rodanya baik ke belakang maupun ke depan." Kata Sang dokter menjelaskan fitur yang ada pada kursi roda itu.


Gibran menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa ia mengerti, lalu pria itu pun segera turun dari tempat tidur dibantu oleh sang dokter dan menaiki kursi roda.

__ADS_1


Gibran menjalankan kursi roda itu keluar dari ruangan tempat ia berada dan dia segera berjalan-jalan di sisi bangunan tersebut melihat pemandangan taman di malam hari.


__ADS_2